Rabu, 04 Januari 2017

BERZIARAH KE MAKAM-MAKAM WALIYULLAH JAWA TIMUR DAN WISATA BAHARI LAMONGAN (WBL)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Setiap tahun, MI Miftahul Huda Papungan 01, Kanigoro, Blitar mengadakan ziarah Waliyullah Jawa Timur dan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Kali ini saya ingin menuliskan kegiatan yang diadakan tiap tahun oleh madrasah tersebut. Sebagai acara tahunan buat kelas 6 yang akan meninggalkan sekolah, tempat rekreasi yang menjadi tujuan selalu urut sebagai berikut; (1) Makam Sayyid Sulaiman Mojoagung, Jombang; (2) Makam Sayyid Jumadil Kubro Troloyo; (3) Makam Syaikhuna Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan, Madura; (4) Makam Sunan Ampel atau Raden Rahmatullah Surabaya; (5) Makam Sunan Giri atau Sultan Abdul Fakih Gresik; (7) Makam Sunan Gresik atau Syaikh Maulana Malik Ibrahim; (8) Makam Sunan Drajat atau Raden Qosim Lamongan; (9) Wisata Bahari Lamongan atau WBL; (10) Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim; dan (11) KH. Abdurrahaman Wahid atau Gus Dur “Sang Tokoh Pluralis dan Multikulturalis” yang hebat.

Sekali waktu ketika berziarah ke makam-makam tersebut saya tidak hanya mengikuti tradisi yang hanya melakukan “Ritual Tahlil dan Doa-doa” saja. Akan tetapi, lebih dari itu, yang sangat menarik bagi saya adalah “Studi Para Tokoh Waliyullah” yang banyak diziarahi tersebut. Sewaktu ziarah, seringkali saya mencuri waktu untuk mengamati makam-makam kuno lain yang berada di areal makam para tokoh waliyullah. Sesekali waktu saya juga harus bertanya-tanya kepada Sang Juru Kunci Makam mengenai riwayat para tokoh waliyullah ini dan itu. Bagi saya, Situs Makam Waliyullah bukanlah tempat bertakhayul, khurafat, dan bid’ah. Namun Situs Makam Waliyullah dapat digunakan sebagai studi sejarah, mempelajari kisah kesuksesan para tokoh dan kemudian mengambil yang baik-baik dari cerita atau kisah mereka.

Sewaktu saya memposting salah satu foto saya saat berada di Makam Sayyid Jumadil Kubro, Troloyo, Mojokerto, ada seorang teman yang mengingatkan pada saya:”Wahai kawan jadilah ahli bait Allah, bukan ahli bait kuburan. Mereka orang yang sudah meninggal bisa kita jadikan suri tauladan untuk menjadi ahli bait Allah. Menjadi ahli bait Allah (ahli rumah Allah), tentu saja hatinya digunakan untuk berdiam diri di dalam rumah Allah. Bukan berdiam diri di dalam kuburan-kuburan. Jadi kita boleh ke kuburan-kuburan para Waliyullah tetapi harus dengan niat mengkaji dan mempelajari yang mereka teladankan, bukan menyembah dan apalagi meminta agar dikabulkan doa pada mereka dan mengkultusakan mereka. Jadilah ahli bait Allah kawan, bukan ahli kuburan.” Hehehe, saya pikir juga ada benarnya apa yang dikatakan kawan di group tersebut.

Saya ingat, bahwa ahli bait Allah (ahli rumah Allah) akan selalu nyaman dan tenteram di dalam rumah-Nya, bukan di kuburan-kuburan. Dengan demikian, mungkin kita harus bisa memposisikan diri sebagai “ahli bait Allah” dan “ahli kuburan” manakala mempelajari kesuksesan para tokoh Waliyullah yang dimakamkan.  Jadi dalam hal ini saya harus bisa memposisikan menjadi dua hal berikut, yaitu: 

1.    Menjadi Ahli Bait Allah, yakni berusaha terus agar selalu nyaman dan tenteram berada di dalam rumah Allah. Ada ungkapan ahli tasawuf “Qolbul Mukmin Baitullah” artinya hati orang beriman adalah rumah Allah.

2.    Menjadi Ahli Kuburan, yakni ketika di kuburan tidak berbuat takhayul, khurafat, dan bid’ah. Akan tetapi pada saat di kuburan juga digunakan untuk studi kisah dan sejarah para Waliyullah atau tokoh yang dimakamkan.

Entah apa yang saya katakan di atas benar atau salah. Mudah-mudahan ada orang yang mengingatkan saya kalau hal di atas ternyata salah. Mudah-mudahan ada orang yang mengikuti jejak saya bila hal di atas ternyata benar. Bagi saya, yang terpenting adalah belajar dan terus belajar. Sebab ada ungkapan “Belajar itu dimulai dari ayunan hingga ke liang lahat.” Jadi, selama saya masih belum berada di liang lahat (dikubur seperti para Waliyullah yang saya ziarahi di atas), tentu saja saya harus tetap belajar dan terus belajar. Kalau mungkin saya sudah dikubur seperti para Waliyullah di atas, mungkin saya sudah harus berhenti belajar dan merdeka dari tuntutan belajar. Hehehe. Mengapa?. Ya saya renungkan aja terus. Ah, mungkin cukup sekian cahar saya kali ini. Ya Tuhan, berkahilah hamba-Mu ini. Perbaikilah akhlak hamba-Mu ini. Amin, amin, Ya Rabbal Alamin.

“If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
 
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sayyid Sulaiman Jombang (Foto diambil oleh Ilma Nurul Fajri)
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sayyid Jumadil Kubro (Foto diambil Ilma Nurul Fajri)
 
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sunan Ampel Surabaya (Foto diambil oleh Dimas)

Arif Muzayin Shofwan berada di depan Museum Sunan Drajat Lamongan
 

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” (karena seringnya berkunjung ke pesarean-pesarean untuk mengkaji sejarah tokoh yang dimakamkan) tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Senin, 26 Desember 2016

ZIARAH MAKAM SUNAN TEMBAYAT, KLATEN, JAWA TENGAH BERSAMA LASKAR WIROGATEN JATIMALANG BLITAR



Sabtu, 24 Desember 2016 s/d Senin, 26 Desember 2016

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

“Tulislah apapun yang bisa anda tulis, siapa tahu bermanfaat”
(Anonim)

Pada Sabtu malam, 24 Desember 2016 usai shalat Maghrib, saya ikut berziarah ke makam Sunan Tembayat, Klaten, Jawa Tengah bersama Laskar Wirogaten Jatimalang, Sentul, Blitar. Saya ikut hal tersebut bermula dari Mas Putu Ari Sudana (Trah dari Kyai Soeroredjo Kauman Blitar) yang telah mensponsori dana untuk satu mobil ELP bagi trah keluarga Kyai Raden Muhammad Qosim dan lain sebagainya. Sementara satu mobil ELP lagi didanai oleh Mas Ilham Rofii dan kawan-kawan dari Laskar Wirogaten yang dia pimpin. Kurang lebih ada 30 orang yang ikut ziarah makam Sunan Tembayat tersebut. Mas Putu Ari Sudana mewakili trah dari Kyai Raden Muhammad Yahya. Saya, Mas Hariyanto, Mbah Eka Kesamben (cucu Mbah Kyai Kasan Munajat) mewakili trah dari Kyai Raden Muhammad Qosim, dan Mas Ilham Rofii mewakili dari trah Kyai Raden Ngabehi Wirogati Jatimalang.

 Saya dan kawan-kawan sampai di lokasi makam Sunan Tembayat pagi-pagi sebelum subuh sebab ada hambatan mobil yang ditumpangi sempat mogok beberapa kali. Saya dan kawan-kawan lalu mandi, shalat Subuh dan ritual minum “wedang kopi” dan “wedang teh” sebentar. Usai itu, saya dan kawan-kawan lalu naik menuju makam Sunan Tembayat yang berada di Gunung Cokro Kembang. Sebagian ada yang ngojek untuk menuju ke sana. Saya, Mas Hariyanto, Mas Ilham Rofii, dan beberapa kawan yang lain berjalan kaki untuk menuju makam Sunan Tembayat tersebut. Sesampai kami semua di depan pintu gerbang menuju makam Sunan Tembayat yang atas, kami semua sempat berfoto-foto bersama sebagai kenangan kami nanti ketika sudah kembali ke rumah masing-masing. (Foto terlampir).

Setelah kami semua melakukan ritual di makam Sunan Tembayat, kemudian sebagian dari kami ada yang kembali turun dari gunung, dan sebagian lagi ada yang terus napak tilas menuju puncak Gunung Jabalkat tempat petilasan Sunan Tembayat dalam memberikan wejangan ilmu kepada para wali-wali. Ada salah satu ajaran menarik yang tertulis di batu petilasan Jabalkat tersebut, di antaranya yang sempat saya foto bertuliskan “PADEPOKAN JABALKAT” dan “PETILASAN SUNAN KALIJOGO DAN SUNAN PADANGARAN.” Ada lagi tulisan yang berupa ajaran dari Sunan Kalijogo dan Sunan Tembayat yang yang berbunyi: “PETILASAN TEMPAT BAEAT WEJANGAN PARA WALI. OJO RUMONGSO BISO, BISO-A RUMONGSO, JOWO DIGOWO, ARAB DIGARAB”, yang menurut pemahaman saya berarti bahwa ini adalah tempat baiat ajaran para Waliyullah, janganlah kalian merasa bisa segala macam ilmu, akan tetapi jadilah kalian orang yang bisa merasa akan kekurangannya. Ajaran Jawa hendaknya tetap dipakai oleh orang Jawa, sedangkan ajaran Arab yang datang belakangan hendaknya tidak diterima secara keseluruhan. Sebab ajaran Jawa belum tentu semuanya salah. Sementara ajaran Arab belum tentu semuanya benar.

Kami semua di puncak Jabalkat tersebut melakukan zikir, meditasi, dan ritual lainnya. Sementara ada satu orang yaitu Mbak Eka (cucu Mbah Kyai Kasan Munajat Kesamben, Blitar) yang sudah tidak kuat melakukan perjalanan ke puncak Gunung Jabalkat akhirnya berhenti di pos terakhir jalan menuju puncak. Dia sudah lemas dan tak bisa melanjutkan perjalanan. Saya, Mas Putu Ari Sudana, dan Mas Hariyanto menyarankan kepada Mbak Eka agar berhenti di tempat pos tersebut saja. Kemudian kami bertiga (saya, Mas Putu Ari Sudana, dan Mas Hariyanto) melanjutkan perjalanan menyusul kawan-kawan yang sudah berada di puncak Gunung Jabalkat. Seperti biasa, sesampai di puncak kami semua berfoto-foto menggunakan kamera HP masing-masing. (Foto terlampir).

Setelah kami turun dari puncak Jabalkat, kemudian kami semua melakukan perjalanan menuju Candi Prambanan, yakni sebuah candi Hindu yang tidak jauh dari makam Sunan Tembayat. Sesampai ke tempat tersebut, kami semua melakukan ritual makan pagi. Setelah makan semua Laskar Wirogaten langsung menuju lokasi candi Prambanan. Sementara itu, kami yang berasal dari trah keturunan Kyai Raden Muhammad Qosim (Eyang Kasiman) jalan-jalan menuju Malioboro untuk berbelanja jajan-jajan, kaos, dan semacamnya. Sore hari, kami rombongan trah keturunan Kyai Raden Muhammad Qosim, setelah usai berbelanja macam-macam di Malioboro, lalu kembali menuju candi Prambanan lagi menemui teman-teman Laskar Wirogaten yang telah menunggu cukup lama. Sesampainya di lokasi parkir candi Prambanan, sebagian kami langsung ikut makan sore dengan Laskar Wirogaten, dan sebagian lagi jalan-jalan untuk mendapatkan tempat shalat Ashar.

Wal-khasil, usai dari ziarah makam Sunan Tembayat tersebut saya berdoa mudah-mudahan para generasi keturunan Sunan Tembayat diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam melaksanakan ajaran “PATEMBAYATAN” atau “PIRUKUNAN” terhadap semua manusia tanpa membedakan agama, suku, budaya, etnis, tradisi, dan semacamnya. Semoga kita semua khususnya orang Jawa, tetap melestarikan ajaran leluhur Jawa yang mulia-mulia dengan sesanti “JOWO TETEP DIGOWO, ARAB KUDU DIGARAB”, artinya piwulang Jawa yang adiluhung harus tetap dijaga kelestariannya, sedangkan piwulang Arab harus dipilah-pilah. Sebab tidak semua piwulang Arab cocok digunakan di Jawa (baca; Nusantara). Dan tidak semua piwulang Jawa merupakan hal yang salah dan harus diberantas. Mudah-mudahan patembayatan (pirukunan) terhadap sesama manusia menebar ke segala penjuru. Amin, amin, amin. Yaa Rabbal Alamin.

“Today’s egg is better that the chicken of tomorrow”
(Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
Saya, Mas Hariyanto (Kauman), Mbak Eka (Kesamben), Mas Ari (Garum)
Mbak Eka (Kesamben), Mas Ilham (Jatimalang), Saya (Sekardangan), Mas Ari (Garum), dan Mas Hariyanto (Kauman)
 
Trah Sunan Tembayat Blitar dari jalur: (1) Kyai Raden Muhammad Qosim, (2) Kyai Raden Muhammad Yahya, dan (3) Kyai Raden Ngabehi Wirogati
 
Saya, Mas Hariyanto (Kauman), Mas Ari (Garum), dan Mbak Eka (Kesamben)
Saya dan Mas Ari (Garum)
 
Puncak Jabalkat sebuah tempat pertemuan Sunan Kalijogo dan Sunan Tembayat: "PETILASAN TEMPAT BAEAT WEJANGAN PARA WALI. OJO RUMONGSO BISO, BISOHO RUMONGSO, JOWO DIGOWO, ARAB DIGARAB."
Puncak Jabalkat tempat pertemuan Sunan Kalijogo dan Sunan Tembayat. Kata Sunan Kalijogo kepada Sunan Tembayat: "SLIRAMU GAWEO PATEMBAYATAN MARANG KABEH MENUNGSO TANPO NINGALI OPO AGAMANE, PIWULANG JOWO KUDU TETEP DIGOWO, DENE PIWULANG ARAB KUDU TANSAH DIGARAB"
Padepokan Jabalkat (tempat pertemuan Sunan Kalijogo dan Sunan Tembayat)
 
Selamat Datang di Puncak Jabalkat (tempat pertemuan Sunan Kalijogo dan Sunan Tembayat)
Arif Muzayin Shofwan dan Putu Ari Sudana
Hariyanto dan Arif Muzayin Shofwan
Ilham Rofii, Arif Muzayin Shofwan, dan Hariyanto
Mas Hariyanto di Puncak Jabalkat



Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

SEMINAR NASIONAL DALAM RANGKA COLLOQUIUM DOKTOR FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG



Kamis, 22 Desember 2016 di UMM Dome Theatre

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

“Tulislah apapun yang bisa anda tulis, siapa tahu bermanfaat”
(Anonim)

Pada hari Kamis, 15 Desember 2016, Mas Suherman dalam Group WA Tadarus JIMM 2016 memposting pengumuman adanya seminar nasional bertempat di UMM Dome Teartre. Ketepatan saya tertarik dengan seminar tersebut. Kemudian kira-kira pukul 21.42 WIB hari itu juga, saya daftar melalui WA kepada Mas Jamal (Contact Person) dalam acara seminar tersebut. Pukul 23.47 WIB, Mas Jamal membalas “baik, njenengan dari jurusan apa?”, dan saya jawab pada pukul 05.32 WIB dengan jawaban singkat berikut “Pascasarjana PAI UMM.” Itulah kisahnya ketertarikan saya mengikuti seminar nasional tersebut. Ada beberapa tema yang akan dikaji dalam seminar tersebut, di antaranya:

1.    Paradigma Baru Pembelajaran Kitab Gundul oleh Dr. Abdul Haris, M.A.
2.    Paradigma Baru Pengembangan Kurikulum Madrasah/ Sekolah dan Perguruan Tinggi oleh Dr. Khozin, M.Si.
3.    Fatwa dan Ideologi Indonesia: Studi tentang Tiga Lembaga Fatwa dan Pengaruhnya di Era Pasca Orde Baru oleh Pradana Boy ZTF, M.A (AS)., Ph.D.
4.    Orientasi Baru Gerakan Islam Revivalistik Pasca Euforia Reformasi di Indonesia oleh Dr. Moh. Nurhakim, M.Ag.

Sebagaimana biasa, saya akan menuliskan secara “acak aduk” beberapa ilmu yang saya peroleh di seminar tersebut, di antaranya: Dr. Abdul Haris, M.A., dalam seminar tersebut menyatakan dalam makalahnya sebagai berikut:

1.    Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Arab di PTAI adalah kemampuan membaca kitab “gundul” (teks Arab tanpa harakat)
2.    Hal ini menjadi keniscayaan bagi calon sarjana agama Islam.
3.    Untuk itu, di beberapa PTAI ada materi khusus untuk mengajarkan ketrampilan tersebut.
4.    Banyak mahasiswa PTAI mengalami problem membaca teks Arab yang tidak berharakat. Penelitian ini menunjukkan lulusan PTAI banyak yang belum mampu membaca teks Arab yang tidak berharakat.
5.    Problematika muncul karena dua hal: kosa kata dan konsep gramatika Arab.
6.    Diperlukan ada penyederhanaan konsep gramatika untuk mempermudah membaca teks Arab tanpa harakat.

Sementara itu, dalam makalahnya, Dr. Khozin, M.Si., menyimpulkan beberapa hal, salah satunya adalah kurikulum integrated atau intenconnected entities yang mulai menjadi model pada sekolah/ madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) meniscayakan lulusan program studi PAI memiliki pengetahuan lintas disiplin. Calon sarjana dan guru PAI di samping kuat dalam ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu pendidikan, mesti juga kuat dalam kajian natural sciences dan social sciences. Setidaknya Ilmu Alamiah Dasar (IBD) dan Ilmu Sosial Dasar (ISD) yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) mendapat perhatian yang memadai dalam struktur kurikulum program studi. Dua mata kuliah ini hendaknya tidak dipandang sebagai mata kuliah dari Kemendikbud (d/h) atau Kemendiktek Dikti sekarang, tetapi mata kuliah ini semestinya dipahami sebagai mata kuliah yang akan memberikan dasar-dasar integrasi pengetahuan yang dibutuhkan calon guru PAI di sekolah/madrasah.

Sedangkan Pradana Boy ZTF, M.A (AS)., Ph.D., yang meneliti tiga lembaga fatwa di Indonesia, di antaranya: (1) Majelis Ulama Indonesia atau MUI; (2) Majelis Tarjih Muhammadiyah; dan (3) Lajnah Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama atau LBM-NU menyatakan bahwa sebuah fatwa dalam berbagai literatur boleh diikuti atau tidak diikuti oleh umat Islam. Bahkan, dalam beberapa pendapat dinyatakan bahwa seseorang boleh meminta fatwa kepada seorang ulama tentang masalah apa saja serta boleh mengikuti seluruh atau sebagian yang difatwakan, maupun tidak mengikuti sama sekali apa yang difatwakan ulama tersebut. Saya lupa siapa nama ulama yang berpendapat demikian. Silahkan baca sendiri disertasi Pradana Boy ZTF, M.A (AS)., Ph.D atau berdiskusi langsung dengan beliau.

Adapun Dr. Moh. Nurhakim, M.Ag., dalam makalahnya menyimpulkan bahwa: Pertama, gerakan-gerakan Islam revivalistik yang semula di awal masa reformasi lebih banyak mengusung wacana formalisasi syariah, kini bergeser orientasinya kepada agenda-agenda yang lebih substantif dan strategis. Di antara orientasi baru yang dimaksud adalah: a) penguatan partisipasi politik dan integrasi nasional; b) tuntutan keadilan sosial dan penguatan ekonomi umat; c) meneguhkan budaya sendiri dan spiritualitas baru; dan d) modifikasi bentuk radikalisasi. Kedua, pergeseran orientasi baru seperti ini konform dengan konteks sosial, dan merupakan respons terhadap dinamika politik di Indonesia pascareformasi. Pergeseran orientasi juga dapt dipahami oleh karena gerakan-gerakan manapun jika ingin eksis di Indonesia yang majemuk dan berdinamika politik tinggi, maka harus mampu beradaptasi dan memainkan peran strategis selain tetap menjaga misi gerakan.

Demikianlah secuplik ilmu yang saya peroleh dari seminar tersebut. Usai seminar saya lalu menuju ke rumah adik saya Nikmatin Lana Farida, S.Pd.I (+ Muttaqin, M.Pd.I) di Perumahan Alam Sari Malang dan menginap di sana. Pagi-pagi sekitar pukul 08.30 WIB, saya lalu kembali pulang ke Blitar. Sebelum sampai di Blitar, saya mampir ke rumah Mas Aji Kesamben dan bertemu Mas Nurkholis, Mbak Eka, dan saudara-saudara lainnya. Saya juga shalat Jum’at di Masjid Al-Iklhlas Kauman, Kesamben, peninggalan Mbah Kyai Imam Syafaat (+ Nyai Woeryan). Tak lupa usai jum’atan berziarah ke makam Sang Pendiri Masjid tersebut. Kemudian kembali ke rumah Mas Aji dan berbincang-bincang dengan Mas Aji, Mbak Eka, Mas Kholis dan foto bertiga. (Lihat foto dibawah).

Akhir kata, mudah-mudahan Tuhan memberikan berkah kepada saya dalam menuntut ilmu di seminar tersebut. Dan mudah-mudahan pula Tuhan Yang Maha Esa memberkahi persahabatan kami berempat (Saya, Mas Aji, Mbak Eka, dan Mas Kholis). Semoga saudara-saudara dan famili-famili di Kauman, Kesamben, Blitar diberi kekuatan lahir dan bathin dalam menjalani kehidupan yang serba pakewuh ujian sana sini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kebahagian yang tanpa kinaya apa-apa. Amin, amin, amin, Ya Rabbal Alamin.

“Today’s egg is better that the chicken of tomorrow”
(Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

 
Pengumunan Seminar di Universitas Muhammadiyah Malang
Mas Aji, Mas Kholis, dan Saya

Mas Aji, Mas Kholis, Saya



Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.