Rabu, 23 November 2016

MENJALA IKAN BERSAMA MBAH KYAI ABDUL HALIM ZAHID DI SUNGAI LAHAR KEDAWUNG, NGLEGOK, BLITAR



Secuplik Cerita bersama Sang Kyai Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Mutaallimin Dawuhan Kota Blitar

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Pada hari Minggu, 30 Agustus 2015 saya meluncur ke Pondok Pesantren Bustanul Mutaallimin Dawuhan Kota Blitar. Tujuan saya adalah ingin ikut menjala ikan di sungai Lahar Kedawung, Nglegok, Blitar, bersama Mbah Kyai Abdul Halim Zahid, sang pengasuh pesantren tersebut. Sesampai di lokasi pesantren tersebut, tampak berbagai kegiatan para santri yang biasanya dilakukan sejak pukul 07.30 WIB hingga 14.00 WIB. Perlu diketahui bahwa setiap hari Minggu di pesantren tersebut selalu dilakukan semaan al-Qur’an hingga sore hari. Terdengar suara lantunan al-Qur’an menggema di lingkungan pesantren dan sekitarnya. Selain itu, tampak di samping ndalem, Mbah Kyai Abdul Halim beserta beberapa santri sedang mempersiapkan ubo rampe yang akan dipakai untuk menjala ikan di sungai Lahar Kedawung, Nglegok, Blitar. Saya lalu menemui Mbah Kyai Abdul Halim Zahid, hingga sepuluh menit kemudian datanglah seorang santri membawa wedang kopi dari dapur yang berada tidak jauh dari tempat tersebut.

Oleh karena sesajian wedang kopi sudah dipersembahkan, maka kemudian saya dan Mbah Kyai Abdul Halim Zahid melakukan ritual “Puja Dewa Api” alias merokok serta rirual “Puja Dewa Kopi” alias menikmati wedang kopi. Saya mengadakan ritual rokok Surya Pro Mild dan Mbah Kyai Abdul Halim Zahid ritual Djarum Mild. Kira-kira pukul 08.40 WIB kami berangkat menuju sungai yang dimaksud bersama Mbah Kiai Abdul Halim Zahid dan para ustadz serta santri. Jarak sungai Lahar di Kedawung tersebut kira-kira 12 KM dari Pondok Pesantren Bustanul Mutaallimin kota Blitar. Sebelum berangkat ke sungai tersebut, kami sempat mengambil gambar atau memfoto Mbah Kiai Abdul Halim Zahid yang pada saat itu memakai sarung dan bersepatu. Pada saat saya memfoto, Mbah Kiai Abdul Halim Zahid juga sedang mengadakan ritual menghisap rokok Djarum Mild kesukaannya.

Sesampai di sungai Lahar di desa Kedawung, kami lalu bersiap-siap untuk menjala ikan. Kang Ustadz Alvin Salam dan Kang Ustadz Indar Prayitno beserta para santri siap-siap melepas sarung dan jaket yang mereka pakai. Saya pun juga melepas jaket untuk kemudian bergabung menjala ikan di sungai tersebut. Di tempat ini, Mbah Kiai Abdul Halim Zahid, ustadz dan para santri terlihat asyik bergurau, bahkan nyaris tanpa jarak mana yang kiai, ustadz, dan santri. Begitu pula, saat menjala ikan, Mbah Kiai Abdul Halim Zahid hanya mengenakan celana pendek dan bertopikan helm. Ah, tampak ada suasana “egaliter” (sederajat) di antara mereka. Dan lagi, aktivitas mencari ikan ini juga saya abadikan dalam foto. 

Sementara itu pula, ada hal yang menarik ketika saya ikut belajar “njala” bersama Mbah Kiai Abdul Halim Zahid, dkk.,. Yakni pada saat saya menjala, saya bisa menjala dan mendapatkan seekor ular air sebesar ibu jari kaki. Sepertinya, ular itu dinamakan “Ulo Kadud”, seekor ular air yang biasanya berukuran pendek dan besar serta biasa hidup di air. Seperti biasa, ketika ada kejadian yang unik saya lalu melakukan otak-atik gatut tentang Ulo Kadud tersebut. Ini kalau di dalam tradisi Jawa dinamakan “Kirata Basa”, dikira-kira pokok cetha (jelas). Lalu saya meng-kirata basa-kan Ulo Kadud tersebut. Dalam batin saya, “Ka”, artinya tekakno siro! (Kamu harus mendatangkan), “Dud” artinya ing udud (pada rokok). Jadi, “Kadud” berarti saya harus mendatangkan rokok (udud; Jawa) dari saku saya, kemudian harus merokok lagi. Hehehehe, ritual “Puja Dewa Api” lagi. Hehehe.

Kira-kira pukul 13.50 WIB semua rombongan tersebut kemudian pulang ke pondok. Di pondok masih terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari para santri dan sebagian warga Dawuhan kota Blitar. Karena hari sudah sore, saya lalu izin pamit kepada Mbah Kyai Abdul Halim Zahid dan kawan-kawan. Kata Mbah Kyai Abdul Halim Zahid: “Kono, nggowo-a iwak kono lho.” Jawabku: “Iya,ya mbah.” Tapi saya cumak iya-iya atau menjadi “Yesman”, tetapi tidak membawa ikan tersebut. Sesampai di rumah saya lalu makan dan shalat Asyar. Tak lupa, ritual Ngopi juga harus saya lakukan. Ya, mungkin ini saja ending dari catatan harian saya kali ini. Mudah-mudahan hari ini lebih baik dari hari yang kemarin. Lebih berkah untuk kehidupan kini dan mendatang. Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin.

“Religion without science is empty”
(Agama tanpa ilmu adalah hampa)

Semoga welas asih Tuhan menebar ke seluruh alam semesta. 

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
 
Menjala ikan di Sungai Lahar Kedawung, Nglegok, Blitar. Saya berkaos biru berada di belakang Mbah Kyai Abdul Halim Zahid
 

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang memiliki hobi perpetualang dalam samudra dan benua ilmu pengetahuan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang kesehariannya belajar, mengajar, diskusi, mengaji, meneliti, menulis, membaca, menyadari, mengamati, mewaspadai, dan berbagai pekerjaan lain yang tak bisa dijelaskan tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

MENGUNJUNGI KANGMAS MUHAYANI DI “PUTHUK AYEM” VIHARA BUDDHA SASANA BUNENG, SELOREJO, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Seperti biasa, tiap Sabtu dan Minggu saya ke Malang. Hari ini sepulang dari Malang saya mengunjugi Kangmas Muhayani yang berada di “Puthuk Ayem” Vihara Buddha Sasana, Buneng, Selorejo, Blitar. Puthuk Ayem merupakan salah satu tempat retret meditasi yang diasuh oleh Bhikkhu Sukhito Thera. Istilah “Puthuk Ayem” diartikan sebagai puncak kebahagiaan atau kedamaian. Mungkin ada harapan bahwa mereka yang pernah singgah dan latihan meditasi tersebut mudah-mudahan mendapatkan puncak kebahagiaan. Kalau dalam agama Buddha mungkin puncak kebahagiaan itu disebut “Nibbana” dalam bahasa Pali dan “Nirwana” dalam bahasa Sanksekerta. Nibbana atau Nirwana sering diartikan puncak kebahagiaan yang tidak terkondisikan atau terlahirkan kembali. Ah, saya kok jadi sok tahu tentang nibbana dalam Buddhist.

Ya, hari ini saya pertama kali melihat dan menelusuri Puthuk Ayem yang berada di puncak bukit di Buneng tersebut. Sesampai di gapura pintu masuk Vihara Buddha Sasana tampak Bhikkhu Sukhito Thera sedang berbincang dengan seseorang. Saya tidak tahu orang yang diajak bicara Bhikkhu Sukhito Thera tersebut. Mengetahui saya datang ke situ, Bhikkhu Sukhito tersenyum dan mengatakan pada saya, “Oh, Arif. Silahkan masuk Rif. Oya dari mana?. Dari Blitar atau dari mana?.” Jawab saya, “Ah ini Bhante, saya dari Malang. Ini tadi sudah ngebel Kangmas Muhayani. Mau ketemu dia. Sudah lama saya tidak ketemu.” Kata Bhikkhu Sukhito Thera, oya silahkan. Lalu beliau sambil merangkul pundak saya menuju ke belakang dhammasala Vihara Buddha Sasana. Tampak di teras depan kamar belakang dhammasala ada para tamu yang konon rombongan dari Surabaya.

Sesampai di belakang dhammasala dan samping ruang dapur kemudian Bhikkhu Sukhito Thera mempersilahkan saya naik puncak “Puthuk Ayem” yang berada di atas bukit Buneng. Sesampai di Puthuk Ayem, saya lihat Kangmas Muhayani masih duduk nyantai di dhammasala bagian atas. Sebentar kemudian, Kangmas Muhayani dapat telepon dari Bhikkhu Sukito Thera agar mempersiapkan dhammasala atas, sebab tamu-tamu dari Surabaya akan ada acara di tempat tersebut. Ya, saya akhirnya ikut membantu Kangmas Muhayani menggelar karpet dan memasang pengeras suara untuk acara tersebut. Setelah itu, saya dan Kangmas Muhayani menuju ke ruang kuti di sebelah selatan dhammasala Puthuk Ayem itu.

Oya, ada cerita lainnya. Sekali pada waktu saya ke Puthuk Ayem tersebut, saya bersama Kangmas Muhayani dan Bhikkhu Jayaratano sempat pula mengadakan diskusi-diskusi kecil tentang berbagai situasi dan kondisi di Indonesia. Saya ingat beberapa penggal kata saat diskusi dengannya, yaitu: “Perbedaan agama dan keyakinan itu indah bila kita bisa merawatnya. Bangsa Indonesia akan menjadi kuat bila masyarakat bisa mengelola semua perbedaan yang ada.” Tentu saja, penggalan kata-kata tersebut menjadi penyemangat bagi saya untuk terus bertekad merawat dan mengelola segala perbedaan yang ada di dunia. Saya selalu berdoa, mudah-mudahan “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa” yang ada dalam Kitab Sutasoma karya Empu Prapanca, terus menjadi pegangan hidup para generasi tua dan muda untuk mencapai kebahagiaan bersama bangsa ini.

Kembali ke cerita saya di ruang kuti di atas. Dalam ruang kuti tersebut, saya dan Kangmas Muhayani menikmati ritual “Ngopi” (minum wedang kopi) dan puja bhakti kepada “Dewa Api Apache” (alias merokok rokok Apache). Tak lupa, di sela-sela ritual ngopi dan puja bhakti Dewa Api Apache tersebut kami berdua bicara ngalor-ngidul. Diskusi tentang berbagai hal, mulai dari meditasi, tatanan ajaran Jawa, kisah tentang Brawijaya, mitos Sabdopalon-Noyogenggong, Prabu Jayabaya Kediri, dan semacamnya. Tak terasa, perbincaan ngalor ngidul itupun menghabiskan wedang kopi dengan gelas berukuran besar. Kemudian Kangmas Muhayani sempat menawari wedang kopi lagi. Saya katakan padanya, “Wis mas, aku wis klempoken.” Wal khasil, dan oleh karena hari sudah mulai sore, saya minta izin Kangmas Muhayani, Bhikkhu Sukhito Thera, dan Bhikkhu Jararatano untuk meluncur ke rumah kampung halaman di Sekardangan, Blitar.

Ah, apalagi yang harus saya kisahkan. Oya, saya juga berfoto di dhammasala bagian atas yang berada di “Puthuk Ayem” puncak bukit Buneng tersebut. Lihat saja foto saya di bawah nanti. Mungkin cukup ini dulu catatan harian saya kali ini. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Kuasa selalu memberikan kemudahan kepada saya dalam menghadapi segala urusan, baik urusan di kehidupan kini maupun mendatang. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi diri saya, kawan-kawan saya, kerabat-kerabat saya, guru-guru saya, orang tua saya, dan siapapun yang berhubungan karma dengan saya. Mudah-mudahan semua makhluk bebas dari kebencian, bebas dari menyakiti dan disakiti, bebas dari mendengki dan didengki, bebas dari kekotoran batin, dan semacamnya. Amin.

“Wherever you are, be a useful man”
(Di manapun Anda berada, jadilah manusia berguna)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Foto di dhammasala Puthuk Ayem di Puncak Bukit Buneng dari Kangmas Muhayani
 

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang memiliki hobi perpetualang dalam samudra dan benua ilmu pengetahuan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang kesehariannya belajar, mengajar, diskusi, mengaji, meneliti, menulis, membaca, menyadari, mengamati, mewaspadai, dan berbagai pekerjaan lain yang tak bisa dijelaskan tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

BERKUNJUNG KE KELENTENG “POO AN KIONG” DI JANTUNG KOTA BLITAR, JAWA TIMUR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Kira-kira saya umur 5 tahun, pada waktu ayah saya menghantarkan ibu saya di Pasar Kulon kota Blitar ada kisah yang perlu saya ceritakan. Ya, saat itu ketepatan di Kelenteng Poo An Kiong kota Blitar yang berada dekat pasar, ada pertunjukan wayang Tionghoa, apa namanya wayang itu saya lupa.  Karena ketertarikan saya pada wayang tersebut, saya kemudian meminta dan meronta-ronta kepada ayah agar menghantarkan saya melihat pertunjukan wayang dalam kelenteng tersebut. Dalam kelenteng tersebut banyak dipenuhi pernak-pernik warna merah. Saat itu, terlihat banyak pula orang-orang melihat pertunjukan wayang tersebut. Tapi tentunya, tak sebanyak mereka yang berjualan dan berbelanja di pasar yang berada di sebelah barat kelenteng tersebut. Mungkin inilah sebagian yang bisa saya ingat waktu kecil ketika pertama kali saya memasuki sebuah kelenteng Tionghoa.

Saya kisahkan pula di sini, saat remaja hingga kini, saya juga beberapa kali melihat wayang Tionghoa di kelenteng tersebut sembari berusaha memahami ceritanya. Namun hingga saat ini saya gagal paham mengenai cerita wayang tersebut. Walaupun berkali-kali melihat wayang Tionghoa di kelenteng tersebut, saya pun juga tidak kenal siapa pengurus atau tokoh ulama dalam kelenteng tersebut. Ah, tak masalah dengan hal tersebut. Bagi saya, yang terpenting adalah sudah melakukan belajar dan belajar. Ya, belajar apa saja. Konon kata Nabi Muhammad saw: “Uthlubul Ilma wa Lauu Bis Shiin”, artinya tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Walaupun saya belum bisa ke negeri Cina, semoga perjalanan saya menuntut ilmu ke kelenteng Cina ini dicatat di sisi Allah swt sebagai perjalanan menuntut ilmu ke negeri Cina. Amiin. Amiin. Ya Gusti Allah.

Hari ini, di pertengahan Agustus 2016 saya berkesempatan berkunjung lagi ke kelenteng “Poo An Kiong” yang berada di jantung kota Blitar tersebut. Namun acara saya hari ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Hari ini saya ingin lebih tahu banyak tentang tradisi “Tridharma” yang ada di kelenteng tersebut, di antaranya: (1) Dharma Taoisme, dengan simbol yang biasa digunakan pada Yin dan Yang; (2) Dharma Buddha tradisi Cina, dengan simbol seperti simbol Nazi; dan (3) Dharma Khonghucu, dengan simbol sebuah Genta atau Lonceng. Ya, ketepatan pas hari ini di kelenteng tersebut ada acara bazar kebutuhan sehari-hari. Saya lalu membeli beras 5 kiloan dan Mie Goreng Ayam Sedap 5 bungkus. Setelah itu, saya masuk kelenteng dan meminta informasi berbagai tradisi yang ada di kelenteng tersebut. Saya juga meminta buku-buku yang biasanya dibagikan secara gratis.

Dalam petualangan saya mencari ilmu di kelenteng “Poo An Kiong” di jantung kota Blitar tersebut, saya mendapatkan beberapa buku, di antaranya adalah “Kitab Suci Thai Siang Lo Kun”, yang berisi tentang Too. Disebutkan dalam kitab bahwa Aku berkata: “Too yang agung tiada rupa, justru menciptakan langit dan bumi; Too yang agung tiada rasa, justru mengedarkan surya dan bulan; Too yang agung juga tiada nama, justru terus-menerus memeliharakan segala makhluk.” (Ching Cing Keng). Selain itu, saya juga mendapatkan ilmu baru salah satunya tentang “Delapan Pengakuan Iman” agama Khonghucu, di antaranya: (1) sepenuh iman percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) sepenuh iman menjunjung tinggi kebaikan; (3) sepenuh iman menegakkan firman gemilang; (4) sepenuh iman menyadari adanya nyawa dan roh; (5) sepenuh iman memupuk cita berbakti; (6) sepenuh iman mengikuti genta rohani Nabi Khongcu; (7) sepenuh iman memuliakan kitab Su Si; dan (8) sepenuh iman menempuh jalan suci.

Tak jauh dari hal di atas, salah satu ciri khas ajaran Tridharma juga memasukkan inti dari ajaran agama Buddha di dalamnya. Dalam Buddha, ada tiga perlindungan yang hendak dilakukan setiap umatnya, yaitu: (1) Aku berlindung kepada Buddha; (2) Aku berlindung kepada Dhamma; dan (3) Aku berlindung kepada Sangha. Namun ketiga perlindungan tersebut bukanlah merupakan perlindungan secara aktif, namun secara pasif. Sebab yang aktif untuk melindungi dirinya sendiri adalah dirinya sendiri. Kata Sang Buddha: “Diri sendiri adalah pelindung dirinya sendiri.” Dengan demikian, pikiran, uacapan, dan perbuatan diri kira sendirilah yang bisa melindungi diri kita. Diri kitalah yang bisa menentukan perlindungan terhadap diri kita. Demikianlah kiranya.

Mungkin hanya sampai di sini dulu catatan harian saya kali ini. Akhirnya saya akhiri dengan ungkapan bernafaskan agama Khonghucu berikut: “Hanya kebajikan Tuhan Yang Maha Esa (Thian) berkenan dan memberkati, maka sepenuh iman menjunjung kebaikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup manusia, dan di sinilah TUJUAN UTAMA AGAMA...” (Kitab Su King IV.iv.III.8). Mudah-mudahan tercipta negara dan bangsa Indonesia yang damai, tenteram, dan bahagia. Mudah-mudahan tercipta negara dan bangsa Indonesia yang berbhinneka tuggal ika, yakni berbeda-beda agama, etnis, budaya, dan semacamnya, tetapi tetap satu tujuan dalam cita-cita persatuan dan kesatuan. Amin. Amin. Ya Rabbal Alamin.

“The Will springs the knowledge”
(Kemauan menjadi sumber pengetahuan)

Semoga welas asih Tuhan menebar ke seluruh alam semesta.
“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
Kelenteng Poo An Kiong di Jantung kota Blitar, Jawa Timur
 
Kelenteng Poo An Kiong di jantung Kota Blitar
 
Saat acara bazar di Kelenteng Poo An Kiong di Jantung Kota Blitar
 

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang memiliki hobi perpetualang dalam samudra dan benua ilmu pengetahuan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang kesehariannya belajar, mengajar, diskusi, mengaji, meneliti, menulis, membaca, menyadari, mengamati, mewaspadai, dan berbagai pekerjaan lain yang tak bisa dijelaskan tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Sabtu, 19 November 2016

WORD INTERFAITH HARMONY WEEK: DIALOG ISLAM-BUDDHIS TENTANG WELAS ASIH (COMPASSION)



Bertempat di STAB Kertarajasa, Batu, Malang, 2 Maret 2016

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Pada tanggal 2 Maret 2016 saya dipercaya oleh Prof. Syamsul Arifin, M.Si (Direktur PUSAM UMM) sebagai moderator dalam acara bertajuk “Word Interfaith Harmony Week: Dialog Islam-Buddhis tentang Welas Asih (Compassion)” di STAB Kertarajasa, Batu, Malang. Adapun nara sumber dalam acara tersebut di antaranya: Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si (PUSAM UMM), Dr. Budhy Munawar-Rachman, M.A (The Asia Foundation), Bhikkhu Jayamedho, dan Bhikkhu Santacitto. Acara tersebut dihadiri dari berbagai unsur agama; Islam, Kristen, Buddha (yakni para samanera, bhikkhu, attasilani, dan semacamnya). Sebelum acara dimulai, bagi yang beragama Islam melakukan shalat Dhuhur di aula STAB Kertarajasa bagian depan. Sementara mereka yang non-Islam bisa langsung menuju dhammasala yang disediakan untuk melakukan diskusi atau ngobrol-ngobrol di halaman.

Saya selaku moderator, membuka gambaran tentang konsep welas asih dalam Buddhis yang disebut “Karuna” dan welas asih dalam Islam yang disebut “Rahmah” dari ayat al-Qur’an: “Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil alamin” yang artinya Wahai Muhammad, Aku tidak mengutus kamu kecuali sebagai rahmat atau kasih sayang bagi semesta alam. Menurut saya, acara-acara semacam ini sangat bagus sekali guna untuk mempelajari konsep welas asih Islam dan Buddha. Walau mungkin konsep tentang welas asih (compassion) tersebut ada persamaan, juga ada perbedaaan dari Islam-Buddha, namun yang terpenting bagi saya adalah semangat “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa”, artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua. Berbhinneka inilah bagi saya  merupakan sesuatu harus terus ditanamkan kepada warga negara Indonesia.

Apalagi ya yang harus saya kisahkan. Oya, sebelum acara di mulai, semua peserta diskusi diajak-ajak Bhikkhu Jayamedho dan Bhikkhu Santacitto berkunjung ke kuti-kuti yang dipakai meditasi di seputar Padepokan Dhammadipa Arama STAB Kertarajasa Batu, Malang tersebut. Selain itu, keduanya juga mengajak ke museum-museum yang ada di seputar tempat tersebut. Di museum tersebut, saya melihat patung para Bhikkhu dari berbagai tradisi dunia, di antaranya; tradisi Thailand, Myanmar, Cina, Jepang, dan lain sebagainya. Begitu pula, saya juga melihat berbagai macam tulisan tokoh para Buddha yang pernah ada sebelum Pangeran Sidharta Gautama menjadi “Buddha”, artinya orang yang sadar.

Oya, saya ingin kisahkan pula bahwa saya meluncur dalam acara diskusi tersebut bersama Pak Agung Priyo Kusumo, seorang mantan Kepala Bagian Keuangan BNI kota Blitar. Sebenarnya, Pak Agung ingin ikut acara tersebut sekaligus juga ingin beli matras buat meditasi di Koperasi STAB Kertarajasa Batu, Malang. Namun ternyata, matras yang beliau cari tidak ada alias habis. Oleh karena habis, beliau hanya bisa ikut acara diskusi welas asih (compassion) Islam-Buddha dalam acara tersebut. Selanjutnya, setelah acara tersebut selesai, saya dan Pak Agung pulang kembali ke Blitar saat hujan deras. Sesampai di bendungan Lahor Karangkates, saya dan Pak Agung berhenti di warung dalam ritual “Ngemi” (makan mie bungkusan) dan “Ngopi” (minum wedang kopi hangat).

Mungkin hanya ini saja catatan harian (cahar) saya kali ini. Mudah-mudahan saya bisa menebar welas asih (compassion) seperti yang telah diajarkan Para Nabi, Para Buddha, Para Wali, dan para tokoh spiritual lainnya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberi pertolongan kepada saya dalam menempuh tujuan hidup yang hakiki. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu memberikan cinta kasihnya kepada saya. Semoga Tuhan Yang Maha Penyayang selalu menyayangi saya di kehidupan kini dan mendatang. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan kebahagian dan kedamaian bagi saya dan semua makhluk-Nya. Mudah-mudahan welas asih yang ada di langit dan bumi selalu menebar ke segala penjuru. Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin.

Semoga welas asih Tuhan menebar ke seluruh alam semesta. 

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”

(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Saya sebagai moderator dalam acara diskusi Islam-Buddha tentang Welas Asih di STAB Kertarajasa Batu Malang
 
Acara diskusi Islam-Buddha tentang Welas Asih (compassion) di STAB Kertarajasa Batu Malang

 
Acara diskusi Islam-Buddha tentang Welas Asih di STAB Kertarajasa Batu Malang
 
Prof. Syamsul Arifin, M.Si., Bhikkhu Santacitto, Bhikkhu Jayamedho, dan Dr. Budhy Munawar-Rachman
 
Prof. Syamsul Arifin, M.Si dan Bhikkhu Jayamedho sedang bincang-bincang
 
Banner dalam acara diskusi Islam-Buddha tentang Welas Asih di STAB Kertarajasa Batu Malang
 


Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang memiliki hobi perpetualang dalam samudra dan benua ilmu pengetahuan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang kesehariannya belajar, mengajar, diskusi, mengaji, meneliti, menulis, membaca, menyadari, mengamati, mewaspadai, dan berbagai pekerjaan lain yang tak bisa dijelaskan tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.