Sabtu, 22 Oktober 2016

RADEN NGABEHI WIROGATI CIKAL BAKAL DESA JATIMALANG, SENTUL, KOTA BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Pada saat terjadi pemberontakan Trunojoyo di Kraton Mataram, banyak sekali para keturunan Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi Bin Maulana Hamzah Bin Maulana Rahmatullah/ Sunan Ampel/ Haji Bong Swi Ho) yang hijrah hingga ke daerah Blitar dan sekitarnya. Salah satunya adalah Raden Ngabehi Wirogati. Perlu diketahui bahwa Raden Ngabehi Wirogati merupakan keturunan ke-6 dari Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi) yang menjadi cikal bakal berdirinya desa Jatimalang, Sentul, Kota Blitar. Adapun silsilah Raden Ngabehi Wirogati yang berurutan hingga Sunan Tembayat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi)
2.    Raden Ishaq Panembahan Jiwo
3.    Panembahan Minang Kabul Ing Tembayat
4.    Panembahan Masjid Wetan
5.    Raden Ayu Wongsodipo (istri Adipati Martopuro Jepara)
6.    Raden Ngabehi Wirogati Jatimalang, Sentul, Blitar
Dikisahkan bahwa Raden Ngabehi Wirogati memiliki tiga orang istri. Dari salah satu istri Raden Ngabehi Wirogati tercatat memiliki empat orang anak sebagai berikut, yaitu:
1.    Kyai Ponco Hardjo, memiliki satu putra yaitu Mbah Kasimin.
2.    Kyai Mangun, memiliki lima putra yaitu: (1) Mbah Sainem; (2) Mbah Sadjinem; (3) Mbah Sainah; (4) Mbah Sarah; dan (5) Mbah Mangun Karso.
3.    Kyai Djowongso, memiliki sembilan anak yaitu: (1) Mbah Katiyem; (2) Mbah Wongso Sentono; (3) Mbah Wongso Hardjo; (4) Mbah Karsontono; (5) Mbah Kanikem; (6) Mbah Kamisah; (7) Mbah Sopuro; (8) Mbah Asmo Mihardjo; dan (9) Mbah Djojo Kasbi.
4.    Kyai Djojo Hardjo, tidak memiliki keturunan.
Selanjutnya dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa Mbah Kasimin memiliki lima putra-putri yang merupakan cucu dari Kyai Ponco Hardjo, di antaranya: (1) Mbah Saekun; (2) Mbah Tinem; (3) Mbah Sujud; (4) Mbah Sirum; dan (5) Mbah Seno.
Adapun cucu Kyai Mangun dari anaknya yang bernama Mbah Sainem, di antaranya; (1) Mbah Misidjan; (2) Mbah Misiran; (3) Mbah Katilah; dan (4) Mbah Rasmi. Sedangkan cucu Kyai Mangun dari anaknya yang bernama Mbah Sadjinem adalah Mbah Hardjo Diran dan Mbah Sampirah. Sementara itu, cucu Kyai Mangun dari Mbah Sainah ada satu yaitu Mbah Sukinem. Selanjutnya, cucu Kyai Mangun dari Mbah Sarah juga ada satu yaitu Mbah Sakidjo. Terakhir, cucu Kyai Mangun dari Mbah Mangun Karso ada dua yaitu: Mbah Muadji dan Mbah Kardjono.
Ketiganya, cucu Kyai Djowongso dari anaknya yang bernama Mbah Katiyem di antaranya: (1) Mbah Sanidjem; (2) Mbah Samiran; (3) Mbah Samidjah; (4) Mbah Samirah; (5) Mbah Saminah; (6) Mbah Katinah; dan (7) Mbah Isnu Ranu Pranoto. Adapun cucu Kyai Djowongso dari Mbah Wongso Sentono, di antaranya: (1) Mbah Sastrodipuro; (2) Mbah Minah; (3) Mbah Hardjowirjo; (4) Mbah Mariyam; (5) Mbah Kartodihardjo; (6) Mbah Djodjowirjo; (7) Mbah Siswo Sudjono; (8) Mbah Tjokro Rustam; (9) Mbah Ladijo; (10) Mbah Ladiman; (11) Mbah Ruslan; (12) Mbah Kartini; dan (13) Mbah Sunoto.
Selanjutnya, cucu Kyai Djowongso dari putranya yang bernama Mbah Wongso Hardjo, di antaranya: (1) Mbah Kasmi; (2) Mbah Karmidi; (3) Mbah Minem; (4) Mbah Partun; (5) Mbah Wagijem; (6) Mbah Karsitojo; (7) Mbah Ngatirah; dan (8) Mbah Kamidah. Adapun cucu Kyai Djowongso dari putranya yang bernama Mbah Karsontono, di antaranya: (1) Mbah Simur; (2) Mbah Mursijem; (3) Mbah Kardi; (4) Mbah Sudjamilah; (5) Mbah Tumijem; dan (6) Mbah Marsinah. Cucu Kyai Djowongso dari Mbah Kanikem, di antaranya: (1) Mbah Raminem; (2) Mbah Tumidjah; (3) Mbah Lasiman; (4) Mbah Tuminem; dan (5) Mbah Tumilah.
Tak jauh dari hal di atas, cucu Kyai Djowongso dari anaknya yang bernama Mbah Kanisah, di antaranya: (1) Mbah Saripah; (2) Mbah Sastro Kamiran; dan (3) Mbah Sarimah. Sedangkan cucu Kyai Djowongso dari anak Mbah Sopuro, di antaranya: (1) Mbah Hardjo Saimun; (2) Mbah Rusmi; (3) Mbah Rusman; (4) Mbah Sukarmi; (5) Mbah Sutinah; dan (6) Mbah Karmiyatun. Sementara cucu Kyai Djowongso dari anak Mbah Kasmo Mihardjo, di antaranya: (1) Mbah Warti; (2) Mbah Sunarko; dan (3) Mbah Mikapti. Terakhir, cucu Kyai Djowongso dari anak Mbah Djojo Kasbi, di antaranya: (1) Mbah Sukatmi; (2) Mbah Sukatinem; (3) Mbah Sukamto; (4) Mbah Sumilah; (5) Mbah Suparti; (6) Mbah Bedjo; (7) Mbah Sudjono; dan (8) Mbah Sudarmin.
Persebaran keturunan Sunan Tembayat dari jalur Raden Ngabehi Wirogati banyak menyebar di Jatimalang, Sentul, Kota Blitar. Tentu saja, anak cucu Raden Ngabehi Wirogati yang semakin lama semakin banyak tidak hanya menyebar di tempat beliau menjadi cikal bakal desa tersebut. Mereka banyak menyebar ke berbagai daerah hingga Surabaya, Jakarta, dan lain sebagainya. Tak berhenti di situ saja, pertemuan perkawinan dari antarketurunan pun juga terjadi sebagaimana dalam keturunan-keturunan Sunan Tembayat lainnya. Tentu saja, hal yang demikian seakan-akan membentuk jaring laba-laba secara alamiah (natural). Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin.

Ziarah di Makam Eyang Wirogati Jatimalang, Sentul, Kota Blitar bersama Gus Ilham Rofii (Jatimalang), Gus Hariyanto (Kauman-Blitar), Gus Sirus (Solo), dan Gus Putu Ari Sudana (Garum)

Penulis
Arif Muzayin Shofwan. Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. HP. 085649706399.

Kamis, 20 Oktober 2016

PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM MULTIKULTURAL (Studi Konstruksi Sosial Kiai di Pondok Pesantren Bustanul Mutaallimin Blitar)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Sidang Terbuka Doktor PAI UMM, Selasa 18 Oktober 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.
Yang saya hormati Bapak Dr. Latipun selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
Yang saya hormati Bapak Prof. Dr. Tobroni selaku Ketua Program Studi Doktor PAI Universitas Muhammadiyah Malang.
Terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Syamsul Arifin selaku promotor, Bapak Dr. Moh. Nurhakim dan Bapak Dr. Samsul Hady selaku kopromotor beserta dewan penguji dan para undangan yang berkenan hadir dalam ujian terbuka saya hari ini.
Puji syukur saya haturkan kepada Ilahi Robbi di mana pada hari ini kita semua dapat berkumpul di sini majelis dalam keadaan sehat wal afiyat.
Bapak, Ibu, Saudara-Saudari yang berbahagia.
Perkenankan pada hari ini saya menyampaikan hasil penelitian tugas akhir kuliah di Program Doktor PAI Universitas Muhammadiyah Malang dalam sidang ujian terbuka ini.
Ada banyak penelitian yang menyatakan bahwa pesantren merupakan salah satu pendidikan Islam yang memiliki watak multikultural. Namun ada pula beberapa penelitian yang menyatakan bahwa pesantren merupakan sarang teroris, eksklusif, dan jauh dari watak multikultural.
Penelitian tugas akhir saya ini, hanya ingin menjawab 3 rumusan masalah melalui teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann yang meliputi tiga momen (ekternalisasi, objektivasi, dan internalisasi) di antaranya:
1.      Pemikiran kiai tentang PKIM[1]: Jawaban dari rumusan masalah ini merupakan bagian dari momen eksternalisasi kiai (Artinya, bagaimana kiai mencurahkan kegiatan mental dan fisik berupa pemikiran PKIM di dalam dunia sosio-kultural berupa pesantren yang dia bina)
2.      Konstruk model pembelajaran PKIM: Jawaban dari rumusan masalah ini merupakan bagian dari momen objektivasi (Artinya, hasil yang dicapai kiai dari kegiatan eksternalisasi di atas). Hasil yang dicapai kiai dalam penelitian ini adalah berupa model pembelajaran PKIM yang diterapkan di pesantren tersebut.
3.      Internalisasi kiai, ustadz, dan antri (warga pesantren) tentang PKIM. Internalisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah membahas tentang bagaimana PKIM tersebut diinternalisasikan kiai, ustadz, dan santri (warga pesantren) hingga menjadi pola pikir, sikap, dan tindakan real di dunia sosio-kultural berupa pesantren
Berdasarkan hasil penelitian dari rumusan masalah pertama, ada beberapa pemikiran yang curahkan (di-eksternalisasi-kan) oleh kiai dalam dunia sosio-kultural berupa pesantren dan signifikan dengan teori dan prinsip pendidikan multikultural yang diusung oleh para pakar, di antaranya: (1) toleransi/tasamuh; (2) saling mengenal/ta’aruf; (3) saling menghargai; (4) demokrasi/musyawarah; (5) saling menghormati/taharum; (6) saling menyayangi/tarahum; (7) saling tolong-menolong/ta’awun; (8) kedamaian/as-silmi; dan (9) keadilan/adl. Yang mana, hal tersebut bisa digali dari pemikiran kiai secara khusus, melalui kitab-kitab klasik yang diajarkan, dan lain sebagainya.
Adapun hasil penelitian dari rumusan masalah yang kedua, dapat dijelaskan bahwa model pembelajaran PKIM yang dikonstruk kiai di PPBM Blitar berfokus pada 4 komponen, yaitu: (1) pendesainan kurikulum; (2) penanaman nilai-nilai multikultural; (3) penciptaan lingkungan multikultural; dan (4) pendesaianan tempat pembelajaran. Inilah yang saya maksud objektivasi sebagaimana yang saya uraikan di atas. Yakni, hasil yang dicapai kiai dari kegiatan eksternalisasi berupa model pembelajaran PKIM. Selanjutnya, dari 4 komponen tersebut diuraikan lagi menjadi dua model pembelajaran PKIM, yaitu: langsung dan tak langsung.
Model Pembelajaran langsung adalah proses pembelajaran yang langsung disampaikan atau diteladankan oleh kiai. Model ini dilakukan melalui 7 hal, yaitu: (1) pengajaran kurikulum pesantren tradisional/salafi al-nahdliyah; (2) sosialisasi melalui khutbah Jumat; (3) pawai ta’aruf Islam rahmatan lil alamin; (4) mengadakan dialog lintas agama/kultur; (5) bekerjasama dengan agama dan ormas agama lain; (6) penerapan 17 kultur kepesantrenan serta 18 kultur budaya dan karakter bangsa; dan (7) keteladanan melalui prilaku ideal kiai dalam masyarakat pesantren.
Model pembelajaran tak langsung adalah pembalajaran yang disampaikan khadam atau badal kiai. Jadi, kiai tidak memberikan pembelajaran secara langsung. Model ini dilakukan melalui 4 hal, yaitu: (1) pengajaran kurikulum pesantren modern/kurikulum kemenag dan kemendiknas, melalui lima aspek, yaitu: Qur’an, Akidah, Akhlak, Fikih, dan Tarikh; (2) penyelenggaraan Praktek Kerja Nyata/PKN; (3) Pengajian lintas kultur di Radio Bumi FM milik pesantren; dan (4) penyelenggaraan sekolah film dokumenter multikultural.
Terakhir, hasil dari rumusan masalah yang ketiga adalah terkait internalisasi kiai, ustadz,dan santri (warga pesantren) tentang PKIM. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa, PKIM  dapat terinternalisasikan pada kiai, ustadz, dan santri (warga pesantren) hingga menjadi sebuah pola pikir, sikap, dan tindakan disebabkan 5 faktor, diantaranya: (1) kekondusifan visi lembaga pesantren, yakni ada visi lembaga yang ingin menjadikan para santri menjadi generasi muslim aswaja. Dalam aswaja, ada beberapa nilai yang signifikan dengan pendidikan multikutural yang diusung para pakar, di antaranya: toleransi/tasamuh; moderat/tawazun; seimbang/tawasuth; dan keadilan/adl; (2) kekondusifan pendesainan kurikulum. Yakni, desain kurikulum pesantren tradisional/salafi al-nahdliyah, akan menjadikan para santri tidak tercerabut akar budaya “ke-santri-an” di pesantrennya. Sedangkan desain kurikulum modern/kemenag dan kemendiknas, akan menjadikan para santri tidak ketinggalan arus kemajuan zaman yang semakin mengglobal; (3) kekondusifan penanaman nilai multikultural. Yakni, penanaman nilai multikultural yang kondusif sesuai dengan situasi dan kondisi bisa menjadikan nilai-nilai PKIM terinternalisasi hingga menjadi sebuah pola pikir, sikap, dan tindakan yang real bagi para warga pesantren. Hal ini misalnya, melalui pawai ta’aruf Islam rahmatan lil alamin, Praktek Kerja Nyata (PKN), penyelenggaraan film dokumenter, dan lainnya; (4) kekondusifan dalam menciptakan lingkungan multikultural. Yakni, penciptaan lingkungan multikultural yang kondusif sesuai dengan situasi dan kondisi dapat menjadikan nilai-nilai PKIM terinternalisasikan hingga menjadi sebuah pola pikir, sikap, dan tindakan yang real bagi warga pesantren. Misalnya, melalui dialog lintas agama, kerjasama dengan agama lain, dan penerapan 17 kultur kepesantrenan serta 18 kultur budaya dan karakter bangsa; (5) kekondusifan pendesainan tempat pembelajaran. Yakni, desain tempat pembelajaran kurikulum pesantren tradisional/salafi al-nahdliyah tetap dipertahankan sesuai yang lama, agar tidak tercerabut dari budaya pesantren yang ada. Ada beberapa desain tempat pembelajaran dalam kurikulum pesantren tradisional, yaitu: ruang kelas, serambi masjid, aula terbuka, teras kamar santri, dan ndalem kiai. Adapun desain tempat pembelajaran kurikulum pesantren modern (kemenag dan kemendiknas) lebih lentur (moderat) dalam memilih tempat kegiatan belajar mengajar agar tidak ketinggalan zaman. Misalnya, selain tempat pembelajaran di atas juga menggunakan tempat pembelajaran lain seperti: perpustakaan Bung Karno, Candi Penaratan, dan lainnya.
Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari yang berbahagia.
Oleh karena keterbatasan waktu dalam menyampaikan hasil penelitian dalam majelis yang penuh barokah ini, maka saya cukupkan sekian.
Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Arif Muzayin Shofwan bersama Sembilan Dewan Penguji
Wawancara dengan Batu TV Malang
Berfoto bersama Muttaqin, S.Ag, M.Pd.I dan Nikmatin Lana Farida, S.Pd.I beserta anaknya
Berfoto dengan adik saya Nikmatin Lana Farida, S.Pd.I
Para tamu undangan ujian terbuka
Sebelum acara ujian terbuka dimulai
Foto ujian terbuka dari Prof. Syamsul Arifin, M.Si guru besar UMM
Foto usai dari Malang di Kesamben, Blitar dari Mbak Eka (cucu Kyai Hasan Munajat)
Wawancara dengan TV Batu Malang
Foto bersama adik saya Nikmatin Lana Farida, S.Pd.I, dan Muttaqin, M.Pd.I
Foto usai Ujian Terbuka
Foto bersama adik saya Nikmatin Lana Farida, S.Pd.I dan keponakan
Ucapan selamat dari Kampus Universitas Muhammadiyah Malang
Usai ujian Terbuka UMM
Acara ujian terbuka usai dan akan dibacakan hasilnya
Wawancara dengan Batu TV Malang


[1] PKIM: Pendidikan Keagamaan Islam Multikultural.

Kamis, 13 Oktober 2016

KI KEBO KANIGORO, TANDA POHON JATI, DAN KETURUNANNYA (DARI KANIGORO-BLITAR HINGGA SUKOHARJO)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) merupakan saudara dari Ki Kebo Kenongo (Kiai Syihabuddin), Ki Kebo Amiluhur, Ki Kebo Sulastri dan merupakan putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh/ Prabu Sri Makurung Handayaningrat (+ Raden Ayu Pambayun binti Prabu Brawijaya V). Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) juga merupakan tokoh legendaris yang terkait dalam rentetan perpolitikan empat kerajaan, yakni: Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Ada banyak lika-liku hidup yang harus dilalui tokoh Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) mulai dari pengejaran dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap pribadinya, hingga perjalanan hidupnya yang sering berpindah-pindah tempat karena mencari keselamatan jiwa dan raga karena rentetan perpolitikan empat kerajaan di atas. Dalam perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah tersebut, Ki Kebo Kanigoro sering berganti nama samaran agar tidak diketahui identitas dirinya. Begitu pula, para keturunan dan keluarganya juga selalu berganti nama samaran untuk keselamatan mereka.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengkaji berbagai petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang biasanya atau rata-rata ditandai dengan “Pohon Jati” beserta sebagian keturunan lainnya. Telah disebutkan bahwa, pada zaman dahulu kala, sebuah pohon sering dijadikan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) untuk mereka yang memiliki latar belakang tertentu. Misalnya, tanda “Pohon Sawo” selalu digunakan oleh para keturunan Panembahan Sawo Ing Kajoran (yakni; semua para trah Kajoran hampir selalu menggunakan sandi/tanda Pohon Sawo bagi semua keturunannya). Dalam kirata basa orang Jawa, Pohon Sawo di-kiratabasa-kan dengan bahasa al-Qur’an sebagai “Sawwu Shufufakum...” (rapatkanlah barisan kalian/ rapatkanlah barisan saudara-saudara kalian/ rapatkanlah trah keturunan kalian...). Ini yang masyhur dan saya dapatkan dari kisah para sesepuh. 
Tanda Pohon Jati Ki Kebo Kanigoro
Sebagaimana telah disebutkan bahwa sebuah pohon merupakan salah satu “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) yang banyak digunakan oleh sesepuh atau tokoh masa lalu. Pohon Boddhi misalnya, selalu dipakai simbol atau tanda bagi umat agama Buddha dimanapun berada. Sebab pohon Boddhi tersebut memiliki nilai sejarah bagi umat Buddha. Konon Sang Buddha Gautama mendapat pencerahan sempurna saat melakukan semedi (meditasi) di bawah Pohon Boddhi. Oleh karena hal tersebut, maka para siswa dan pengikut Sang Buddha sampai saat ini mengistimewakan Pohon Boddhi tersebut. Makna “Pohon Boddhi” adalah pohon pencerahan. Dari sini, mungkin pula bahwa makna “Pohon Jati” dari tanda Ki Kebo Kanigoro adalah pohon ilmu sejati yang selalu beliau dalami dan ajarkan pada santrinya. Dan pada akhirnya, oleh orang Jawa, tempat singgah bertanda “Pohon Jati” tersebut dipakai sebagai tempat mengirim doa kepada tokoh yang bersangkutan.
Mengenai banyak petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang ditandai dengan Pohon Jati, saya kurang begitu banyak dapat info dari para sesepuh apa kirata basa “Pohon Jati” yang selalu digunakan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” dari Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru, dan keluarganya) yang terkenal sebagai murid Syaikh Siti Jenar dan berdekatan erat dengan Sunan Kalijaga, Sang Wali Tanah Jawa. Ada kemungkinan, makna atau kirata basa “Pohon Jati” yang rata-rata hampir ada dan melekat dengan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru dan keluarganya) dimaksudkan adalah beliau merupakan penganut “Ilmu Sejati” (Ilmu Kasunyatan) yang diajarkan Syaikh Siti Jenar. Dengan demikian, rata-rata petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) ditandai dengan Pohon Jati (artinya, pohon keilmuan Sejati). 
Pertama, Petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce/ Rara Sari Once/ Endang Widuri) yang berada di sebelah Timur bagian Utara Pom Bensin, di daerah kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar yang sejak zaman dahulu ditandai dengan Pohon Jati yang besar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Kurung”, sebab pohon Jati tersebut dulu dikurung pagar melingkar disekelilingnya. Hingga saat ini, Pohon Jati yang disebut “Petilasan Jatikurung” sebagai petilasan ketiga tokoh tersebut beserta para pengikutnya masih berdiri kokoh. Konon, di tempat inilah Ki Kebo Kanigoro  beserta keluarga dan para pengikutnya sempat membuat “Rumah Joglo” dan menjadi semacam pusat pemerintahan setingkat kadipaten atau kecamatan atau pemerintahan lebih kecil lainnya. Hingga akhirnya, beliaulah yang merupakan cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar.

Petilasan Ki Kebo Kanigoro, Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce di Petilasan Jatikurung kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Kedua, Petilasan Rara Sari Once (Rara Sekar Rinonce/ Endang Widuri/ Rara Tenggok) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru; salah satu tokoh yang cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar) dan sekaligus sebagai cikal bakal dusun Dogong, desa Gogodeso, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar dulu juga berupa tanda Pohon Jati yang besar. Namun Pohon Jati tersebut telah mati dan tinggal tonggaknya saja. Kemudian para warga dusun Dogong membuatkan monumen sederhana kepada tokoh cikal bakal tersebut. Ustadz Ahmad Kulli Syaiin menyatakan: “... ndisik pase cikal bakal dusun Dogong iku ono Wit Jatine mas...terus koyoke mati lan ditandani bangunan sai iki kae...” (dulu tepat di cikal bakal tersebut ada Pohon Jati-nya mas... Lalu mati dan ditandai bangunan/monumen tersebut). Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ustadz Kholik Mawardi bahwa dulu ada Pohon jati-nya. Petilasan ini berada dalam areal “Makam Umum” desa Gogodeso dan berdekatan dengan sumber/mbelik, yang berada di sebelah Timur-nya.
Ketiga, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), dan Rara Sekar Rinonce (Rara Sari Once/ Endang Widuri/ Rara Tenggok) yang berada di desa Maliran, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Gerot”, sebab dulu kala ada Pohon Jati yang bergerot-gerot ditiup angin. Bahkan, sebelum menjadi desa Maliran, konon desa tersebut dinamakan desa Jati Gerot. Petilasan tersebut dibangun seperti sebuah makam, padahal hal itu bukanlah makam, tetapi hanyalah sebuah petilasan. Pada tahun 2005, saya dengan Mbah Jawoko Jatimalang pernah meneliti tempat tersebut dan bertanya kepada salah seorang warga dari salah satu rumah yang dekat petilasan tersebut. Orang itu menyatakan bahwa tempat itu sebenarnya bukan makam, tapi paman orang tersebut yang membuat/ membangun petilasan menyerupai makam.
Keempat, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri/ Rara Sari Once) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang berada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut berada dekat sumber mata air. Konon, menurut Mbah Jawoko Jatimalang, petilasan yang ada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar tersebut dulu kala ada tanda beberapa pohon yang berada di dekat sumber air, serta bangunan berupa patung Singa dan Naga sebagaimana yang dibangun etnis Tionghoa. Namun tanda-tanda patung Singa dan Naga tersebut sudah tidak ada lagi hingga penelitian ini dilakukan.
Kelima, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri/ Rara Sari Once) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang berada di Utara Sumber Kucur desa Selokajang, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut juga ditandai dengan “Pohon Jati” yang berusia cukup lama. Namun Pohon Jati tersebut telah tiada dan ditebang oleh pemilik pekarangan di tempat tersebut. Saat saya bersama Mbah Gatot ke tempat tersebut, hanya terdapat tonggak Pohon Jati dan bekas dibakari dupa wangi, terdapat pula cok bakal dari sebagian warga yang nyekar di tempat tersebut. Selain Nyai Gadhung Melati, ada pula yang cikal bakal di desa Selokajang lain, di antaranya: Mbah Kiai Abu Hanifah, Mbah Kasan Ali, Mbah Sampir, yang makamnya berada di “Puncak Gunung Tumpuk” di desa tersebut.
Keenam, Petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) di dukuh Kaligayam, desa Rejosari, kecamatan Semin. Petilasan ini juga ditandai dengan Pohon Jati pula. Pohon Jati yang berusia ratusan tahun tersebut telah roboh dimakan usia. Konon pohon jati tersebut dinamakan “Pohon Jati Bedug” di dukuh Kaligayam sebagai petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) ketika singgah dan melakukan kegiatan spiritual di tempat tersebut.

Pohon Jati Petilasan Kyai Purwoto Siddik Banyubiru/ Ki Kebo Kanigoro di Kaligayam Lor, Rejosari, Semin
Ketujuh, keturunan dari Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang bernama Ki Ageng Gribig juga menggunakan tanda pohon Jati untuk menyebut dusun yang ditempatinya, yakni Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Konon di Jatinom tersebut dahulu juga ditandai “Pohon Jati Enom” (pohon Jati yang masih muda). Tak dapat diketahui secara pasti di mana Pohon Jatinom (Pohon Jati Muda) tersebut berada. Namun, arti daerah bernama “Jatinom” tidak lepas dari keturunan Ki Kebo Kanigoro bernama Ki Ageng Gribig yang menandai daerah tersebut dengan Pohon Jati. Diceritakan salah satu sesepuh bahwa Ki Ageng Gribig inilah yang dilegendakan warga Rawapening-Ambarawa dengan Raden Baru Klinting yang mencari ayahnya dipuncak gunung.
Tentu saja tidak semua petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) semua ditandai atau ditanami dengan Pohon Jati. Sebab uasah pengejaran Ki Kebo Kanigoro dari rentetan perpolitikan panjang tiga masa kerajaan (yakni Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram) bisa jadi tidak menyempatkan beliau dan para cantriknya untuk memberi semua yang ditempatinya saat beliau singgah dengan Pohon Jati. Artinya, hanya tempat-tempat tertentu yang nyaman ditempatinya saja yang diberi “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” berupa Pohon Jati. Misalnya, di Kademangan-Blitar berada di Selatan Sungai Berantas bergandengan dengan langgar (mushalla) juga ada Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) yang merupakan istri dari Ki Kebo Kanigoro. Begitu pula, petilasan Ki Kebo Kanigoro yang berada di lereng Gunung Merapi, dan lain sebagainya. Tak jauh dari itu, dusun Sekardangan, desa Papungan, kecamatan Kanigoro konon merupakan tempat terakhir ketika Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) dan putrinya bernama Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri) untuk memutuskan kembali menyusul Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mbah Kiai Zainuddin Sekardangan mengatakan: “.... Embuh, ndisik critane Mbahe Wedok karo anake mbalik maneh ning Jawa Tengah...” (Nggak tahu, tapi ceritanya dulu Eyang Putri dan anak perempuannya kembali lagi ke Jawa Tengah). Namun sebelum kembali ke Jawa Tengah konon Nyai Gadhung Melati sempat berkunjung dulu ke rumah anaknya Ki Ageng Gribig I yang berada di Malang. Kata Mbah Kiai Zainuddin: "Sakdurunge mbalik ning Sukoharjo, Mbahe Wedok ndisik menyang Malang dhisik." Hal tersebut juga dibenarkan oleh Mbah Bayan Mayar yang mendapat cerita dari Mbah Markalam (kakeknya). 
Dari perjalanan dan persinggahan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) dan keluarganya yang cukup melelahkan karena rentetan perpolitikan kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram tersebut, kemudian mereka menetap terakhir di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) dimakamkan di tempat tersebut. Begitu pula, Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Rara Sari Once/ Endang Widuri) dimakamkan dalam areal “Makam Banyubiru” tersebut. Namun, SH. Mintardja berpendapat bahwa Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Rara Sari Oce/ Endang Widuri) dimakamkan di pinggir pagar keliling Makam Ki Ageng Pengging Sepuh di dukuh Pengging, desa Banyudono, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Keturunan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru)
Berdasarkan penelitian SH. Mintardja dijelaskan bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) memiliki anak perempuan tunggal bernama Endang Widuri. Menurutnya, Endang Widuri ini kemudian menikah dengan Arya Salaka (Ki Gede Banyubiru). Menurutnya, makam Endang Widuri putri dari Ke Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) berada di pinggir pagar keliling Makam Ki Ageng Pengging Sepuh di dukuh Pengging, desa Banyudono, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Maka berdasarkan ciri-ciri Endang Widuri yang disebutkan SH. Mintardja tersebut bahwa dia adalah wanita yang nakal. Nakal di sini bukan berarti tak tahu aturan, akan tetapi tegas (kenes; Bhs Jawa). Beberapa sesepuh dusun Sekardangan, seperti Mbah Bayan Mayar, Mbah Markalam mengatakan bahwa Rara Sekar Rinonce (Endang Widuri/ Rara Tenggok/ Rara Sari Once) itu wanita yang “kenes” (tegas dalam segala hal) bukan wanita nakal yang berupa kenegatifan lainnya.
Selanjutnya, berdasarkan “Ranji Sarkub” yang ditulis Raden Ayu Linawati Djojodiningrat bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) juga memiliki anak bernama Ki Ageng Gribig Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Konon, tokoh bernama Ki Ageng Gribig ini merupakan legenda Raden Baru Klinting yang mencari ayahnya di puncak gunung dalam peristiwa Rawa Pening di Ambarawa. Tokoh ini masa kecilnya dirahasiakan hingga menjadi sebuah “legenda” agar supaya keberadaannya selamat dari rentetan perpolitikan tiga kerajaan, yaitu: Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Dan silsilah kuno atau manuskrip-manuskrip data kuno yang menjelaskan bahwa Ki Ageng Gribig merupakan putra Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) masih tersimpan oleh Raden Ayu Linawati (Sang Srikandi Ranji-Ranji Kuno) tersebut.
Terakhir, menurut pendapat Panji Jayawardhana dalam mengomentari blog tentang “Petilasan Ki Kebo Kanigoro di Lereng Gunung Merapi” yang berada di dusun Pojok, desa Samiran, kecamatan Selo, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyebutkan: “..Ki Kebo Kanigoro tidak moksa, tapi hijrah ke Bali, lalu menetap di Lombok dan mendirikan kerajaan bernama ‘Kerajaan Pujut’ dan keturunannya sampai sekarang ada di mana-mana...” Dalam hal tersebut, saya sebagai peneliti belum mempelajari apakah Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) pernah hijrah ke Bali dan Lombok hingga sebagaimana yang dikisahkan di atas. Mungkin pula, era perpolitikan Majapahit dan Demak hal tersebut bisa terjadi dan bisa tidak. Sekali lagi, dalam hal ini saya sebagai peneliti belum begitu mendalaminya. Semoga demikian adanya. Semoga semua berjalan secara wajar.
Kesimpulan Sementara
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai kesimpulan sementara sebagaimana berikut: Pertama, Pohon Jati merupakan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” yang dipakai oleh Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), istrinya, dan anaknya dalam berbagai persinggahan mereka. Akan tetapi, tidak semua tempatpun juga sempat ditandai dengan Pohon Jati karena situasi perpolitikan yang tidak menungkinkan; Kedua, disimpulkan pula bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) menikah dengan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) memiliki beberapa putra-putri, yaitu: (1) Endang Widuri/ Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok/ Rara Sari Once; dan (2) Ki Ageng Gribig I di Malang-Jawa Timur. Dan sementara Ki Ageng Gribig II, III, dan IV masih keturunan dari Ki Ageng Gribig I tersebut; Ketiga, selain itu, berdasarkan pernyataan Panji Jayawardana Ki Kebo Kanigoro juga memiliki keturunan di daerah Lombok. Namun dalam kesimpulan yang ketiga ini penulis belum tahu-menahu bagaimana kisahnya. Wallahu’alam.

 
Makam Ki Kebo Kanigoro/ Kyai Purwoto Siddik Banyubiru, Nyai Gadhung Melati, dan Rara Tenggok di dusun Sarehan desa Jatingarang, kecamatan Weru, Sukoharjo-Solo, Jawa Tengah.

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan adalah pria kelahiran Blitar, Jawa Timur. Pria tersebut merupakan peneliti sejarah, kisah-kisah, legenda lokal, petilasan dan makam kuno. Sejak kecil, pria tersebut sangat menyukai dongeng-dongeng, cerita-cerita, dan kisah-kisah dari para sesepuh dusun, desa, kecamatan, kabupaten, hingga lainnya. Dalam hidupnya, tak banyak yang diminta pria tersebut kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Walau mungkin orang lain menganggap banyak, tetapi tak sepadan dengan kekayaan Tuhan Yang Maha Kaya. Dia hanya minta cukup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Cukup segalanya. Pria tersebut beralamatkan sebagai berikut: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos. 66171. HP. 085649706399.