Minggu, 07 Agustus 2016

SEKELUMIT KISAH TENTANG KIAI AGENG PONCO SUWIRYO DAN SEPUTAR MAKAM AULIYA “MBREBESMILI SANTREN” BEDALI, PURWOKERTO, SRENGAT, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kiai Ageng Ponco Suwiryo yang sering disebut “Mbah Ponco” memiliki beberapa nama lain, di antaranya: Sayyid Bukhori Mukmin atau Kiai Suwiryo Hadi Kesumo. Beliau merupakan teman seperjuangan Kiai Kasan Mujahid, seorang ulama pendiri Masjid Baitul Hasanah yang berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.
Dikisahkan bahwa Kiai Ageng Ponco Suwiryo atau Sayyid Bukhori Mukmin dalam kehidupannya memiliki tiga istri dan sembilan putra angkat yang semuanya menjadi seorang ulama pada zamannya. Adapun sembilan putra Kiai Ageng Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) yang tersebar ke berbagai daerah, mulai Plosorejo, Kademangan, Blitar; Malang, dan Banyuwangi, di antaranya:
1.      Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo (Pangeran Papak Nata Praja cucu Nyi Ageng Serang, seorang Pahlawan Nasional). Beliau merupakan pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU). Makam beliau berada di Tojo, Temuguruh, Banyuwangi.
2.      Kiai Siddiq. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
3.      Kiai Tabri. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
4.      Kiai Baurejo. Beliau berada di Karangkates, Malang hingga akhir hayatnya.
5.      Kiai Joyodiguno. Beliau berada di Sumberpucung, Malang hingga akhir hayatnya.
6.      Kiai Mardi Utomo (Mbah Jayus). Beliau berada di Sumberpucung hingga akhir hayatnya.
7.      Kiai Kandar. Beliau berada di Kediri hingga akhir hayatnya.
8.      Kiai Wiryontono. Beliau merupakan salah satu ulama yang mbabat masjid pertama di desa Plosorejo, Kademangan, Blitar.
9.      Sayyid Abdullah Sulaiman. Beliau berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar hingga akhir hayatnya. Dan dimakamkan dalam areal Makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.
Adapun silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) ke atas bersambung pada Kiai Ageng Tunggul Wulung + Roro Ayu Surti Kanti. Berikut silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo:
1.      Kiai Jamas Mashuri/Kiai Tunggul Wulung/Ki Ageng Kebo Dhungkul menikah dengan Roro Ayu Surti Kanti memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Nur Hidayatullah; (2) Nyai Ageng Genter Nur Aini.
2.      Kiai Nur Hidayatullah memiliki satu putra bernama Kiai Haryo Sumo Nur Hidayatullah.
3.      Kiai Sumo Nur Hidayatullah memiliki tiga putra, yaitu: (1) Kiai Sambi Nur Hidayatullah; (2) Kiai Mujang Nur Hidayatullah; dan (3) Kiai Puspo Nur Hidayatullah.
4.      Kiai Puspo Nur Hidayatullah memiliki satu anak bernama Ki Ageng Ronggo/ Kiai Jimat.
5.      Ki Ageng Ronggo/Kiai Jimat memiliki dua putra yaitu: (1) Ki Ageng Atmo Wulung; dan (2) Ki Ageng Guno Suwiryo.
6.      Ki Ageng Atmo Wulung memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Mojo; dan (2) Kiai Majasto.
7.      Kiai Mojo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Tojo Diningrat; dan (2) Kiai Kunto Diningrat.
8.      Kiai Tojo Diningrat memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi; dan (2) Kiai Hadi Kesumo/Kiai Cokro Wesi.
9.      Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Niti Rejo; dan (2) Nyai Ageng Sumiyati.
10.  Kiai Niti Rejo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Ageng Ponco Suwiryo/ Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo/ Sayyid Bukhori Mukmin. Beliau wafat dan dimakamkan di areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren”, Bedali, Purwokerto, Srengat,Blitar; dan (2) Kiai Suryo Hadi Kesumo/ Kiai Senari Wadad/ Sayyid Marzuqi/ Sayyid Marsuki.
Adapun beberapa tokoh yang dimakamkan dalam areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar lainnya adalah:
1.      Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Ageng Syakban Tumbu (merupakan putra Kiai Ageng Raden Muhammad Qosim [Eyang Kasiman/Mbah Kasiman] dari istri pertama, yang yayasannya berada di Utara Masjid Agung Kota Blitar. Adapun istri Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang berasal dari Kalangbret, Tulungagung, dan masih keturunan Kiai Ageng Mangun Witono (Syaikh Hasan Ghozali) pendiri Masjid Tiban Al-Istimrar, Kalangbret, Tulungagung.
2.      Nyai Marfuatun dan Kiai Ageng Kasan Mujahid (menantu Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Syakban Tumbu)
3.      Kiai Ageng Muhammad Asrori (seorang ulama Pendiri Masjid Al-Asror, Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar dan putra Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang).
4.      Kiai Kembang Arum (Konon makamnya dahulu kala selalu berbau harum wangi)
5.      Kiai Imam Kastawi dan istrinya
6.      Kiai Imam Nawawi dan istrinya
7.      Kiai Munasir dan istrinya
8.      Mbah Banjir (Konon disebut “Mbah Banjir” sebab dahulu kala dia mengamalkan sebuah ilmu kadigdayaan hingga kebanjiran ilmu tersebut yang akhirnya menjadikannya seperti orang yang tidak waras)
9.      Sayyid Abdullah Sulaiman.
10.  Dan beberapa tokoh masa lalu lainnya.
Demikian sekelumit kisah ini saya akhiri. Mudah-mudahan membantu para generasi penerus yang ingin “ngumpulne balung pisah” yang telah perpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun telah hilang dan terpisah-pisah. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Kuasa senantiasa memberi pertolongan kepada semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Allah melestarikan pirukunan/patembayatan kepada semua makhluk yang dikehendaki-Nya. Tentang Penulis: Arif Muzayin Shofwan, Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos: 66171. HP. 085649706399.

SEKELUMIT KISAH TENTANG KIAI AGENG PONCO SUWIRYO DAN SEPUTAR MAKAM AULIYA “MBREBESMILI SANTREN” BEDALI, PURWOKERTO, SRENGAT, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kiai Ageng Ponco Suwiryo yang sering disebut “Mbah Ponco” memiliki beberapa nama lain, di antaranya: Sayyid Bukhori Mukmin atau Kiai Suwiryo Hadi Kesumo. Beliau merupakan teman seperjuangan Kiai Kasan Mujahid, seorang ulama pendiri Masjid Baitul Hasanah yang berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.
Dikisahkan bahwa Kiai Ageng Ponco Suwiryo atau Sayyid Bukhori Mukmin dalam kehidupannya memiliki tiga istri dan sembilan putra angkat yang semuanya menjadi seorang ulama pada zamannya. Adapun sembilan putra Kiai Ageng Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) yang tersebar ke berbagai daerah, mulai Plosorejo, Kademangan, Blitar; Malang, dan Banyuwangi, di antaranya:
1.      Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo (Pangeran Papak Nata Praja cucu Nyi Ageng Serang, seorang Pahlawan Nasional). Beliau merupakan pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU). Makam beliau berada di Tojo, Temuguruh, Banyuwangi.
2.      Kiai Siddiq. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
3.      Kiai Tabri. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
4.      Kiai Baurejo. Beliau berada di Karangkates, Malang hingga akhir hayatnya.
5.      Kiai Joyodiguno. Beliau berada di Sumberpucung, Malang hingga akhir hayatnya.
6.      Kiai Mardi Utomo (Mbah Jayus). Beliau berada di Sumberpucung hingga akhir hayatnya.
7.      Kiai Kandar. Beliau berada di Kediri hingga akhir hayatnya.
8.      Kiai Wiryontono. Beliau merupakan salah satu ulama yang mbabat masjid pertama di desa Plosorejo, Kademangan, Blitar.
9.      Sayyid Abdullah Sulaiman. Beliau berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar hingga akhir hayatnya. Dan dimakamkan dalam areal Makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.
Adapun silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) ke atas bersambung pada Kiai Ageng Tunggul Wulung + Roro Ayu Surti Kanti. Berikut silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo:
1.      Kiai Jamas Mashuri/Kiai Tunggul Wulung/Ki Ageng Kebo Dhungkul menikah dengan Roro Ayu Surti Kanti memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Nur Hidayatullah; (2) Nyai Ageng Genter Nur Aini.
2.      Kiai Nur Hidayatullah memiliki satu putra bernama Kiai Haryo Sumo Nur Hidayatullah.
3.      Kiai Sumo Nur Hidayatullah memiliki tiga putra, yaitu: (1) Kiai Sambi Nur Hidayatullah; (2) Kiai Mujang Nur Hidayatullah; dan (3) Kiai Puspo Nur Hidayatullah.
4.      Kiai Puspo Nur Hidayatullah memiliki satu anak bernama Ki Ageng Ronggo/ Kiai Jimat.
5.      Ki Ageng Ronggo/Kiai Jimat memiliki dua putra yaitu: (1) Ki Ageng Atmo Wulung; dan (2) Ki Ageng Guno Suwiryo.
6.      Ki Ageng Atmo Wulung memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Mojo; dan (2) Kiai Majasto.
7.      Kiai Mojo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Tojo Diningrat; dan (2) Kiai Kunto Diningrat.
8.      Kiai Tojo Diningrat memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi; dan (2) Kiai Hadi Kesumo/Kiai Cokro Wesi.
9.      Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Niti Rejo; dan (2) Nyai Ageng Sumiyati.
10.  Kiai Niti Rejo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Ageng Ponco Suwiryo/ Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo/ Sayyid Bukhori Mukmin. Beliau wafat dan dimakamkan di areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren”, Bedali, Purwokerto, Srengat,Blitar; dan (2) Kiai Suryo Hadi Kesumo/ Kiai Senari Wadad/ Sayyid Marzuqi/ Sayyid Marsuki.
Adapun beberapa tokoh yang dimakamkan dalam areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar lainnya adalah:
1.      Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Ageng Syakban Tumbu (merupakan putra Kiai Ageng Raden Muhammad Qosim [Eyang Kasiman/Mbah Kasiman] dari istri pertama, yang yayasannya berada di Utara Masjid Agung Kota Blitar. Adapun istri Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang berasal dari Kalangbret, Tulungagung, dan masih keturunan Kiai Ageng Mangun Witono (Syaikh Hasan Ghozali) pendiri Masjid Tiban Al-Istimrar, Kalangbret, Tulungagung.
2.      Nyai Marfuatun dan Kiai Ageng Kasan Mujahid (menantu Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Syakban Tumbu)
3.      Kiai Ageng Muhammad Asrori (seorang ulama Pendiri Masjid Al-Asror, Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar dan putra Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang).
4.      Kiai Kembang Arum (Konon makamnya dahulu kala selalu berbau harum wangi)
5.      Kiai Imam Kastawi dan istrinya
6.      Kiai Imam Nawawi dan istrinya
7.      Kiai Munasir dan istrinya
8.      Mbah Banjir (Konon disebut “Mbah Banjir” sebab dahulu kala dia mengamalkan sebuah ilmu kadigdayaan hingga kebanjiran ilmu tersebut yang akhirnya menjadikannya seperti orang yang tidak waras)
9.      Sayyid Abdullah Sulaiman.
10.  Dan beberapa tokoh masa lalu lainnya.
Demikian sekelumit kisah ini saya akhiri. Mudah-mudahan membantu para generasi penerus yang ingin “ngumpulne balung pisah” yang telah perpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun telah hilang dan terpisah-pisah. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Kuasa senantiasa memberi pertolongan kepada semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Allah melestarikan pirukunan/patembayatan kepada semua makhluk yang dikehendaki-Nya. Tentang Penulis: Arif Muzayin Shofwan, Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos: 66171. HP. 085649706399.

Rabu, 03 Agustus 2016

SEKELUMIT KISAH KIAI IMAM SYAFAAT KAWAN SEPERJUANGAN EYANG DJOEGO (KAUMAN KESAMBEN BLITAR)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Kiai Imam Syafaat merupakan salah satu pendiri Masjid Al-Ikhlas (salah satu masjid lama/kuno) yang berada di Kauman, Kesamben, Blitar. Beliau juga merupakan teman seperjuangan Eyang Djoego/ Mbah Djoego (Kiai Ageng Zakariya)[1] dalam mengembangkan ajaran agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya di daerah Kesamben-Blitar. Perlu diketahui bahwa Kiai Imam Syafaat merupakan menantu dari Kiai Imam Moestari Blitar dan merupakan cucu dari Kiai Ageng Muhammad Qosim (Eyang Raden Kasiman)[2] yang makamnya berada di Puncak Gunung Pegat, sebelah Utara kecamatan Srengat-Blitar yang silsilah nasabnya bersambung dengan Sunan Tembayat Klaten-Jawa Tengah. 
Sebagian riwayat menyatakan bahwa baik Kiai Imam Syafaat dan istrinya (Nyai Woeryan) masih ada hubungan famili yang silsilah keduanya ke atas masih bersambung dengan Sunan Tembayat Klaten-Jawa Tengah. Hal yang lazim pada zaman dulu bahwa pernikahan banyak dilakukan dengan keluarga terdekat, misalnya: misanan, mindoan, turun kaping telu (walau turun kaping telu ini jarang dilakukan karena bertentangan dengan adat istiadat Jawa) dan semacamnya. Adapun makam Kiai Imam Syafaat dan istrinya (Nyai Woeryan) dimakamnya dibelakang Masjid Al-Ikhlas peninggalannya.
Salah satu generasi ke-3 saudara dari keturunan Kiai Imam Syafaat dan Nyai Woeryan yang bernama Kiai Kasan Munajat merupakan guru spiritual Kiai Dimyati (Syaikh Dimyati Bin Hasbulloh Baran, Selopuro, Blitar) yang merupakan keturunan Kiai Demang Ekomedjo Purwokerto, Srengat, Blitar.[3] Perlu diketahui bahwa Kiai Kasan Munajat inilah yang dahulu kala mengarahkan spiritualitas Kiai Dimyati Baran, Selopuro, Blitar hingga mencapai derajat kewalian (min ba’di Auliya’illah). Selain sebagai guru Kiai Dimyati, konon Kiai Kasan Munajat juga merupakan guru Mbah Wali Papak (Eyang Papak Notoprojo atau Kiai Ageng R.M. Djojopoernomo) yang makamnya berada di daerah Tojo, Temuguruh, Banyuwangi.
Diceritakan bahwa Eyang Djoego (Kiai Ageng Zakariya) dan Kiai Imam Syafaat pernah menanam pohon Gebang di belakang Masjid Al-Ihklas, Kauman, Kesamben, Blitar sebagai tanda persahabatan keduanya (agar persahabatan keduanya tersebut) nantinya dikenang oleh anak cucu dan keturunan-keturunan setelahnya. Akan tetapi, karena pohon semakin lama semakin membesar hingga akhirnya menyentuh kabel listrik yang ada di dekatnya, kemudian pohon tersebut ditebang oleh warga sekitar. Menjadi sesuatu yang lumrah bila jaman dahulu sebuah persahabatan didokumentasikan dengan sarana-sarana sederhana seperti penanaman sebuah pohon yang diperkirakan hidup lama hingga beberapa generasi seperti pohon Beringin, Sawo Kecik, dan semacamnya.
Tanda-tanda penanaman sebuah pohon yang diperkirakan hidup lama sampai beberapa generasi agar menjadi tanda atau kenangan yang bisa dibuat sebagai peta sejarah tersebut juga dilakukan oleh prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro (Raden Mas Ontowiryo) ketika melarikan diri ke berbagai daerah. Biasanya, prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke berbagai daerah tersebut menanam Pohon Sawo Kecik di depan rumah sebagai pertanda bahwa mereka merupakan prajurit Diponegoroan. Jadi, jangan salah sangka bahwa penanaman pohon tersebut digunakan sebagai penyembahan dan musyrik-syirik sebagaiamana yang disangkakan saudara-saudara kita yang tak pernah cermat dalam belajar sejarah pendokumentasian sederhana masa lalu.[4]
Kembali mengenai nama Kiai Kasan Munajat, konon famili-famili yang berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar sering menyebutnya dengan “Kiai Kasan Munojo/ Mbah Kasan Munojo” (dengan logat Jawa).[5] Dikisahkan pula bahwa pada zaman dahulu, Kiai Kasan Munojo juga sering bersilaturrahmi dengan famili-famili yang ada di daerah Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Begitu pula sebaliknya, famili-famili yang ada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar juga sering bersilaturrahmi kepada famili-famili di Kauman, Kesamben, Blitar. 
Konon di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar tersebut Kiai Kasan Munojo (Kiai Hasan Munajat) juga sering menyempatkan diri berziarah ke makam Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang (Kiai Ageng Syakban Tumbu), Kiai Muhammad Asrori (Pendiri Masjid Al-Asror, Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar), Kiai Kasan Mujahid (Pendiri Masjid Baitul Hasanah, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar), dan Kiai Ponco Suwiryo/ Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo/ Sayyid Bukhori Mukmin (ayah angkat Mbah Wali Papak/ Kiai Ageng R.M. Djojopoernomo, Tojo, Temuguruh, Banyuwangi), Sayyid Abdullah, Kiai Kembang Arum yang berada di “Makam Auliya’ Mbrebesmili Santren”, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. 
Tak jauh dari itu, Kiai Dimyati (Syaikh Dimyati bin Hasbulloh Baran, Selopuro, Blitar), murid Kiai Kasan Munajat Kesamben semasa masih hidup konon juga sering berziarah ke “Makam Auliya’Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Hal ini diceritakan oleh Mbah Tugiman Darungan, Kademangan, Blitar. Di antara kiai-kiai yang dahulu kala diceritakan pernah berziarah ke makam tersebut, di antaranya: Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), Kiai Abdul Djalil Mustaqim (Pengasuh Pondok PETA Kauman, Tulungagung), Kiai Ihsan (Pendiri Pondok Pesantren Abul Faidh Wonodadi, Blitar), Kiai Muhammad Thohir (Pendiri Pondok Pesantren Karang Aji, Kerjen, Srengat, Blitar) dan lain sebagainya. Selain itu, Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pernah berkunjung di makam tersebut pada saat akan mencalonkan diri sebagai presiden Republik Indonesia.
Kembali ke kisah ziarah antara keluarga “Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar dan Kauman, Kesamben, Blitar. Ziarah tersebut juga sangat beralasan sebab Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang dan kiai-kiai yang disebutkan itu masih memiliki pertalian darah yang kuat hingga ke atas bertemu pada Kiai Ageng Muhammad Qosim (Eyang Kasiman), Srengat, Blitar. Ziarah yang dilakukan tersebut juga digunakan sebagai sarana menyambung kasih sayang (silaturrahmi) dengan famili-famili yang ada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Begitu pula sebaliknya, apabila famili-famili yang ada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar berziarah ke Makam Kiai Imam Syafaat dan Nyai Woeryan di Kauman, Kesamben, Blitar juga menjadi tali silaturrahmi (kasih sayang) pada masa tersebut.
Akhirnya, mudah-mudahan pirukunan (patembayatan) yang telah diprakarsai oleh para generasi masa lalu tersebut dapat langgeng diteruskan oleh cucu-cucu, cicit-cicit, dan keturunan-keturunannya, baik secara lahir maupun bathin tanpa halangan suatu apapun. Mudah-mudahan pula Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan taufik, hidayah, dan inayah-Nya kepada semua manusia tanpa memandang suku, budaya, agama, aliran, dan semacamnya dalam menuju kebaikan bersama. (Tentang Penulis: Arif Muzayin Shofwan Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos: 66171. HP. 085649706399). 

Masjid Al-Ikhlas Peninggalan Kiai Imam Syafaat dan Nyai Woeryan


 
Makam Kiai Imam Syafaat dan Nyai Woeryan di belakang Masjid Al-Ikhlas Kauman Kesamben Blitar


[1] Makam Kiai Ageng Zakariya (Eyang Djoego) berada di Gunung Kawi, Malang. Sementara petilasan pesanggrahan beliau berada di Djoego, Kesamben, Blitar.
[2] Eyang Raden Kasiman (Kiai Muhammad Qosim) merupakan teman Ndoro Tedjo yang makamnya berada di Puncak Gunung Pegat, Srengat, Blitar.
[3] Makam Kiai Demang Ekomedjo berada di Pemakaman Umum Purwokerto, Srengat, Blitar.
[4] Cermati saja pendokumentasian luas tanah, peninggalan masa lalu banyak didokumentasikan dengan penanaman pohon yang usianya dipandang bisa bertahan lama sampai generasi ke generasi.
[5] Makam Kiai Kasan Munajat (Mbah Kasan Munojo), guru Syaikh Dimyathi Baran, Selopuro, Blitar berada di Pemakaman Umum Kauman, Kesamben, Blitar.