Kamis, 14 Juli 2016

MERAJUT KEBEBASAN BERJALAN MENUJU TUHAN MELALUI AJARAN TASAWUF



Arif Muzayin Shofwan
Nama saya Arif Muzayin Shofwan, dan biasa dipanggil Arif Klenik. Dipanggil demikian, karena memang saya suka hal-hal yang berbau klenik seperti berkunjung ke tempat-tempat keramat, kuburan para kiai atau wali, sandranan-sadranan desa atau dusun, petilasan tokoh-tokoh agung dan semacamnya. Bukan maksud saya berziarah ke tempat-tempat tersebut untuk berbuat syirik (menyekutukan Tuhan), tetapi saya hanya ingin mengkaji sejarah kehidupan dan perjuangan para tokoh yang telah wafat tersebut. Saya merupakan salah satu aktifis The Post Institute Blitar dan dipercaya sebagai ketua divisi multikultural, yang mana dalam sisi tertentu juga harus fokus pada kajian pesantren dan Hak Asasi Manusia (HAM). Di lembaga tersebut memang ada dua nama Arif yang memiliki kesukaan berbeda, yakni: saya dan Arif Agus Setiawan. Nama yang saya sebut ini sering dipanggil dengan Arif Aidit, Arif Musik, dan terakhir Arif Loundry. Tak ada kisah yang tertulis dalam buku dan kitab suci apapun mengapa dia harus dipanggil dengan ketiga sebutan tersebut. Namun sejauh yang saya ketahui, hal tersebut hanya untuk membedakan dua nama Arif yang berbeda dalam satu lembaga.
Ada banyak pengalaman menarik yang saya peroleh di The Post Institute, yakni sebuah NGO yang dipimpin oleh Mawan Mahyuddin. Saya pernah diberi kepercayaan oleh Mas Mawan, panggilan akrab Mawan Mahyuddin untuk mengisi kajian tentang jalan menuju Tuhan. Sebenarnya saya juga agak ragu untuk mengkaji topik semacam itu. Bagaiamana tidak ragu, saya sendiri juga belum pernah menuju dan bertemu Tuhan. Namun, kesempatan yang diberikan Mas Mawan tersebut saya gunakan semaksimal mungkin. Saya masih ingat, bahwa kajian tersebut terangkai pada bulan Ramadhan menjelang Maghrib dan menjelang makan sahur. Ada banyak kawan yang mengikuti kajian tersebut di antaranya; beberapa aktifis Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), ustadzah dari MAMNU Blitar, ustadz Madrasah Diniyah (MADIN), guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan aktifis-aktifis lainnya. Adapun yang paling menyenangkan, kajian tersebut juga dihadiri empat inteljen dari pihak kepolisian Resort Blitar.
Pengalaman mengisi kajian di The Post Institute tersebut, saya awali manakala memberikan materi bertema “Jalan Menuju Tuhan Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef Kedunglo Kediri”. Dalam kajian tersebut, saya mengupas biografi Kiai Haji Abdoel Madjid yang merupakan penyusun shalawat Wahidiyyah. Saya menceritakan bahwa Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef lahir pada tahun 1920 masehi. Beliau merupakan salah satu putra Kiai Haji Muhammad Ma’roef, seorang kiai pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri. Saya ceritakan pula bahwa kedua tokoh tersebut merupakan orang yang berpengaruh di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Begitu pula, Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef pernah menjabat sebagai anggota Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Kodya Kediri.
Setelah saya menceritakan biografi Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef sebagaimana di atas, lalu saya menceritakan bagaimana awal mula beliau menyusun shalawat Wahidiyyah. Saya ceritakan bahwa, bermula pada bulan Juli 1959, Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef menerima isyarah gaib dalam keadaan terjaga dan sadar agar dirinya “mengangkat nasib masyarakat”. Dalam isyarah gaib tersebut, Kiai Abdoel Madjid Ma’roef diperintah agar memperbaiki dan membangun mental masyarakat khususnya dengan jalan bathiniyyah berupa kesadaran (makrifat) kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Mula-mula dia mendapat isyarah gaib agar memperbanyak shalawat Badawiyah karya Syaikh Ahmad al-Badawi, shalawat Nariyah karya Syaikh Abdul Wahab al-Tazi, shalawat Munjiyat karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan shalawat Masyisiyah karya Syaikh Abdus Salam bin Masyisyi untuk memperbaiki dan membangun mental masyarakat. Selanjutnya muncul isyarah gaib kedua agar dia segera berusaha memperbaiki dan membangun mental masyarakat melalui rangkaian bacaan shalawat yang pada akhirnya dikenal dengan nama shalawat Wahidiyah.
Saya juga menerangkan dalam kajian tersebut bahwa Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef memiliki “Enam Ajaran Wahidiyah” dalam menuju Tuhan, yaitu: Pertama, li Allah: artinya segala amal perbuatan apa saja, baik yang berhubungan langsung kepada Allah dan Rasul-Nya saw, maupun yang berhubungan dengan masyarakat luas, dengan sesama makhluk pada umumnya, baik yang wajib, sunnah atau boleh (wenang; Jawa), asal bukan perbuatan yang merugikan atau bukan perbuatan yang tidak diridhai Allah harus diniati untuk mengabdikan diri kepada Allah swt dengan ikhlas tanpa pamrih. Yakni li Allah (semata-mata karena Allah), bukan li ghair Allah (selain Allah). Dari sini, tentu saja saya berharap mudah-mudahan apa yang dilakukan para aktifis The Post Institute selalu didasari dengan niat li Allah, artinya hanya karena Allah semata dan bukan yang lainnya.
Kedua, bi Allah: artinya kapan dan dimanapun berada senantiasa menyadari bahwa segala sesuatu termasuk gerak gerik dirinya, baik lahir maupun bathin disebabkan atas pertolongan Allah swt semata. Seorang hamba tidak boleh mengaku atau merasa bahwa perbuatan yang dia lakukan adalah atas kekuatan dan kemampuan dirinya. Melalui ajaran ini, Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef ingin mengajak pada semua manusia agar selalu menerapkan prinsip “Laa Haula wa Laa Quwwata illa bi Allah” yang artinya tiada daya dan kekuatan melaksanakan segala sesuatu melainkan atas pertolongan Allah swt. Dari prinsip itulah muncul ajaran “bi Allah” (segala sesuatu yang dikerjakan atas pertolongan Allah swt semata). Bagi saya, ajaran ini mengajarkan betapa manusia memang tidak memiliki kekuatan apapun di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa.
Ketiga, li al-Rasul: yakni sebuah ajaran yang mengajak manusia agar senantiasa menyadari bahwa segala amal perbuatan apa saja, asal bukan perbuatan keji dan mungkar, bukan perbuatan yang melanggar syariat, baik lahir maupun bathin, hendaknya diniati karena mengikuti Rasulullah saw semata. Dalam hal ini, saya jelaskan pula bahwa ajaran li al-Rasul (karena mengikuti Rasulullah saw) tersebut oleh Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef didasarkan pada firman Allah swt: “Dan taatlah kepada Allah (li Allah) dan Rasulnya (li al-Rasul), jika kalian semua orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anfal: 1) dan “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah (li Allah) dan taatlah kepada Rasul (li al-Rasul) dan janganlah kalian semua merusakkan amal-amal kalian” (QS. Muhammad: 33). Bagi saya, ajaran ini mengajarkan bagiamana orang Islam bisa secara utuh (kaffah) mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw.
Keempat, ajaran bi al-Rasul: yakni sebuah ajaran yang mengajarkan agar senantiasa menyadari dan merasa bahwa segala ibadah lahir maupun bathin yang dilakukan seorang hamba merupakan buah jasa dari Rasulullah saw. Seorang hamba hingga sekarang ini bisa melaksanakan syariat Islam sebab jasa-jasa perjuangan Rasulullah saw. Untuk itu, seorang hamba harus sadar “bi al-Rasul” dalam melaksanakan ibadah apapun, baik lahir maupun bathin. Dalam hal ini, saya juga menyebutkan bahwa firman Allah swt yang menunjukkan bahwa seorang hamba harus menyadari jasa-jasa Rasulullah saw tercermin dalam ayat “wa maa arsalnaaka illa rahmatan li al-alamiin”, artinya dan tiada Aku mengutus Engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta (QS. Al-Anbiya’: 107). Dengan demikian, bagi saya, diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam hendaknya harus selalu disyukuri oleh seorang hamba.
Kelima, yukti kulla dzii haqqin haqqahu: yakni sebuah ajaran yang mengajarkan agar seseorang senantiasa berusaha memenuhi segala bidang kewajiban kepada yang berhak. Seseorang hendaknya mengutamakan pemenuhan kewajiban di segala bidang yang dia lakukan sehari-hari, baik kewajiban kepada Allah swt, Rasul-Nya, maupun segala kewajiban yang berhubungan dengan sesama. Kewajiban kepada Allah swt misalnya seorang hamba wajib melaksanakan segala perintah-Nya, disamping dia juga memiliki hak untuk mendapatkan pahala dari sisi-Nya. Kewajiban kepada sesama manusia, misalnya seorang suami mempunyai kewajiban menafkahi seorang istri di samping dia juga mempunyai hak memperoleh pelayanan seorang istri tersebut dengan baik. Bagi saya, ajaran ini bisa pula diterapkan bagi para aktifis NGO yang harus terus berusaha memberikan layanan sebaik mungkin kepada mereka yang berhak menerima pendampingan.
Keenam, taqdim al-aham fa al-aham tsumma al-anfa’ fa al-anfa’: yakni sebuah ajaran yang mengajarkan bahwa seseorang yang melaksanakan melaksanakan kewajiban-kewajiban atau tugas-tugasnya, hendaknya mendahulukan yang lebih penting (al-aham). Apabila keduanya sama-sama penting, maka harus memilih yang lebih bermanfaat (al-anfa’). Kemudian apabila keduanya sama-sama lebih bermanfaat, maka harus memilih yang lebih bermanfaat lagi, dan seterusnya. Dalam hal ini, Kiai Haji Abdoel Madjid Ma’roef menyatakan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan Allah swt dan Rasul-Nya saw, terutama sesuatu yang wajib dipandang sebagai hal yang lebih penting (al-aham). Begitu pula, hal-hal yang bermanfaat bagi umat mengenai ajaran Islam, harus dipandang sebagai hal yang lebih bermanfaat (al-anfa’) dibanding yang lain. Bagi saya, seorang aktifis NGO sudah selayaknya mendahulukan hal-hal yang lebih penting (al-aham). dan lebih bermanfaat (al-anfa’) dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.
Setelah kajian di atas usai, maka pada minggu kedua saya memberikan kajian lagi dengan tema “Kajian Kitab Syarh al-Hikam: Jalan Menuju Tuhan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari”, tepatnya saat malam menjelang sahur di bulan Ramadlan. Kitab yang saya sebut ini sering dikaji oleh Kiai Haji Imron Jamil di Radio Mayangkara Blitar dan areal Makam Syaikh Dimyati Baran, Selopuro, Blitar. Perlu diketahui pula bahwa kiai satu ini merupakan murid Kiai Haji Abdul Jalil Mustaqim, seorang mursyid tharikah Syadziliyah dan pengasuh Pondok PETA Tulungagung. Selanjutnya, sudah menjadi ciri khas bagi saya, bahwa manakala memberikan kajian, tentu terlebih dahulu memberikan pembahasan tentang biografi tokoh tersebut. Sebab bagi saya, biografi seorang tokoh sangat penting dipelajari manakala seseorang ingin menempuh perjalanan spiritual darinya.
Saya menguraikan dalam kajian tersebut bahwa nama lengkap Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abdul Karim ibn Abdurrahman ibn Ahmad ibn Isa ibn al-Husain ibn Athaillah al- Judzami al-Maliki al-Sakandari. Dia merupakan keturunan Arab yang diperkirakan lahir pada tahun 658 Hijriyah di kota Iskandariah, Mesir. Dia disebut “al-Judzami” sebab dinisbatkan kepada nenek moyangnya yang berasal dari Judzam, sebuah kabilah Kahlan yang bermuara pada Ya’rib ibn Qahthan, Arab. Sementara disebut “al-Maliki” sebab dia merupakan penganut madzhab Imam Malik. Adapun sebutan “al-Syadzili” sebab dia merupakan penganut tharikat Syadziliyah. Dia berguru tharikah tersebut kepada Syaikh Abu al-Abbas al-Mursy, yakni murid sang pendiri tharikah Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 1258 M).
Selanjutnya, saya juga menguraikan perjalanan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari dalam menapaki berbagai ilmu pengetahuan hingga menjadi ahli tasawuf terkenal. Saat remaja, Ahmad bin Athaillah belajar fikih kepada seorang ulama terkenal bernama Syaikh Nashiruddin al-Mimbar al-Judzami. Pada mulanya Ahmad bin Athaillah sangat menentang ajaran tasawuf, sebab dia memang dilahirkan dari keluarga yang anti tasawuf. Sebelum Ahmad bin Athaillah berguru kepada Syaikh Abu al-Abbas al-Mursy, dia merupakan salah satu orang yang menentang ajaran al-Mursy. Namun setelah Ahmad bin Athaillah mendatangi majelis pengajian al-Mursy, dia lalu merasakan bagaimana indahnya ajaran tasawuf. Dari al-Mursy inilah, dia akhirnya berfokus pada ajaran tasawuf dan menjadi seorang sufi. Bagi saya, kisah ini mengajarkan indahnya perjalanan hidup manusia yang penuh makna. Ada sebagian orang yang dari awal sangat alergi, tetapi justru pada akhirnya malah menggauli bahkan bersenggama dengan ajaran tersebut sampai akhir hayatnya.
Saya juga menjelaskan bahwa Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari menyusun tak kurang dari 22 kitab lebih, di antaranya: Kitab Al-Hikam al-Atha’iyyah, Kitab al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, Kitab Lata’if al-Minan fi Manaqib al-Syaikh Abi al-Abbas al-Mursy wa Syaikhihi al-Syadzili Abi al-Hasan, Kitab Taj al-‘Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus, Kitab Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah fi Dzikri Allah al-Karim al-Fattah, dan Kitab Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad. Kitab yang saya sebutkan terakhir inilah konon memang dirancang untuk menghadapi serangan Syaikh Ibnu Taimiyyah yang menolak ajaran tasawuf. Bagi saya, apa yang dilakukan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari manakala menyusun kitab terakhir tersebut sudah tepat. Artinya, pemikiran (al-fikrah) harus dilawan dengan pemikiran (al-fikrah) pula, bukannya dilawan dengan fisik seperti yang dilakukan para penganut Islam radikal atau garis keras sebagaimana yang sering ditayangkan di televisi atau tertulis di majalah dan koran.
Setelah panjang lebar saya menceritakan biografi Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari, lalu saya lanjutkan mengkaji “Kitab Syarh al-Hikam” karya monumentalnya. Dalam kajian tersebut saya sampaikan bahwa kitab tersebut memuat 127 kata mutiara. Secara garis besar saya jelaskan bahwa walau kitab tersebut tidak membicarakan secara sistematis ajaran tasawuf sebagaimana ulama tasawuf lain, tetapi di dalamnya membahas maqam spiritual dengan ciri khas bahasa hikmahnya, antara lain: (1) maqam taubat, yakni merupakan makam pertama yang harus dilalui penempuh spiritual dalam menuju Tuhan; (2) maqam zuhud, yakni tidak berlebihan dari segi apapun; (3) maqam sabar, yakni sabar menempuh jalan Tuhan dan semacamnya; (4) maqam syukur, yakni mensyukuri segala nikmat Tuhan; (5) maqam khauf, yakni merasa takut akan sirnanya hal atau maqam yang diberikan oleh Tuhan; (6) maqam raja’, yakni selalu mengharapkan adanya hal dan maqam dari Tuhan dengan segala usahanya; (7) maqam ridha, yakni rela menerima takdir Tuhan baik ataupun buruk.; (8) maqam tawakkal, yakni berserah diri pada Allah bahwa segala sesuatu bertumpu pada kehendak (iradah) Allah swt semata ; (9) maqam mahabbah, yakni mencintai Tuhan, sebuah makam tertinggi dalam pandangan kaum sufi (ahli tasawuf). Bagi saya, teramat sulit di era globalisasi seperti sekarang untuk mencapai maqam-maqam tersebut. Namun tentu saja doa dan usaha tetap harus saya lakukan semaksimal mungkin untuk mencapai hal tersebut.
Tentu saja, dalam kajian tersebut saya juga banyak mencuplik ungkapan-ungkapan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari tentang maqam-maqam tersebut. Dalam maqam taubat, saya mencuplik ungkapan “min ‘alamat maut al-qalb ‘adam al-huzn ‘ala ma fataka min al-muwafaqat wa tark al-nadam ‘ala ma fa’altahu min  wujud al-zallat”, artinya di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan beribadah yang dilewatkan, dan tiadanya penyesalan atas kesalahan yang dilakukannya. Bagi saya, ungkapan tersebut mengajarkan akan pentingnya waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia agar dia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan ungkapan tersebut, tentu saja mereka yang berprofesi sebagai penulis misalnya, akan menggunakan waktunya untuk menulis dengan baik. Begitu pula, mereka yang memilih sebagai aktifis NGO misalnya, tentu saja akan menggunakan waktu tersebut untuk memperjuangkan hak-hak kaum lemah (dlu’afa’) sebaik mungkin dengan penuh tanggungjawab.
Selain itu, saya mencuplik ungkapan Syiakh Ahmad bin Athaillah “ma basaqat aghshanuhu dzull illa ‘ala bidzri thama’in”, artinya tidak akan tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih ketamakan. Bagi saya, ungkapan ini mengajarkan kepada manusia agar tidak tamak kepada manusia lainnya. Sebab ketamakan akan membawa kehinaan yang tak terhingga. Para aktifis NGO yang benar-benar mapan hatinya, tentu saja tidak akan rela bila hatinya dipenuhi dengan sifat ketamakan. Tamak bisa menjangkiti siapa saja, termasuk para aktifis NGO yang konon selalu memperjuangkan masyarakat tertindas (dlu’afa’). Mungkin ada aktifis NGO bila lembaga lain mendapat kucuran dana dari funding, merasa iri hati dan dengki. Tentu saja, sifat yang demikian ini akan merusak niat semula untuk memperjuangkan rakyat tertindas (dlu’afa). Hal ini kalau dibiarkan tentu saja akan membawa NGO tersebut jatuh ke dalam kehinaan. Tak masuk akal bila manusia yang diliputi sifat ketamakan akan memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas (dlu’afa’), dan justru karena ketamakan tersebut dia akan hanya memperkaya diri pribadinya.
Ungkapan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari lain yang saya sampaikan adalah “liyukhaffif alam al-bala’ ‘alaika ilmuka bi annahu subhanahu wa ta’ala huwa al-mubli laka. Fa alladzi wajahatka minhu al-aqdar huwa alladzi ‘awwadaka husna al-ikhtiyar”, artinya pedihnya ujian dapat diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah yang memberi ujian. Yang mendatangkan ujian (takdir) kepadamu adalah Dia (Allah) yang tentu menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik buatmu. Bagi saya, ungkapan tersebut mengajarkan sebuah kesabaran manakala mendapat ujian dari Tuhan. Mereka yang menjadi aktifis NGO tentu saja banyak mendapat ujian berupa caci maki dari berbagai pihak yang tidak suka. Tentu saja, hal tersebut harus disikapi dengan kesabaran yang tanpa batas. Bisa jadi ujian tersebut merupakan anugerah terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada para aktifis NGO yang benar-benar memperjuangkan masyarakat tertindas (dlu’afa’).
Selain itu, saya juga menyampaikan ungkapan Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari berikut “al-faqad busuth al-mawahib”, artinya bermacam-macam ujian yang diberikan Tuhan pada hakekatnya merupakan sebuah hamparan pemberian. Masih sebagaiamana hal di atas, ungkapan ini mengajarkan kepada manusia untuk terus bersikap sabar. Sebab ujian-ujian dari Tuhan pada manusia pada hakekatnya merupakan pemberian. Bisa jadi melalui serangkain ujian-ujian tersebut seorang hamba akan mendapatkan hikmah-hikmah tersembunyi dibaliknya. Para aktifis NGO tentu tidak lepas dari berbagai macam ujian manakala mendampingi masyarakat tertindas (dlu’afa’). Ujian tersebut bisa berupa hinaan, cemoohan, bahkan cacian yang menyudutkan dirinya. Dalam hal ini, Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari menawarkan bagaimana mengatasi ujian-ujian tersebut dengan terus berfokus pada kehendak (iradat) Allah swt semata. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa Dia-lah yang memberikan ujian, dan Dia pulalah yang akan menghilangkan ujian tersebut sesuai kehendak-Nya.
Terkait kajian tersebut, saya juga menyampaikan ungkapan Gus Dur yang sering mengatakan bahwa nama Nahdlatul Ulama (NU) diilhami oleh kalimat Syaikh Ahmad bin Athaillah al-Sakandari yang berbunyi “laa tas’khab man la yunhiduka ila Allahi haluhu wa la yadulluka ilaihi maqaluhu”, artinya jangankan kau jadikan sahabat atau guru, orang yang perbuatannya tidak membangkitkan kamu kepada Allah, serta perkataannya tidak menunjukkan kepada-Nya. Kata “yunhidu” artinya membangkitkan dan yang bisa membangkitkan kepada Allah adalah seorang ulama. Dari sini, maka lahirlah nama Nahdlatul Ulama (NU). Istilah “Nahdlatul Ulama” yang berarti “kebangkitan para ulama” diharapkan benar-benar membangkitkan umat muslim agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt.  Bagi saya, tentu hal ini merupakan hal yang sangat substantif bagi mereka yang benar-benar menjadi ulama. Mereka yang menjadi ulama, sudah selayaknya harus benar-benar bisa membangkitkan umat manusia menuju jalan Tuhan. Bukan malah meraih keuntungan dengan menjual ayat-ayat Tuhan dan memperkaya diri dengan menjual umat manusia melalui partai politik yang seakan-akan merupakan perintah Tuhan.
Usai kajian di atas, kemudian saya diberi kepercayaan oleh Mawan Mahyuddin untuk memberi kajian dengan tema “Kajian Kitab Minhaj al-Abidin: Jalan Menuju Tuhan Syaikh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali”, tepatnya pada minggu ketiga bulan Ramadlan. Saya pernah mempelajari kitab tersebut kepada Kiai Haji Muhammad Arsyad Bushoiri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung. Selain itu, saya juga pernah belajar kitab tersebut kepada Kiai Haji Muhammad Hafidz Syafii, pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Hidayah, Tlogo, Kanigoro, Blitar dan Kiai Haji Nasruddin, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Kepada ketiga kiai inilah saya berdoa, mudah-mudahan Tuhan senantiasa memberikan kasih sayang yang tak terhingga.
Sebagaimana kajian sebelumnya, saya terlebih dahulu juga menyampaikan biografi Syaikh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali tersebut. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Thusi al-Syafii al-Ghazali. Dia lahir pada tahun 450H/1058M di desa Thus, Khurasan, Iran. Tambahan istilah “al-Syafii” sebab dia menganut madzhab Imam Syafii. Adapun istilah “al-Ghazali” dengan menbaca ringan (tahfif) huruf “za”-nya merupakan nisbat pada sebuah desa Ghazalah, yang merupakan wilayah dari desaThus, Iran. Sedangkan istilah “al-Ghazzali” dengan membaca berat (tadh’if) huruf “za”-nya, yang kadang juga dinisbatkan padanya, merupakan nisbat terhadap pekerjaan ayahnya sebagai pemintal wol. Ada banyak gelar yang disematkan kepada al-Ghazali antara lain: (1) Hujjatul Islam, yakni bukti kebenaran agama Islam; (2) Zainuddin, yakni hiasan agama; (3) Bahrul Mughriq, yakni samudera yang menghanyutkan, dan lain-lain. Bagi saya, gelar-gelar yang disematkan kepada al-Ghazali tersebut bukan karena dia gila gelar. Akan tetapi, dia memang layak mendapat gelar-gelar tersebut.
Saya menyampaikan pula bahwa ayah al-Ghazali adalah seorang yang wara’ yang menafkahi keluarganya dengan hasil keringatnya sendiri. Di waktu senggang ayah al-Ghazali selalu menyempatkan diri mendatangi tokoh agama dan ahli fikih serta mendengarkan nasehat-nasehatnya. Sang ayah wafat ketika al-Ghazali dan adiknya masih usia kanak-kanak. Menjelang wafat, ayah al-Ghazali berwasiat kepada salah seorang temannya yang ahli sufi untuk mendidik dan membesarkan kedua anak tersebut. Ayah al-Ghazali menitipkan pada temannya yang ahli sufi tersebut dan menyerahkan harta yang dia tinggal untuk mengurus kedua putra tersebut. Sang sufi tersebut memegang amanah ayah al-Ghazali, sehingga sampai harta dari ayahnya tersebut habis, lalu sang sufi menyarankan al-Ghazali dan adiknya agar pergi sekolah dan mencari biaya sendiri. Bagi saya, kisah derita al-Ghazali tersebut mengajarkan bahwa sebuah kesuksesan harus diraih dengan kesungguhan hati dan kerja keras. Begitu pula, keberhasilan para aktifis NGO dalam mendampingi kaum tertindas (dlu’afa’) tentu tidak akan bisa lepas dari kesungguhan hati dan kerja keras.
Setelah itu, saya menyampaikan bahwa setelah al-Ghazali mendapat saran dari ahli sufi kawan ayahnya, dia dan adiknya kemudian menuntut ilmu pada sebuah madrasah di Thus serta memperoleh makanan dan pendidikan disana. Konon, di madrasah inilah awal mula perkembangan pemikiran dan spiritual al-Ghazali yang penuh arti hingga akhir hayatnya. Di madrasah tersebut, al-Ghazali mempelajari ilmu fikih kepada Ahmad bin Muhammad al-Razikani dan mempelajari tasawuf kepada Yusuf al-Nasaj hingga usia 20 tahun. Setelah itu dia lalu belajar ilmu fiqih dan bahasa Arab di Jurjan kepada Abu Nasr al-Ismaili, akan tetapi tidak diketahui berapa lama dia belajar disana. Namun karena ilmu yang dimiliki dari Thus dan Jurjan tidak mencukupi, dia lalu pindah ke Naisabur belajar ilmu madzhab fikih, ilmu kalam, ilmu usul, filsafat dan disiplin ilmu lain kepada Abu al-Ma’ali al-Juwaini, seorang tokoh teologi Asyariyah paling terkenal dan guru besar di madrasah Nidzamiyah. Bagi saya, kisah ini sangat menginspirasi siapapun dalam menuntut ilmu. Tentu saja bagi aktifis NGO, tentu saja sudah sepatutnya untuk terus mempelajari disiplin ilmu yang signifikan dengan aktifitasnya semaksimal mungkin.
Memang ada banyak kisah menarik manakala membahas biografi al-Ghazali. Sejak kecil al-Ghazali dikenal sebagai seorang anak pecinta ilmu pengetahuan dan sangat berhasrat mencari kebenaran hakiki, walau selalu dilanda duka cita. Suatu hari di hari libur madrasah, al-Ghazali pulang ke kampung halamannya. Di tengah perjalanan al-Ghazali dihadang oleh segerombolan perampok yang mengambil semua kitab yang dimilikinya. Al-Ghazali sendiri pernah mengatakan bahwa kebiasaan untuk mencari hakekat kebenaran sesuatu merupakan kebiasaan dan favoritnya sejak kanak-kanak dan masa muda. Menurutnya, hal tersebut merupakan insting dan bakat yang dilimpahkan Allah swt  pada dirinya dan bukan merupakan usaha rekayasa. Bagi saya, kisah tersebut mengajarkan bahwa ternyata suatu hasrat, insting, dan bakat memang tidak bisa dipaksakan. Dalam konteks NGO, seorang yang mendedikasikan diri sebagai aktifis yang terus mau mendampingi kaum lemah (dlu’afa’), tentu saja merupakan pilihan luhur yang tidak bisa lepas dari insting dan bakat yang dilimpahkan Tuhan.
Kisah menarik lain yang sampaikan dalam kajian tersebut adalah sebelum Abu al-Ma’ali al-Juwaini wafat, dia sempat memperkenalkan al-Ghazali kepada perdana menteri Nizam al-Mulk, yang merupakan pendiri madrasah Nidzamiyah. Maka setelah Abu al-Ma’ali al-Juwaini wafat, al-Ghazali lalu berangkat ke al-Asykar mengunjungi perdana menteri Nizam al-Mulk dari pemerintahan Bani Saljuk tersebut. Dia disambut dengan penuh kehormatan sebagai ulama besar dan dipertemukan dengan para ulama besar lainnya. Tahun 1091 M al-Ghazali diutus perdana menteri Nizam al-Mulk untuk menjadi guru besar di madrasah Nidzamiyah yang didirikan di Baghdad. Dia menjadi salah satu orang yang terkenal di Baghdad dan selama empat tahun memberi kuliah kepada lebih dari 300 mahasiswa di sana. Pada saat yang sama al-Ghazali menekuni kajian filsafat secara otodidak lewat bacaan buku pribadi serta menulis sejumlah buku. Bagi saya, kisah tersebut mengajarkan bahwa menekuni ilmu secara otodidak ternyata bisa menghasilkan hasil yang cemerlang. Tentu saja, bila hal tersebut ditarik dalam dunia NGO, sudah selayaknya aktifis NGO terus mempertajam pengetahuannya baik secara formal maupun lainnya. Aktifis NGO yang sangat sibuk mendampingi masyarakat tertindas (dlu’afa’), tentu bisa mensiasati belajar secara otodidak, melalui diskusi-diskusi, dan semacamnya.
Bagi saya, mengkaji biografi al-Ghazali, sama persis mendalami perjalanan spiritual beliau secara utuh (kaffah). Dalam kajian tersebut, saya terus saja menyampaikan kisah al-Ghazali, sebab banyak peserta yang juga tertarik akan kisak tersebut. Atas prestasi yang diraih, maka al-Ghazali yang saat itu dalam usia 43 tahun diangkat sebagai pimpinan madrasah Nidzamiyah. Ibnu Rusn menyatakan bahwa al-Ghazali menjadi pemimpin madrasah Nidzamiyah sekitar empat tahun. Setelah itu al-Ghazali mengalami krisis rohani, krisis keraguan (skeptis) yang meliputi akidah dan segala jenis makrifat. Dia lalu meninggalkan Baghdad menuju Syam (Syiria) secara diam-diam. Untuk mengelabuhi kawan-kawannya di madrasah Nidzamiyah, al-Ghazali mengatakan kepada mereka pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mulai dari sinilah al-Ghazali mulai meninggalkan pekerjaan sebagai pengajar dan dia memulai hidup baru menjauh dari lingkungan manusia serta menempuh kehidupan yang penuh zuhud. Bagi saya, kisah tersebut mengajarkan perjalanan rumpil seorang al-Ghazali yang ingin terus mencari kebenaran. Bagi saya, dalam konteks NGO, tentu saja ada saat-saat tertentu bagi para aktifis untuk mengadakan refleksi ke dalam. Namun tentu saja tidak harus melakukan sebagaimana yang al-Ghazali lakukan.

Walhasil, dalam kajian terbatas yang diadakan di The Post Institute Blitar tersebut saya segera meringkas cerita al-Ghazali. Setelah sekian lama al-Ghazali untuk mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan dan mendapatkan kebenaran hakiki pada akhir hayatnya, dia lalu meninggal dunia di Thus pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505H/1111M menjelang matahari terbit dan dimakamkan di Zhahir Tabiran, ibu kota Thus, Iran. Konon, al-Ghazali wafat dihadapan adiknya yang bernama Ahmad Mujiduddin dan meninggalkan tiga anak perempuan, sedangkan anak laki-lakinya yang bernama Hamid telah meninggal dunia sebelum al-Ghazali wafat. Oleh karena al-Ghazali mempunyai anak laki-laki bernama Hamid inilah, maka al-Ghazali diberi julukan “Abu Hamid, yang berarti ayah si Hamid. Saya juga menyampaikan bahwa Kitab Minhaj al-Abidin yang dikaji pada kesempatan tersebut merupakan karya terakhir al-Ghazali tentang tasawuf. Demikian sekilas pengalaman saya di The Post Institute Blitar, mudah-mudahan berguna dalam kehidupan kini dan mendatang. Berikut saya akhiri dengan sabda Nabi Muhammad saw:

“Barangsiapa disibukkan zikir kepada-Ku, hingga lupa meminta kepada-Ku,
maka akan Ku berikan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada yang Ku berikan
kepada mereka yang meminta” (HR. Tirmidzi).
Penulis
Arif Muzayin Shofwan
Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09
Papungan Kanigoro Blitar Jawa Timur. HP. 085649706399

Rabu, 04 November 2015

MERAJUT KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN SERTA PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA



Arif Muzayin Shofwan
Arif atau Muzayin begitu dia biasa disapa. Dia merupakan salah satu aktivis The Post Institute, sebuah NGO ternama di Kota Blitar dan dipercaya sebagai ketua divisi multikultural. Selain sebagai aktivis, dia juga menjadi pengajar di MI Miftahul Huda Papungan 01 Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa aktif pada Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam penelitian tugas akhir doktoralnya, dia sedang meneliti tentang isu pendidikan keagamaan Islam multikultural pada sebuah pesantren di kota Blitar. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Tim Inti Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang diketuai oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Kepada profesor yang disebut inilah, Arif ingin terus belajar terkait dengan isu multikulturalisme dan pendidikan multikultural.
Sebagai ketua divisi multikultural di The Post Institute Blitar, Arif sering berinteraksi dan berdialog mengenai kebebasan beragama dengan para tokoh agama. Dia juga sering berinteraksi dan berdialog dengan berbagai tokoh aliran kepercayaan di Blitar, misalnya Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU), Sapto Dharmo, dan penghayat kepercayaan lain yang tidak memiliki label tertentu. Menurutnya, seseorang tidak akan mudah fanatik buta terhadap kebenaran keyakinannya apabila dia memiliki wawasan yang luas. Orang yang memiliki wawasan yang luas tidak akan mudah memberikan stigma negatif terhadap orang yang berbeda keyakinan. Lebih-lebih memberikan label kafir, musyrik, fasik terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Dan tentu hal tersebut merupakan sebuah pantangan bagi orang-orang yang berwawasan luas. Orang yang berwawasan luas akan selalu meneliti “kekafiran”-nya sendiri yang berada di dalam hatinya. Sementara orang yang kurang luas wawasan pengetahuannya, akan selalu mengkafirkan (men-takfir-kan) orang yang berbeda keyakinan dengannya. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Gus Dur “kafire dhewe nggak digatekne, yen isih kotor budi akale”, ujarnya.
Arif pernah mengikuti pelatihan LVE di MI Miftahul Huda Papungan 01, Kanigoro, Blitar pada tanggal 19-20 Mei 2012 yang dibimbing oleh Dr. Muqowwim, M.Ag, seorang trainer LVE dan dosen tetap di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketertarikannya dengan pelatihan LVE menghantarkan Arif kenal dengan Mohammad Shofan dan Budhy Munawar-Rachman, yang keduanya merupakan trainer LVE pula. Dia sempat beberapa kali bertemu dengan Budhy Munawar-Rachman yang biasa disapa “Mas Budhy” tersebut di Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam salah satu pertemuan tersebut, Mas Budhy pernah memberikan buku berjudul “Living Values Activities for Young Adults” karya Diane Tillman kepada Arif. Sementara dengan Mohammad Shofan, dia belum pernah bertemu dan bertatap muka kecuali hanya di media sosial facebook. Namun walau demikian, dia menganggap “Mas Shofan” panggilan akrab Mohammad Shofan tersebut sebagai guru inspiratif dalam beberapa hal di antaranya terkait dengan isu kebebasan beragama dan kajian pluralismenya.
Setelah mengikuti pelatihan LVE tersebut, Arif menilai bahwa pelatihan LVE sangat penting untuk dikembangkan dalam negara seperti Indonesia. Menurutnya, untuk merajut keberanekaragam suku, budaya, ras dan agama di Indonesia perlu diadakan pelatihan LVE. Mengapa?. Sebab LVE benar-benar menawarkan sesuatu yang benar-benar berasal dari pikiran (mind), jiwa (soul) dan diimplementasikan melalui perilaku, bukan hanya sekedar wacana belaka. Dia berharap pelatihan LVE tersebut akan merambah ke daerah-daerah pinggiran, bukan hanya di dalam kampus semata. Sebab di daerah pinggiran sana tentu masih banyak perilaku intoleran yang harus diatasi. Menurutnya, melalui pelatihan LVE, seseorang akan memiliki pikiran dan jiwa positif yang benar-benar akan berguna di kehidupan kini dan mendatang.
Di dalam merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan, Arif pernah berkunjung di Puthuk Ayem, sebuah tempat retret meditasi di lingkungan Vihara Buddha Sasana Buneng, Selorejo, Blitar dan bertemu dengan Bhikku Jayaratano yang saat itu sedang menghabiskan masa vassa-nya. Dalam pertemuan tersebut dia berdiskusi tentang kebebasan beragama dan keyakinan dengannya. Dalam diskusi tersebut, Bhikku Jayaratano mengatakan bahwa perbedaan beragama dan keyakinan itu indah bila seseorang bisa merawatnya. Bangsa Indonesia akan menjadi kuat bila masyarakatnya bisa mengelola semua perbedaan yang ada. Menurutnya, memasuki agama merupakan sebuah pilihan yang tidak bisa dipaksakan. Dia menganalogikan agama bagaikan sebuah makanan kesukaan. Seseorang bisa memilih makanan yang dia suka tanpa harus membenci makanan lain yang tidak disukainya. Menanggapi pernyataan Bhikku Jayaratano di atas, Arif juga mengatakan bahwa dalam Islam disebutkan “laa ikraha fi al-dinn”, tidak ada paksaan dalam memasuki agama.
Arif juga seringkali bertemu dengan Bhikku Sukhito Thera di Vihara Samaggi Jaya Kota Blitar yang tak jauh dari Makam Bung Karno, sang proklamator Republik Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Arif sempat berkali-kali diskusi terkait kebebasan beragama dan keyakinan dengan Bhikku Sukhito Thera dan tokoh Buddha lainnya. Bhikku Sukhito Thera menyatakan bahwa seseorang yang tidak bisa menghormati agama lain sama halnya tidak bisa menghormati agamanya sendiri. Sementara dalam pertemuan lain, Arif pernah bertanya bagaimana cara bermeditasi yang baik dan benar. Menurut Bhikku Sukhito Thera, kalau seseorang beragama Islam, maka cara meditasi yang baik dan benar bisa dilakukan dengan mengucapkan lafadz “Allah-Allah-Allah” dalam pikiran dan hatinya. Menurutnya, dengan berkonsentrasi pada lafadz “Allah-Allah-Allah” tersebut, maka hati seorang muslim akan menjadi tenang/tenteram. Dengan demikian hal tersebut bisa dinamakan meditasi “samatha bhavana” dalam tradisi agama Buddha.
Di dalam diskusi dengan Bhikku Sukhito Thera tersebut banyak sekali yang Arif ungkapkan pula, di antaranya: Arif menyatakan bahwa melafadzkan “Allah-Allah-Allah” dalam hati bisa menjadikan seseorang tenang/tenteram sesuai dengan firman Allah swt “alaa bi zikri Allah tadz’main al-quluub”, artinya ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Arif juga membicarakan persamaan kegiatan meditasi dengan tafakur dalam Islam. Tafakur yang merupakan kegiatan merenung memang mirip dengan meditasi, yang didalamnya terdapat aktivitas perenungan pula. Bahkan Arif juga menyatakan bahwa dalam sebuah kitab tasawuf Bidayah al-Hidayah karya Imam al-Ghazali disebutkan bahwa tafakur (merenung) sesaat lebih baik daripada beribadah selama 80 tahun dengan tanpa sebuah perenungan. Pada kesempatan lain, Arif juga pernah bertemu dengan Bhikku Jayamedho, Bhikku Uttamo Mahathera, Bhikku Sri Pannavaro Mahathera dan lainnya di Vihara Samaggi Jaya Kota Blitar tersebut. Selain itu, Arif juga pernah berinteraksi dengan kelompok umat Buddha Maitreya yang juga berada di Blitar.
Selanjutnya, dalam merajut kebebasan berkeyakinan, Arif telah beberapa kali berinteraksi dan berdiskusi dengan para penghayat aliran kepercayaan. Dia pernah berdiskusi dengan Eyang Romo Marsudi Tomo, seorang wakil wirid sebuah aliran kepercayaan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) di Dermojayan, Srengat, Blitar. Dalam pertemuan tersebut, Eyang Romo Marsudi Tomo menyatakan bahwa PAMU merupakan kelompok kerukunan yang didirikan oleh RM. Djojopoernomo yang makamnya berada di Tojo, Temuguruh, Banyuwangi. Menurutnya, kelompok kerukunan tersebut diikuti oleh berbagai macam agama, ada yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan lain sebagainya. Dalam ajaran PAMU disebutkan bahwa seorang yang ingin hidup tenteram harus bisa rukun dengan tiga tetangga, yaitu; [1] tetangga wisma; yakni tetangga yang bersebelahan rumah; [2] tetangga desa; yakni tetangga yang bersebelahan desa hingga kecamatan, kabupaten dan seterusnya; dan [3] tetangga negara; yakni tetangga yang bersebelahan negara.
Pada kesempatan lain, Arif pernah berinteraksi dan berdiskusi dengan penghayat aliran kepercayaan yang meyakini ajarannya berasal dari Sunan Kalijaga. Eyang Romo Paniran (alm), selaku pimpinan aliran kepercayaan tersebut pernah menyatakan tentang bagaimana bisa saling hidup rukun dengan sesama tanpa merendahkan agama lainnya. Dalam aliran kepercayaan ini diajarkan tentang bagaimana menata tiga bait (artinya; rumah) yang ada dalam diri manusia sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Serat Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ronggowarsita, yaitu: [1] bait al-makmur; yakni rumah tempat keramaian yang berada di otak atau pikiran manusia; [2] bait al-muharram; yakni rumah tempat rahasia yang berada dalam hati manusia; dan [3] bait al-muqaddas; yakni rumah tempat yang harus disucikan dan berada pada kelamin manusia. Seseorang akan bisa menuju Tuhan bila dia bisa menata ketiga bait tersebut. Sebagaiamana aliran PAMU di atas, aliran ini juga diikuti oleh berbagai macam agama.
Sementara pengalaman Arif berinteraksi dengan para pelestari budaya “nyadran” komunitas orang Jawa dilaluinya diberbagai tempat di antaranya; di Sandranan Eyang Wirogati Jatimalang, Kota Blitar; di makam cikal bakal desa Plosorejo, Kademangan, Blitar yakni Makam Eyang Sonomo pada saat kirab pusaka; di Sandranan Eyang Sutojoyo, pendiri desa Sutojayan, Lodoyo, Blitar; di Sandranan Eyang Kusumo Yudho [Mbah Imam Sopingi], pendiri desa Sananwetan Kota Blitar; di Sadranan Nyi Ageng Sekardangan, pendiri dusun Sekardangan, Kanigoro, Blitar; di Sadranan Eyang Sri Tanjung, pendiri desa Tanjungsari, Blitar dan lain-lainnya.
Dalam petualangannya tersebut, Arif sempat bertanya kepada Bapak Jawoko, salah satu juru kunci Sadranan Eyang Wirogati, Jatimalang, Kota Blitar mengenai: mengapa orang Jawa memiliki tradisi “nyadran” di bawah pohon besar yang biasanya sudah berusia ratusan tahun?. Terus apakah mereka itu menyembah pohon dan berbuat musyrik?. Bapak Jawoko kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya pohon rindang yang dipakai “nyadran” orang Jawa itu bukan untuk disembah. Sejarahnya adalah bahwa tradisi para leluhur jaman dulu ketika sudah selesai mbabat desa/dusun, dia lalu menanami tempat itu dengan pohon yang usianya bisa bertahan lama agar para keturunan dan orang sesudahnya nanti bisa mengingatnya melalui simbol pohon yang dia tanam tersebut. Setelah itu, biasanya sesepuh Jawa itu meninggalkan desa tersebut dan kemudian mbabat desa/dusun di daerah lainnya. Menurutnya, maka tak heran bila petilasan sesepuh Jawa pada zaman dahulu berada di berbagai daerah dan biasanya terdapat pohon rindang, misalnya petilasan Nyi Ageng Gadhung Melati di seputar Blitar dapat ditemukan di desa Kademangan, Blitar; Genjong, Wlingi, Blitar; Selokajang, Srengat, Blitar; dan lain sebagainya. Bahkan petilasan Sunan Kalijaga juga berada di berbagai daerah.
Masih menurut Bapak Jawoko yang mengatakan bahwa orang-orang Jawa berdoa di bawah pohon tersebut bukan untuk menyembah pohon, akan tetapi mereka melakukan itu untuk mendoakan tokoh yang “mbabat” desa/dusun tersebut. Pohon rindang untuk “nyadran” orang Jawa ibarat prasasti atau monumen untuk mengenang jasa-jasa para sesepuh yang mbabat dusun/desanya. Menurutnya, simbol sebuah pohon merupakan sesuatu yang paling sederhana dan banyak dipakai oleh para sesepuh Jawa pada zaman dahulu. Biasanya tokoh-tokoh atau para sesepuh Jawa yang memiliki kelas sosial tingkat atas/tinggi pada jaman dahulu tentu menggunakan simbol/tanda yang lebih berkelas pula, misalnya simbol prasasti, monumen, patung dan semacamnya. Sementara mereka yang kurang memiliki kelas tertentu, maka cara yang mereka gunakan juga sangat sederhana yakni dengan menanam sebuah pohon yang diperkirakan usianya bisa bertahan lama agar para keturunan dan generasi selanjutnya bisa mengenang lewat simbol/tanda sebuah pohon yang dia tanam tersebut.
Bapak Jawoko juga menyatakan bahwa biasanya sandranan-sadranan itu berada di dekat sumber mata air atau sungai dikarenakan jaman dahulu itu tidak ada sumur. Jadi untuk mendapatkan air yang bisa digunakan untuk memasak dan minum, mereka lalu mencari tempat-tempat seperti dekat sungai dan sumber mata air sebagai tempat kediamannya. Bapak Jawoko, seorang yang ahli sandranan di Blitar tersebut memberikan banyak contoh sadranan yang berada di dekat sungai atau sumber mata air antara lain; Sadranan Eyang Wirogati, Nyi Gadhung Melati, Eyang Sutojoyo, Eyang Kusumo Yudho (Mbah Imam Sopingi), Eyang Suromenggolo, Eyang Sri Tanjung dan lain sebagainya.
Menurut Bapak Jawoko, simbol/tanda sebuah pohon tersebut juga dipakai oleh pasukan Pangeran Diponegoro ketika melarikan diri ke arah Timur. Biasanya pasukan Pangeran Diponegoro menanam pohon Sawo atau Manggis di depan rumahnya atau masjidnya sebagai “tetenger” (tanda/simbol) bahwa mereka merupakan salah satu pasukan Pangeran Diponegoro. Bapak Jawoko juga menyatakan bahwa setiap zaman, para tokoh memiliki tradisi penanaman pohon sebagai tetenger. Dan pohon yang ditanam selalu berganti-ganti antara zaman yang satu dengan satunya tidak sama. Pada masa tertentu, pohon yang ditanam adalah pohon bunga Kanthil, pohon Beringin, dan pohon-pohon lain yang bisa bertahan lama hingga generasi berikutnya. Dalam hal ini, Arif merenungkan bahwa tradisi menanam pohon yang dilakukan oleh orang Jawa sebagai simbol/tanda (tetenger; Jw) tersebut tentu tidak lepas dari tradisi umat Buddha yakni ketika menanam pohon Boddhi guna untuk mengenang Sang Buddha Gautama dalam mendapatkan pencerahan dibawah pohon tersebut. Hal tersebut tentu bukan untuk disembah seperti yang pernah dijelaskan oleh para guru agama Islam saat di MI, MTs, MA, bahkan di perguruan tinggi sekalipun masih ada yang mempunyai perspektif yang kurang luas akan tradisi tersebut. Sehingga terkadang para guru agama sering memberi label “musyrik” kepada orang yang berdoa dibawah pohon rindang sebagai “tetenger” dari para pendahulu tersebut.
Di sisi lain, setelah mendengar penjelasan dari Bapak Jawoko tersebut, Arif lalu ingat kata kawannya yang pernah kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta bahwa seorang teman kawannya tersebut pernah mengadakan sebuah penelitian. Dalam penelitian tersebut dia menemukan bahwa sumur dan kakus merupakan warisan penjajah Belanda, sehingga sebelum penjajah Belanda datang di Indonesia, maka orang-orang Jawa biasanya menggunakan sungai dan sumber mata air untuk keperluan sehari-hari. Artinya penjajah Belanda inilah yang mewariskan sumur dan kakus/WC yang sampai saat ini masih tetap eksis. Dan mungkin akan terus eksis dan tak akan kembali lagi ke sungai untuk keperluan sehari-hari serta sebagai tempat buang air besar. Dengan demikian, sadranan-sadranan yang berada di dekat sumber mata air atau sungai tersebut kemungkinan telah ada sejak sebelum penjajah Belanda datang ke Indonesia atau kemungkinan pula terjadi pada zaman Mataram ke belakang, karena keterbatasan alat untuk membuat sumur dan lain sebagainya.
Lain dari pada hal di atas, Arif juga pernah bergabung dengan komunitas di Lembaga Pecinta dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) yang diketuai oleh Drs. Aris Sugito, SH dari desa Jiwut, Nglegok, Blitar. Lembaga tersebut mengadakan kegiatan rutin setiap malam bulan Purnama di Candi Palah Penataran, Nglegok, Blitar yang dihadiri oleh berbagai macam agama dan keyakinan. Ada umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan aliran kepercayaan seperti Sapto Dharmo, aliran Roso Sejati dan lain-lainnya yang hadir pada setiap bulan Purnama di Candi Palah Penataran tersebut. Menurut Drs. Aris Sugito, SH., kegiatan tersebut disamping untuk melestarikan budaya nusantara juga untuk merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sehingga dengan hadirnya berbagai macam agama dan aliran kepercayaan tersebut akan terwujud Indonesia yang berbhinneka tunggal ika.
Arif juga mempunyai pengalaman mengisi kultum dan doa dalam acara buka bersama puasa bulan Ramadhan pada tanggal 10 Agustus 2012 di Gereja Katolik Paroki Santo Yusuf Kota Blitar atas undangan Romo I Made Agustinus Hadi Prasetyo. Di gereja tersebut dia bertemu dengan beberapa tokoh agama antara lain; JB. Sudrajat selaku Ketua Bidang Sosial Paroki Santo Yusuf, Pendeta Henry S. Chandra, M.Th., Th.D selaku Ketua Sekolah Teologi Patria Blitar, Romo Pandita Padma Sujata selaku perwakilan dari Majelis Agama Buddha Theravada (Maghabudhi) Kota Blitar dan lain sebagainya. Dalam acara tersebut, Arif bersama Mawan Mahyuddin selaku Direktur The Post Institute Blitar sempat berbincang-bincang dengan Pendeta Henry S. Chandra, M.Th., Th.D terkait bagaiamana merajut toleransi antarumat beragama di Kota Blitar dan sekitarnya.
Pengalaman diskusi agama secara intensif juga Arif lakukan dengan Vincentyus Charollus, seorang pemuda Kristen yang sering datang ke The Post Institute Kota Blitar. Saat ini Charollus sedang menempuh program pascasarjana S2 jurusan Magister Ilmu Administrasi Publik di Universitas Merdeka Malang. Setiap kali Charollus datang ke The Post Institute Blitar, dia selalu mengucapkan salam Islami “assalamualaikum”, Arif pun juga menjawab salamnya dengan “waalaikumussalam”. Walau tentang menjawab salam ini ada perbedaan pendapat para ulama, yang satu membolehkan dan satunya lagi mengharamkan, namun Arif lebih memilih pendapat ulama yang memperbolehkan dengan alasan toleransi. Menurutnya, seorang yang didoakan baik oleh orang lain entah yang mendoakan itu orang muslim maupun non-muslim, hendaknya dibalas dengan doa kebaikan pula. Ucapan salam merupakan doa kesejahteraan, sehingga harus dibalas dengan doa yang baik pula.
Diskusi untuk merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan kelompok Kristen Saksi Yehuwa juga Arif lakukan dengan Mbak Naning, seorang penginjil saksi Yehuwa yang berdomisili di Sentul, Kota Blitar. Arif sering berdiskusi mengenai konsep ketuhanan dalam kelompok Kristen Saksi Yehuwa tersebut. Dalam diskusi tersebut, Arif dan Mbak Naning mencari berbagai persamaan konsep ketuhanan dan kerasulan Nabi Isa (Yesus). Mbak Naning menyatakan bahwa Yesus adalah utusan Tuhan sebagaimana yang ada dalam konsep Islam. Sementara perbedaan nama Tuhan Kristen Saksi Yehuwa dan Islam adalah bila Kristen Saksi Yehuwa menyebut nama Tuhan dengan sebutan “Yahweh”, tetapi umat Islam menyebut Tuhan dengan sebutan “Allah”. Walau dalam hal-hal tertentu Arif dan Mbak Naning berbeda pendapat, akan tetapi hal tersebut tidak membuat keduanya bermusuhan. Sebab bagi keduanya perbedaan pendapat itu indah bila seseorang bisa merawatnya.
Usaha merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan, dilakukan Arif  ketikan berinteraksi dengan tokoh umat Hindu, yakni Bapak Mursalim, M.Pd., seorang guru agama Hindu yang berdomisili di Gaprang, Kanigoro, Blitar. Beliau merupakan salah satu teman Arif ketika menempuh program pascasarjana S2 jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Universitas Kanjuruhan Malang. Arif dan Bapak Mursalim selalu berboncengan montor bersama ketika kuliah di perguruan tinggi tersebut. Arif juga sering diskusi masalah agama dengan Bapak Mursalim. Keduanya membahas persamaan dan perbedaan konsep ketuhanan Islam dan Hindu. Begitu juga, Arif sering meminjam kitab suci agama Hindu, salah satunya adalah Kitab Suci Sarasamuccaya dan beberapa kitab lainnya. Selain itu, Arif juga sering diskusi mengenai agama Hindu dan Islam dengan Mas Anto, Jatilengger, Ponggok, Blitar. Mas Anto juga merupakan salah satu umat Hindu yang taat. Dia banyak memberikan buku-buku agama Hindu kepada Arif untuk perbandingan dengan ajaran agama Islam, dintaranya buku Pancha Crada, karya Drs. I. B. Oka Punyatmadja, Kitab Saracamuccaya, Kitab Bhagawadgita dan lainnya.
Diskusi tentang ajaran agama Hindu juga Arif lalui di Kantor The Post Institute bersama kolega-koleganya. Beberapa kali The Post Institute Blitar kedatangan kawan sesama aktifvis bernama Selwa Kumaar yang beragama Hindu dari Medan, Sumatera Utara. Kumaar merupakan pemuda Hindu yang taat keturunan India. Tak pelak kedatangan Kumaar yang biasanya menginap selama satu minggu di The Post Institute Blitar tersebut Arif gunakan bertukar pikiran (diskusi) mengenai persamaan dan perbedaan Hindu-Islam. Dalam  diskusi tersebut, Kumaar sering menjelaskan ajaran “ahimsa” yang dipraktekkan secara nyata oleh Mahatma Gandhi dalam perjuangannya. Sebagaimana Charollus yang Kristen, Kumaar yang Hindu pun setiap datang ke The Post Institute Blitar juga mengucapkan salam Islami “assalamualaikum”. Para kolega-kolega di The Post Institute Blitar termasuk Arif lalu menjawab salam tersebut dengan “wa’alaikumussalam” kepada Kumaar dengan alasan toleransi. Terkadang pula, Arif yang Islam, Charollus yang Kristen, dan Kumaar yang Hindu bertemu di The Post Institute Blitar dan mengadakan diskusi tentang perbedaan dan persamaan agama masing-masing. Diskusi-diskusi kecil ini sering dilakukan Arif bersama kolega-koleganya di The Post Institute Blitar, baik dengan sesama agama maupun yang tidak sama agamanya.
Di sisi lain, aktifis The Post Institute tersebut juga sering berinteraksi dengan berbagai kelompok tharikah. Di dalam tradisi NU, Arif sering melihat pertikaian sejumlah kelompok tharikah satu dengan kelompok tharikah yang lain. Kelompok tharikah yang satu merasa bahwa ajaran tharikat yang dia ikutilah yang paling benar. Begitu juga dalam beberapa kelompok tharikah yang lain, terkadang mereka saling mengolok-olok satu sama yang lainnya. Dengan adanya hal tersebut, Arif merasa resah untuk segera menemukan jawaban tentang mengapa fenomena pertikaian kelompok tharikah tersebut harus terjadi. Mengapa kelompok tharikah yang satu mengolok-olok tharikah yang lain. Bukankah kelompok-kelompok tharikah tersebut sebenarnya ingin beribadah menuju Tuhan dan mengharap ridha-Nya?. Inilah yang menyebabkan Arif akhirnya banyak bersinggungan dengan berbagai kelompok tharikah. Walaupun jawaban dari fenomena di atas belum sepenuhnya memuaskan, akan tetapi semua proses bersinggungan dengan kelompok tharikah tersebut memiliki makna tersendiri bagi Arif, terutama ketika dia dipercaya direktur The Post Insitute sebagai ketua divisi multikultural.
Dalam kelompok tharikah Naqsyabandiyah, sebuah organisasi tharikah yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad Baha’uddin al-Naqsyabandi, Arif sering diskusi masalah tharikah tersebut dengan Kiai Muhammad Makki, seorang mursyid tharikah Naqsyabandiyah di Bandung, Tlogo, Kanigoro, Blitar. Dalam diskusi tersebut Kiai Muhammad Makki pernah menunjukkan sebuah sertifikat dari seorang syaikh di Mekah yang telah mengijazahkan amalan tharikah Naqsyabandiyah kepada ayahnya pada saat menunaikan ibadah haji. Sertifikat tersebut sebagai tanda bahwa ayah Kiai Muhammad Makki telah diberi kewenangan menyebarkan ajaran tharikah Naqsyabandiyah setelah nanti pulang dari menunaikan ibadah haji. Selanjutnya, atas petunjuk ayahnya tersebut Kiai Muhammad Makki ditunjuk sebagai penerus ajaran tharikah Naqsyabandiyah.
Di dalam tharikah Sathariyah, sebuah kelompok tharikah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abdullah al-Sathari dari India, Arif juga sering berdiskusi dengan Kiai Mahrosin, seorang mursyid tharikah Sathariyah di desa Jajar, Selopuro, Blitar. Dalam pertemuan tersebut Kiai Mahrosin mengatakan bahwa tharikah yang dia jalankan itu merupakan warisan ayahnya yang bernama Kiai Syahri Dhuhan, Gentor, Ponggok, Blitar. Menurut Arif, tharikah Sathariyah ini memang unik. Bila dalam tharikah-tharikah lain ada sebuah wirid khusus yang harus dilakukan penganut tharikah, maka dalam tharikah Sathariyah ini tidak ada wirid tertentu yang harus diamalkan oleh pengikutnya. Setelah murid dibaiat oleh guru mursyid, dia diperkenankan mengamalkan wirid-wirid umum yang biasa diamalkan oleh orang-orang Islam. Tak ada wirid khusus yang harus diamalkan oleh pengikut tharikat ini.
Selanjutnya keterlibatan Arif dengan kelompok tharikah Wahidiyah Kedunglo, Kediri juga dilakukannya. Keterlibatan tersebut Arif lalui ketika mempelajari Kitab Syarh al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibnu Atha’illah al-Sakandari secara privat kepada Kiai Nasruddin, seorang tokoh tharikah Wahidiyah di desa Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Kiai Nasruddin seringkali mengajak Arif untuk melakukan “Mujahadah Wahidiyah Kubra” ke Kedunglo, Kediri. Mujahadah tersebut biasanya diikuti oleh pengikut tharikat Wahidiyah dari seluruh pelosok tanah air. Tharikat Wahidiyah merupakan organisasi tharikah lokal yang didirikan oleh Kiai Abdul Madjid Ma’roef, pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri. Banyak pelajaran yang Arif temui dalam tharikah Wahidiyah tersebut di antaranya; [1] li-Allah; semua ibadah harus diniati semata-mata karena Allah; [2] bi-Allah; semua ibadah terlaksana hanya dengan pertolongan Allah; [3] li al-Rasul; semua ibadah harus diniati karena mengikuti Rasulullah saw; [4] bi al-Rasul; semua ibadah yang kita lakukan merupakan jasa dari Rasulullah saw; dan lain sebagainya.
Pengalaman yang diperoleh Arif terkait keterlibatannya dengan tharikat Shiddiqiyah dilalui bersama Bapak Nur Fadli Tlogo, Kanigoro, Blitar, seorang penganut tharikah tersebut. Perlu diketahui bahwa tharikah Shiddiqiyah juga merupakan organisasi tharikah lokal yang didirikan oleh Kiai Muhammad Mukhtar Mu’thi dari Ploso, Jombang. Dalam hal ini, Arif beberapa kali bertemu dengan wakil/khalifah tharikat Shiddiqiyah bernama Kiai Munirul Muhtar di Blitar. Sebagaimana tharikah Naqsyabandiyah, tharikah ini juga mengajarkan dua dzikir khusus yaitu; [1] dzikir sirri; yakni sebuah dzikir yang harus dilakukan secara rahasia hanya dalam hati; dan [2] dzikir jahri; yakni sebuah dzikir yang harus dilakukan dengan terang-terangan melalui lisan. Bila lafadz dzikir yang pertama menggunakan “Dzikir Ismu Dzat” [Allah-Allah-Allah] dalam hati seiring keluar masuknya nafas, maka lafadz dzikir yang kedua menggunakan “Dzikir Nafi Isbat” [Laailahaillallah] yang diamalkan secara lisan bersama-sama atau sendirian.
Keterlibatan Arif dengan kelompok penganut tharikah Akmaliyah dilaluinya bersama Kiai Muhammad Agung Priyokusumo, Sananwetan, Kota Blitar. Menurut Kiai Muhammad Agung Priyokusumo, tharikah Akmaliyah berisi tentang ajaran “manunggaling kawula gusti” sebagaimana ajaran Syaikh Siti Jennar yang masyhur di tanah Jawa. Menurutnya pula, tharikah Akmaliyah inilah yang dianut Syaikh Siti Jennar jaman dulu. Tidak ada dzikir secara khusus yang harus diamalkan oleh penganut tharikah Akmaliyah, sebab tharikah ini lebih banyak menggali filosofis dari ajaran “manunggaling kawulo gusti” tersebut. Selain mengembangkan tharikah ini, Kiai Muhammad Agung Priyokusumo juga mengembangkan “Tarian Sufi Whirling”, yakni sebuah tarian sufi yang sering dinisbatkan kepada Syaikh Jalaluddin al-Rumi, seorang tokoh pendiri tharikah Maulawiyah. Pada saat melakukan tarian tersebut, tangan kanan selalu menghadap ke atas untuk menarik energi ilahi dari langit dan tangan kiri selalu menghadap ke bawah untuk menyalurkan energi ilahi ke bumi. Menurut Kiai Muhammad Agung Priyokusumo, tarian sufi Whirling hampir mirip dengan seni Taichi dalam tradisi Cina.
Arif juga pernah ikut “tirakatan” dalam komunitas tharikah Naqsyabandiyah Uluwiyah Khalidiyah selama dua minggu di Pesantren Baiturrahmah Blimbing Malang dibawah asuhan Kiai Muhammad Sholeh Hudi Muhyiddin al-Amin. Selama dua minggu itu pula Arif dan beberapa jamaah yang lain harus puasa dan tidak boleh keluar dari dalam pesantren. Menurut Arif, pengalaman tersebut merupakan salah satu latihan untuk mengendalikan diri. Sebab dalam dua minggu itu pula tidak ada makan untuk sahur dan yang ada hanya makan untuk berbuka. Itu saja dibatasi hanya satu piring kecil, walau mungkin kalau tidak kuat, seseorang  boleh membeli makanan di kantin yang ada di dalam pesantren tersebut. Di sisi lain, seorang yang melakukan “tirakatan” di situ dianjurkan tidak berbicara sama sekali walau dengan teman dekatnya. Mungkin dalam istilah Jawa adalah “poso mbisu” (puasa atau menahan untuk tidak berbicara). Dalam kegiatan tersebut dianjurkan bahwa hati selalu berdzikir “Allah-Allah-Allah” tanpa henti dua puluh empat jam. Dzikir tersebut bisa disesuaikan dengan keluar-masuknya nafas atau detak jantung.
Keterlibatan Arif dalam tharikah Jazuliyah, sebuah organisasai tharikah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli dilalui dengan gurunya yang bernama Kiai Imam Mahdi (alm), seorang mursyid tharikah Jazuliyah dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Tharikah ini lebih mengedepankan bacaan shalawat dalam Kitab Dala’il al-Khairat yang disusun oleh Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli tersebut. Dalam tradisi tharikah, ormas Nahdhatul Ulama memandang bahwa tharikah Jazuliyah juga merupakan organisasai tharikah yang mu’tabarah (silsilahnya bersambung sampai Rasulullah saw). Setiap tahun di pesantren Kiai Imam Mahdi (alm) tersebut selalu diadakan “Haul Muallif Shalawat Dala’il al-Khairat: Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli”, kemudian dilakukan ijazahan/baiat dan Arif telah beberapa kali mengikuti acara tersebut.
Keterlibatan Arif dalam kelompok tharikat Syadziliyah, sebuah organisasi tharikah yang dinisbatkan pada Syaikh Abu al-Hasan Ali al-Syadzili dia lalui ketika mengikuti suluk di Pondok Pesantren Pesulukan Tharikah Agung (PETA), Kauman, Tulungagung pimpinan Kiai Abdul Jalil Mustaqim. Di pesantren tersebut, Arif mondok selama dua minggu dan terlibat mengamalkan ajaran tharikah Syadziliyah. Pengalaman yang Arif dapatkan di tempat tersebut di antaranya; Arif mendapatkan informasi bahwa Kiai Abdul Jalil Mustaqim, sang mursyid tharikah Syadziliyah sebenarnya tidak hanya menempuh satu aliran tharikah saja, akan tetapi dia menempuh tujuh tharikah. Beberapa tharikah yang ditempuh Kiai Abdul Jalil Mustaqim antara lain; tharikah Syadiliyah, Sathariyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan lainnya.
Di dalam kelompok alirah tharikah Tijaniyah, sebuah organisasi tharikah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abu al-Abbas Ahmad al-Tijani, Arif memiliki pengalaman dengan Kiai Hadin Mahdi, seorang mursyid tharikah Tijaniyah yang berada di Tulungsari, Garum, Blitar. Ketika ada acara-acara Haul Syaikh Abu al-Abbas Ahmad al-Tijani di Tulungsari, Garum, Blitar, Arif sering diundang dalam acara tersebut. Begitu juga, keterlibatan Arif dalam tharikah Qadiriyah, sebuah tharikah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dia lalui bersama Kiai Irfan Mashadi Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Kiai Irfan Mashadi merupakan penganut tharikah Qadiriyah murid dari Kiai Ahmad Asrori Ustman, pengasuh Pondok Pesantren al-Fitrah, Kedinding, Surabaya. Dari berbagai keterlibatan dengan kelompok tharikah di atas, Arif banyak menemukan beberapa penganut tharikah belum bisa bersikap toleran dengan kelompok tharikah lainnya.  Menurut Arif, nilai-nilai pelatihan LVE yang dia dapatkan apabila ditularkan kepada para penganut kelompok tharikah di atas kemungkinan besar akan bisa merangkai berbagai perilaku yang tidak toleran dari berbagai kelompok tharikah satu terhadap yang lainnya, sehingga menjadi lebih toleran.
Sementara dalam merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan kelompok spiritualis juga Arif lakukan. Di dalam hal tersebut antara lain, Arif pernah bergabung dengan Master Aquandro Lutfi, seorang pelatih Reiki Usui yang telah mendirikan Indonesian Holistic Healing Center (IHHC) dan sering melatih reiki Usui di Bali. Arif juga pernah bersinggungan dengan pelatih Reiki Tummo bersama Master Agung Budi Samana Blitar. Ada banyak pengetahuan yang Arif dapatkan ketika bertemu dengan spiritualis-spiritualis di atas, hingga dia juga membaca buku-buku tentang reiki yang disusun oleh Anand Khrishna, sang master reiki di Indonesia. Begitu juga, Arif juga banyak membaca buku-buku reiki yang disusun oleh Firmansah Efenddy, M.Sc., seorang master Reiki Kundalini yang pernah kuliah di Amerika Serikat.
Berdasarkan beberapa pengalaman Arif dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok agama, keyakinan, tharikah dan komunitas spiritualis di atas, membuat dia lebih bisa bersikap toleran kepada kelompok-kelompok tersebut. Lebih-lebih setelah Arif mengikuti pelatihan LVE yang diadakan di MI Miftahul Huda Papungan 01, Kanigoro, Blitar sebagaimana yang pernah diceritakan di atas, dia merasa bahwa pelatihan-pelatihan LVE seyogiyanya terus dilakukan dan dikembangkan tidak hanya di kampus saja, tetapi pelatihan tersebut hendaknya merambah ke pelosok-pelosok desa seluruh tanah air. Nilai-nilai yang ada di dalam pelatihan LVE, terutama nilai toleransi, cinta damai harus terus diperjuangkan dan ditebarkan ke segala penjuru.
Di sisi lain, pengalaman merajut kebebasan beragama dan berkeyakinan juga Arif dapatkan bersama jaringan Gus Durian ketika mengadakan diskusi lintas iman di Maha Vihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto bersama Mawan Mahyuddin, direktur The Post Institute Blitar. Begitu pula, Arif pun pernah menjadi penulis notulen dalam acara diskusi lintas iman yang diadakan oleh jaringan Gus Durian di Vihara Samaggi Jaya Kota Blitar. Dalam diskusi lintas iman yang diadakan di Vihara Samaggi Jaya Blitar, para peserta berasal dari berbagai agama, bahkan ada yang berasal dari aliran kepercayaan adat Bali. Semua peserta mengapresiasi kegiatan semacam itu. Wakil dari aliran kepercayaan adat Bali tersebut memberikan saran agar kegiatan lintas iman tersebut hendaknya tidak berhenti dalam wacana belaka, tetapi hendaknya diwujudkan secara nyata misalnya dengan mengadakan kerja bhakti di tempat ibadah semua agama secara bergantian. Sementara wakil dari agama Buddha mengusulkan bahwa seyogianya kegiatan ini ditulis hingga menjadi sebuah buku yang kemungkinan akan menginspirasi para generasi berikutnya.
Sementara pengalaman Arif terkait penegakan HAM diperoleh ketika berinteraksi dengan korban peristiwa G30S di Blitar Selatan, terutama di desa Pasiraman, Lorejo, Ngrejo, dan Tambakrejo. Pada saat itu The Post Institute (TPI) Blitar mendapatkan program pelanggaran HAM berat bermitra dengan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA) Jakarta dibawah The Asia Foundation melalui PNPM Peduli dibawah pengawasan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Arif ditunjuk oleh direktur TPI sebagai manager program. Namun karena dia masih sibuk mengadakan penelitian tugas akhir doktoralnya di Universitas Muhammadiyah Malang, maka posisi manager program tersebut dia serahkan kepada koleganya di TPI yang bernama Denny Syahputra. Memang mengenai hal di atas, masih ada beberapa pandangan berbeda apakah layak eks-tapol dan napol PKI dianggap sebagai “korban” pelanggaran HAM berat. Namun dalam hal ini, Arif lebih memilih pendapat Komnas HAM yang menyatakan bahwa mereka tergolong korban pelanggaran HAM berat.
Pada dua bulan awal pelaksanaan program PNPM Peduli tersebut di atas, Arif beberapa kali berinteraksi dan berdiskusi dengan eks-tapol dan napol PKI di Blitar Selatan di empat desa di atas serta mengadakan beberapa kali pertemuan di Kantor The Post Institute Blitar dengan mereka. Melalui interaksi tersebut Arif sulit membayangkan bagaimana guru-guru di MI, MTs, MA bahkan di PT mengatakan bahwa PKI semuanya jahat dan anti Tuhan. Sebab apa yang Arif temui ketika berinteraksi dengan para eks tapol dan napol PKI di Blitar Selatan tersebut berbeda jauh dengan yang dikatakan para gurunya selama sekolah dan bahkan sewaktu kuliah. Apa yang dikatakan para guru bahwa para PKI adalah “anti Tuhan” tidak terbukti. Bahkan seorang eks-tapol PKI yang bernama Bapak Suyatman merupakan orang yang tekun beribadah dan menjadi takmir di sebuah masjid di desa tersebut. Beliau sering menjadi imam dalam membaca Kitab Ambiyo, sebuah kitab yang berisi kisah para nabi dengan lagu tembang macapat. Kebanyakan mereka juga beragama Islam dan melaksanakan shalat lima waktu sebagaimana umat Islam yang lain. Dan masih banyak lagi orang-orang yang terlibat PKI tersebut ternyata rajin beribadah seperti Ibu Patmuinah putra Kiai Abdurrahman Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar.
Berdasarkan hal di atas, tentu saja stigma negatif yang dilekatkan masyarakat bahwa mereka “anti Tuhan” harus digali lagi secara mendalam. Artinya apakah mereka benar-benar anti Tuhan ataukah hanya menjadi korban elite politik pada masa lalu, tentu harus terus digali. Menurut Arif, pengalaman kelam masa lampau seperti peristiwa 65 hendaknya dijadikan pelajaran bagi anak bangsa agar hal tersebut tidak terulang kembali. Dengan demikian, kehadiran LVE untuk memberikan pelatihan-pelatihan sangat dibutuhkan. Melalui LVE, seseorang akan mendapatkan pembelajaran bicara dari hati ke hati, bukan berdasarkan kepentingan belaka. Dengan demikian, Arif sangat yakin bila pelatihan LVE tersebut dikembangkan ke berbagai penjuru akan bangsa ini lebih berperikemanusian, dan tidak akan mudah terprovokasi dengan hal-hal yang negatif. Para generasi bangsa akan lebih memiliki kesadaran mendalam akan nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga bersama, bukan malah dihancurkan.
Berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan berbagai kultur di atas, Arif merasakan bahwa berwarna-warni itu indah, dan pelangi itu indah karena mempunyai warna-warni yang seimbang. Dengan demikian, pandangan yang seimbang atas warna-warni kehidupan akan menjadikan dunia ini seimbang pula. Arif mengharapkan harmonisasi semua warna-warni kehidupan di muka bumi ini selalu terwujud di setiap saat. Dia berharap pula, pelatihan-pelatihan LVE, akan menjadi penyeimbang berbagai warna-warni kehidupan manusia di bumi ini.