Rabu, 17 Desember 2014

SEJARAH PROSES TERBENTUKNYA INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM FORMAL PERTAMA SEKARDANGAN



(Telaah tentang Institusi Pendidikan Islam Sekardangan Abad 17-19 M)
Oleh: Arif Muzayin Shofwan [1]
Abstrak
Sejarah proses terbentuknya institusi pendidikan Islam pertama di dusun Sekardangan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar merupakan sejarah panjang yang dimulai sejak abad 17 hingga 19 masehi. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan sejarah panjang berdirinya institusi pendidikan Islam formal pertama di dusun tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian berlatar belakang sejarah yang menggunakan pendekatan diskriptif-analitis dalam membahasnya. Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 merupakan institusi pendidikan Islam formal yang berdiri pertama didusun Sekardangan, desa Papungan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Madrasah ibtida’iyah tersebut berdiri pada tanggal 05 Januari 1966 dan diprakarsai oleh Kyai Muhtar Fauzi bersama dengan kawan-kawan seperjuangannya. Disamping madrasah ibtidaiyah, pada saat itu pula juga telah berdiri TK Al-Hidayah. Kedua institusi pendidikan Islam formal itu ternyata lahir dari institusi non formal dari sebelumnya seperti: langgar, rumah kyai, pesantren dan madrasah diniyah.
Kata kunci:
Institusi, pendidikan Islam, dan pendidikan formal.
Pendahuluan
Kelembagaan atau institusi pendidikan Islam sebelum madrasah amat banyak sekali. Sejak jaman Rasulullah saw kelembagaan pendidikan Islam sudah ada, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat non fisik. Hasan Langgulung[2] mejelaskan bahwa, pada zaman permulaan Islam, pelajaran agama disampaikan di rumah-rumah. Rasulullah menjadikan rumah sahabat Arqam bin Abi al-Arqam sebagai tempat belajar dan tempat pertemuan baginda dengan para sahabat dan para pengikutnya. Dirumah tersebut baginda menyampaikan dasar-dasar agama dan pengajian Al-Qur’an. Selain rumah al-Arqam (Darul Arqam), baginda menyampaikan pelajaran agama dirumahnya sendiri di Mekkah., sebagai tempat kaum muslimin berkumpul mempelajari aqidah dan syariah Islam. Dengan demikian, maka rumah termasuk lembaga atau kelembagaan Islam pertama jauh sebelum ada lembaga yang disebut dengan madrasah.
Penghijrahan Rasulullah saw ke Madinah pada tahun 623 Masehi, membawa perubahan dan pengertian yang besar terhadap penyebaran dan kestabilan agama Islam. Bagi tujuan tersebut, masjid pula didirikan di Madinah seperti Masjid Quba dan Masjid Nabawi. Fungsi masjid menurut istilah Islam adalah sebagai markas, bagi segala aktifitas agama dan masyarakat khususnya dalam hal-hal yang berhubungan dengan ibadat dan pendidikan. Rasulullah saw menjadikan masjid Nabawi sebagai tempat belajar mengenai urusan dunia dan agama di samping beribadat. Situasi di masjid menjadikannya lebih bebas dan sesuai sebagai tempat belajar dari pada di rumah, karena di masjid seseorang tidak perlu meminta kebenaran untuk memasukinya jika dibandingkan dengan dirumah.[3] Dengan demikian, masjid, langgar (mushalla), rumah dan semacamnya juga termasuk lembaga atau institusi pendidikan Islam sebelum lembaga madrasah didirikan.
Di dusun Sekardangan, proses kelembagaan pendidikan Islam sebelum madrasah tersebut mengalami pembaharuan dari waktu ke waktu, mulai dari yang bersifat fisik maupun non fisik. Setidaknya, dari pengamatan penulis, permasalahan institusi pendidikan Islam di Sekardangan berangkat dari beberapa institusi non formal, mulai dari institusi yang disebut langgar (sebutan mushalla jaman dulu), rumah kyai, pesantren, masjid, madrasah diniyah hingga menjadi institusi formal berupa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 dan Taman Kanak-Kanak Al-Hidayah. Dalam pembahasan ini, penulis akan menyajikan beberapa sejarah institusi pendidikan Islam di Sekardangan dari masa ke masa, hingga proses berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 dan Taman Kanak-Kanak Al-Hidayah yang merupakan “Institusi Pendidikan Islam Formal Pertama (Tertua)” dalam sejarah Sekardangan.
Institusi Pendidikan Islam di Sekardangan
Kelembagaan Islam atau institusi pendidikan Islam itu sendiri sebagaimana pendapat Ramayulis [4] yang menyatakan bahwa lembaga berarti institute (dalam pengertian fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan pengertian lembaga dalam arti non fisik atau abstrak adalah institution, yakni suatu system norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam arti fisik disebut bangunan, dan lembaga arti non-fisik disebut pranata. Dilihat dari pendapat Ramayulis diatas, sudah barang tentu lembaga pendidikan Islam tidak bisa dipandang dari segi fisik saja, namun harus juga dipandang dari segi non fisik
Sejarah kelembagaan atau institusi pendidikan Islam formal pertama di Sekardangan merupakan sejarah panjang yang dimulai dari beberapa institusi pendidikan Islam non formal yang ada. Institusi pendidikan Islam non formal itu diantaranya; [1]. Adanya langgar (sebutan mushalla zaman dulu) sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan bagi para pelajar atau santri. [2]. Adanya rumah kyai sebagai tempat menimba ilmu yang ingin spesifik mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam tertentu ataupun yang lainnya [3]. Adanya pesantren yang merupakan usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam yang lebih maju dari yang sebelumnya. [4]. Adanya madrasah diniyah yang merupakan bagian dari pesantren kala itu. Setelah itu, baru kemudian muncul institusi pendidikan Islam formal yang tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan saja. Akan tetapi juga mengajarkan pelajaran umum seperti; matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan social dalam kurikulum yang dicanangkannya.
Sekardangan adalah sebuah dusun yang berada di desa Papungan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar dan didirikan oleh seorang wanita pada jaman akhir kerajaan Pajang dan Mataram dimasa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Sayyid Abdurrahman/ Jaka Tingkir) yang bermana Nyai Sekar Gadhung Melati [5] bersama cantrik-cantriknya. Ada yang mengatakan ia bermana Nyai Dewi Sekardani, ada pula pendapat yang menyatakan ia bernama Nyai Dewi Sekartaji. Selanjutnya, beberapa pendapat dari para sesepuh menyatakan bahwa sejarah pendidikan Islam di Sekardangan berawal dari institusi yang disebut “Langgar”[6] (sebutan mushalla untuk jaman dulu) yang didirikan oleh tokoh-tokoh dari Kerajaan Mataram Islam akhir yang menjadi cikal-bakal warga Sekardangan.[7] Langgar disamping sebagai tempat ibadah kaum muslim juga berfungsi sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan bagi para pelajar atau santri. Disamping langgar, ada pula “Rumah Kyai” yang dijadikan sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan agama Islam zaman itu. Rumah kyai ini mirip semacam “Darul Arqam” (rumah sahabat Arqam bin Abi al-Arqam) yang dipakai Nabi Muhammad saw sebagai institusi pendidikan Islam pertama dalam sejarah Islam.
Dari berbagai data yang ada, baik data wawancara dari para sesepuh ataupun data tertulis, menyatakan bahwa institusi pendidikan Islam formal di Sekardangan mengalami  sejarah panjang yang berawal dari langgar (sebutan mushalla saat itu), rumah kyai, pesantren, masjid, madrasah diniyah, hingga terbentuknya institusi pendidikan Islam formal pertama (tertua) yang hingga kini eksistensinya masih bisa dibanggakan. Berikut sejarah panjang institusi pendidikan Islam non formal mulai dari langgar hingga berdirinya institusi pendidikan Islam formal pertama yang disebut MI Miftahul Huda 01 dan TK Al- Hidayah di Sekardangan secara berkesinambungan:
1.      Langgar dan Rumah Kyai (1755 M -1900 M)
Sebelum adanya madrasah, baik madrasah diniyah atau madrasah yang bersifat umum, maka Langgar dan Rumah Kyai merupakan institusi pendidikan Islam yang menonjol dan menjadi institusi pertama di dusun Sekardangan pada tahun 1755 M – 1900 M. Langgar disamping sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai institusi pendidikan tempat menimba ilmu agama Islam bagi para pelajar atau santri. Sedangkan kyai pendiri langgar tersebut merangkap sebagai guru spiritual dan pengajar ilmu agama Islam. Pada zaman ini, ada beberapa langgar (sebutan mushalla saat itu) di dusun Sekardangan yang digunakan sebagai “Institusi Pendidikan Islam” diantaranya:
1.      Langgar yang didirikan oleh Mbah Kyai Barnawi, merupakan langgar pertama yang berada di dusun Sekardangan. Hingga saat ini, langgar tersebut sudah tidak ada lagi bekasnya. Menurut sebagian sesepuh, langgar tersebut dulu berada tepat ditengah-tengah dusun Sekardangan. [8] Namun ketika pada masa Mbah Kyai Imam Fakih, langgar tersebut hanya tinggal berupa pondasi-pondasinya saja. Pondasi-pondasi itu lalu dibongkar dan menjadi tambahan yang digunakan untuk pondasi masjid Baitul Makmur, sebuah masjid pertama dalam sejarah Sekardangan dan didirikan oleh Mbah Kyai Imam Fakih pada tahun 1904 M.[9] Langgar ini dulu berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat menimba ilmu pendidikan Islam bagi para pelajar atau santri.
2.      Langgar yang didirikan oleh Mbah Kyai Abu Bakar, merupakan langgar tertua urutan kedua setelah langgar Mbah Kyai Barnawi. Bangunan langgar ini sampai sekarang masih ada. Berada ditembok pengimaman langgar bagian Barat terdapat sebuah logo Mataraman yang sudah semakin keropos di makan zaman. Diatas setiap pintu dan jendela langgar ini masih berupa relief berbentuk bunga-bunga yang merupakan ciri khas Langgar di zaman Mataraman. Menurut sebagian sesepuh, langgar ini dahulu juga sebagai tempat menimba ilmu agama bagi para pelajar atau santri, disamping pula sebagai tempat shalat Jum’at warga sebelum dusun Sekardangan mempunyai sebuah masjid. Pada generasi akhir, langgar ini juga pernah digunakan sebagai tempat khususi [10] bagi penganut Thariqah an-Naqsyabandiyah al-Khaliddiyah.[11]
3.      Langgar yang didirikan oleh para keturunan Mbah Kyai Abu Yamin (makam beliau berada di Pemakaman desa Gaprang bagian selatan, sebab saat itu Sekardangan belum mempunyai pemakaman sendiri). [12]  Mbah Kyai Abu Yamin mempunyai tiga anak yang ketiganya menurut sebagian sesepuh juga membangun langgar sendiri-sendiri sebagai tempat ibadah dan institusi pendidikan Islam bagi para pelajar atau santri zaman dulu. Langgar anak beliau itu adalah; [1] Langgar yang didirikan Nyai Siti Maryam (istri Mbah Kyai Barnawi)[13] [2]. Langgar yang didirikan Mbah Kyai Abdurrahman [3]. Langgar yang didirikan Mbah Kyai Zainuddin. Langgar-langgar ini umumnya sudah mengalami pemugaran dan perpindahan tempat beberapa kali hingga sudah tidak bisa dilacak keasliannya dan sudah kabur ciri khas sebagai langgar kuno (zaman dulu).
4.      Langgar yang didirikan Mbah Kyai Imam Ghazali [14] (putra Mbah Kyai Abu Bakar). Langgar ini beliau serahkan kepada orang yang beliau percaya bisa memegang amanah yaitu Mbah Kyai Ramli[15] dalam tongkat estafet kepengurusannya. Kemudian setelah Mbah Kyai Ramli wafat, kepengurusan langgar diserahkan kepada putranya yang bernama H. Nawadji Ramli. Pada saat kepengurusan H. Nawadji Ramli, langgar ini direhab total dan status langgar berubah menjadi masjid yang diberi nama “Masjid Al-Mubarok”.[16] Langgar ini di zaman Mbah Kyai Ghazali dan Mbah Kyai Ramli juga berfungsi sebagai institusi pendidikan Islam untuk mengajarkan ilmu pendidikan Islam bagi para pelajar atau santri.
Namun disamping langgar pada zaman itu dijadikan sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan Islam, para kyai zaman itu juga tidak keberatan jika rumah mereka dipakai sebagai institusi pendidikan (tempat menimba ilmu). Hal ini berdasarkan sebuah sejarah yang menyatakan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw juga menjadikan “Darul Arqam” (rumah sahabat Arqam bin Abi al- Arqam) sebagai institusi pendidikan pertama yang dipakai Nabi untuk mengajar para sahabat. Adapun diantara “Rumah Kyai” di Sekardangan yang dalam masa itu dijadikan sebagai institusi pendidikan Islam (tempat menimba ilmu) diantaranya; rumah Mbah Kyai Zainuddin, rumah Mbah Kyai Abdurrahman, rumah Mbah Kyai Imam Ghazali, rumah Mbah Kyai Ramli, rumah Mbah Kyai Ahmad Dasuqi,[17] dan lain-lain.
2.      Pesantren dan Madrasah Diniyah (1900 M- Sekarang)
Bermula dari institusi-institusi pendidikan Islam yang berupa langgar dan rumah kyai tersebut, muncul sebuah ide cemerlang dari Mbah Kyai Imam Fakih [18] untuk menyatukan institusi-institusi tersebut dalam satu tempat (satu atap). Ide Mbah Kyai Imam Fakih ini disambut dengan antusias oleh para kyai, tokoh masyarakat dan warga  dusun Sekardangan zaman itu.  Maka Mbah Kyai Imam Fakih beserta para kyai dan warga Sekardangan pada tahun 1900 M bergotong- royong  mendirikan sebuah “Pesantren” dan “Madrasah Diniyah” sebagai institusi pendidikan Islam yang lebih maju daripada institusi sebelumnya.[19] Pesantren yang beliau dirikan ini merupakan pesantren pertama dalam sejarah Sekardangan. Pesantren itu berada di dusun Sekardangan bagian pojok Selatan, yang berdekatan kira-kira kurang lebih jarak 200 meter dengan petilasan rumah pendiri dusun Sekardangan. [20]
Adapun tenaga-tenaga pengajar pesantren dan madrasah diniyah pada masa Mbah Kyai Imam Fakih saat itu sangat beragam. Sebagian pengajar berasal dari putra-putri Mbah Kyai Imam Fakih sendiri. Sebagian lagi berasal dari para putra-putri dari keturunan para Kyai Pendiri Langgar di dusun Sekardangan yang tersebut diatas. Sebagian lagi ada pula pengajar yang berasal dari tetangga dusun Sekardangan yang memang mempunyai kemampuan untuk mengajar. Pada zaman itu banyak sekali pelajar-pelajar atau santri dari berbagai daerah luar dusun Sekardangan yang menimba ilmu pengetahuan Islam di pesantren dan madrasah diniyah tersebut. Dari berbagai pelajar atau santri itu, dapat di kategorikan sebagai berikut:
1.      Santri Tetap, yakni santri dari daerah jauh yang menetap di pesantren. Konon sejak zaman ini memang sudah ada santri tetap yang mendiami pesantren tersebut. Santri semacam ini biasanya ketika pagi tiba, mereka juga ikut “bekerja” [21] dengan warga desa.
2.      Santri Dalem, yakni santri yang ikut mengabdi di rumah kyai. Biasanya, santri seperti ini disebut “Khadim/Khadam Kyai” (pembantu atau abdi dalem yang ikut di rumah kyai dan setiap hari ikut makan di rumah kyai tersebut).
3.      Santri Kalong, yakni santri yang sore datang ke pesantren dan menginap di situ sampai pagi. Kemudian ketika pagi tiba, ia pulang ke rumah masing-masing untuk membantu pekerjaan orang tua masing-masing .
Dari ketiga kategori itu, maka kategori santri ketiga (baca; Santri Kalong) merupakan kategori santri terbanyak kala itu. Santri Kalong ini berasal dari berbagai tetangga dusun Sekardangan seperti; Tlogo, Kuningan, Gaprang, Pakel, Duwet, Gajah, dan lain-lainnya.
Dari ide pendirian pesantren dan madrasah diniyah ini, selanjutnya ide kreatif Mbah Kyai Imam Fakih berkembang lagi untuk mendirikan sebuah masjid. Sebab kala itu, di dusun Sekardangan memang belum mempunyai masjid sendiri untuk melakukan shalat Jum’at. Ide kreatif Mbah Kyai Imam Fakih ini juga disambut antusias oleh para warga dan para kyai Sekardangan. Dari hasil penjualan tanah miliknya (baca: Mbah Kyai Imam Fakih) kepada Handels Vereniging Amsterdam (HVA)[22] untuk dijadikan jalan trem (jalan kereta api)  pengangkut tebu milik Belanda, maka berdirilah sebuah masjid pertama di Sekardangan yang diberi nama “Masjid Miftahul Huda”.[23]  Namun seiring berjalannya waktu, setelah masjid itu direhab pada tahun 1984 M, maka masjid tersebut diganti nama dengan “Masjid Baitul Makmur” yang mana nama terakhir ini tetap abadi hingga sekarang.[24]
Adapun kepemimpinan masjid (merangkap sebagai ketua ta’mir masjid) dan pesantren dari masa ke masa adalah sebagaimana yang tersebut dibawah ini:
1.      Mbah Kyai Imam Fakih (1900 M – 1923 M), seorang kyai yang alim fikih [25] dan menggunakan metode sorogan dalam pesantrennya.
2.      Mbah Kyai Imam Syadzali (1923 M – 1925 M), masih menggunakan metode sorogan dalam pesantrennya. Ia adalah putra dari Mbah Kyai Imam Fakih.
3.      Mbah Kyai Ahmad Shobiri (1925 M – 1951 M), seorang kyai yang alim dalam bidang tasawuf “Kitab Bidayatul Hidayah”-nya Imam Ghazali [26] dan merupakan menantu dari Mbah Kyai Imam Fakih. Pada masa Mbah Kyai Ahmad Shobiri ini berhasil membangun sebuah serambi masjid.
4.      Mbah Kyai Abbas Fakih (1951 M – 1960 M), seorang kyai yang ahli dalam bidang perdukunan (ilmu at-tibb), ahli menumbali tanah angker dan pengobatan. [27] Ia adalah putra Mbah Kyai Imam Fakih.
5.      Mbah Kyai Imam Mahdi (1960 M – 1997 M), cucu dari Mbah Kyai Imam Fakih. Ia adalah penganut Thariqah al-Qadiriyah wa an-Naqsabandiyah dan Jam’iyah Shalawat Dala’ilul Khairat. Pada masa ini, kedua kegiatan itu yakni tharikah dan jam’iyah Shalawat Dala’ilul Khairat berkembang sangat pesat hingga Tulungagung, Kediri dan sekitarnya.[28]
6.      Mbah Kyai Muhammad Hamzah (1997 M – 2002 M), [29] pada masa ini Pesantren Miftahul Huda berganti nama menjadi “Pesantren Ketrampilan Miftahul Huda” [30] yang kurikulum pesantrennya memasukkan ketrampilan jahit-menjahit dan ketrampilan lainnya.
7.      Mbah Kyai Masjhudi (2002 M – sekarang), [31] pada masa ini urusan kemasjidan (ta’mir masjid) dipegang beliau, sedangkan urusan kepesantrenan dipegang oleh Kyai Drs. Muhammad Tasrifin, M.Pd.I [32] (kyai muda, menantu dari Mbah Kyai Muhammad Hamzah).
Selain para kyai diatas, ada banyak para kyai mulai zaman kepemimpinan Mbah Kyai Abbas Fakih kebawah (zaman no.4 sampai no.7) yang mempunyai kontribusi besar dalam membangun peradaban pada pendidikan di masjid, pesantren, madrasah diniyah dan pendidikan Islam di lingkungan dusun Sekardangan pada umumnya. Diantara kyai tersebut adalah:
1.      Mbah Kyai Maulan, seorang ulama’ yang ahli ilmu hisab, ilmu fikih dan yang terkenal mempunyai suara yang sangat merdu dalam komunitas Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) dan komunitas lainnya.[33]
2.      Mbah Kyai Machrus Yunus, seorang ulama’ yang juga ahli ilmu hisab, pengijazah Shalawat Nariyyah yang hingga kini masih berlangsung, serta pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dan SD Plus Sunan Pandanaran di dusun Sekardangan.[34]
3.      Mbah Kyai Nasruddin, seorang ulama’ yang ahli ilmu tasawuf dan penganut Thariqah Shalawat Wahidiyyah ajaran Syaikh Abdul Madjid Ma’roef (Kedunglo, Kediri) dalam sebagian amaliyahnya.[35]
4.      Mbah Kyai Muhtar Fauzi, seorang ulama ahli tauhid, ahli amalan Hizib Auliya’ dan merupakan seorang yang menjadi cikal bakal berdirinya institusi pendidikan Islam formal pertama (tertua) di Sekardangan.[36]
5.      Mbah Kyai Zainuddin, seorang ulama yang menjadi cikal bakal amaliyah Yasinan, Tahlil dan Istigotsah di dusun Sekardangan.[37]
6.      Dan lain-lainnya.[38]
Adapun kurikulum pendidikan Islam yang diajarkan di masjid Baitul Makmur dan Pesantren Miftahul Huda dari masa ke masa diantaranya:[39]
1.      Tafsir al-Qur’an; meliputi Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Ibriz dan semacamnya.
2.      Ilmu Nahwu; meliputi Kitab al-Jurumiyah, Bahasa Arab dan semacamnya.
3.      Ilmu Sharaf; meliputi Kitab al-Tasrif dan semacamnya.
4.      Ilmu Fikih; meliputi Kitab al-Mabadi al-Fiqhiyyah dan semacamnya.
5.      Ilmu Qiro’ah; meliputi sorogan al-Qur’an.
6.      Dan lain-lainnya. [40]
Diantara para kyai besar yang pernah diundang memberikan ceramah dan pencerahan di masjid Baitul Makmur dan Pesantren Miftahul Huda antara lain:
a.      Mbah Kyai Dimyathi; seorang kyai yang terkenal sebagian dari wali Allah (min ba’dil Auliya’) dari Baran, Selopuro, Blitar.
b.      Mbah Kyai Machrus Ali; seorang kyai pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri.
c.       Mbah Kyai Ali Shoddiq Umman; seorang kyai pengasuh Pondok Ngunut, Tulungagung.
d.     Dan lain-lain. [41]
Pada tanggal 19 November 1986 masjid Baitul Makmur Sekardangan diresmikan Bapak Siswanto Adi, yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II kabupaten Blitar dengan ditorehkan sebuah tanda tangan beliau pada prasasti yang terdapat didepan masjid tersebut.[42] Hal ini merupakan penghargaan dan kerjasama Umara’ (pemegang pemerintahan) kepada Ulama’ (pemegang agama Islam) yang memang seharusnya tetap bersatu padu dalam membangun peradaban Islam secara berkesinambungan. Bersatu padu dalam membangun dan meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
3.      Madrasah Formal Pertama (1966 M – Sekarang)
Bermula dari berbagai institusi pendidikan Islam yang konvensioanal seperti; langgar, rumah kyai, masjid, pesantren hingga madrasah diniyah diatas, maka pada tahun 1966 M muncul sebuah ide kreatif dari Kyai Muhtar Fauzi (cucu Mbah Kyai Imam Fakih) bersama kawan-kawan perjuangannya [43] untuk melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam. Ide kreatif tersebut mendapat sambutan yang hangat dari para tokoh agama, tokoh masyarakat serta warga dusun Sekardangan. Dari ide tersebut, maka tepat pada tanggal 05 Januari 1966 bersama segenap ta’mir Masjid Baitul Makmur dan para tokoh masyarakat mendirikan  madrasah formal yang diberi nama “Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01” dan “Taman Kanak-Kanak Al-Hidayah”[44] di atas tanah wakaf dari Mbah Kyai Abbas Fakih (putra Mbah Kyai Imam Fakih). Kedua institusi formal ini didirikan pada tahun yang sama, yakni tahun 1966 M.[45]
Dengan demikian, Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 dan Taman Kanak-Kanak Al- Hidayah merupakan “Institusi Pendidikan Islam Formal Pertama dan Tertua” dalam sejarah Sekardangan. Kemudian berkaitan dengan hal ini, maka pencetus ide pertama dalam pendirian madrasah formal yakni Kyai Muhtar Fauzi ditunjuk oleh para tokoh dan para alim ulama’ untuk menjadi kepala madrasah pertama di lembaga tersebut. Berikut adalah kepala Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 dari masa ke masa: [46]
1.      Kyai Muhtar Fauzi ( 1966 M – 1968 M)
2.      KH. Muhammad Hamzah TMH (1968 M – 1975 M)
3.      KH. Masjhudi, BA. (1975 M – 1994 M)
4.      H. Mustadji, A.Ma. (1994 M – 1997 M) [47]
5.      H. Marjani, A.Ma. (1997 M – 2007 M) [48]
6.      Lina Zunnuroiin, S.Pd.I. (2007 M – Sekarang)
Adapun kepala Taman Kanak-Kanak Al- Hidayah dari masa ke masa antara lain:
1.      Siti Djariah[49] (1966 M – 1980 M)[50]
2.      Hj. Mastiyah Machrus, A.Ma.[51] (1980 M – 1986 M)
3.      Siti Windarwati, S.Pd. (1986 M – 2012 M)
4.      Solikah, S.Pd. (2012 M – Sekarang)[52]
Dari paparan sejarah singkat institusi pendidikan Islam non formal hingga terbentuknya institusi pendidikan Islam formal pertama (tertua) di dusun Sekardangan tersebut, mungkin ada kata-kata indah dari Maxim Gorky yang menyatakan “The People must know their history” [53] yang menurut bahasa penulis sendiri dapat diartikan dengan “Warga madrasah mesti tahu sejarahnya”. Dalam arti luas, kata-kata Gorky itu dapat diartikan bahwa warga madrasah mulai kepala madrasah, para guru serta siswa-siswi hendaknya tahu akan sejarah madrasah yang setiap hari dilaluinya sebagai “tempat belajar dan mengajar” berbagai macam ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Dengan demikian, sebagai generasi penerus akan senantiasa  berkaca pada para pendahulu serta semaksimal mungkin mampu melakukan inovasi-inovasi (pembaharuan-pembaharuan) dalam pendidikan Islam di Sekardangan sesuai perkembangan zaman yang semakin komplek.
Sedangkan dalam bahasa Soekarno, kata-kata indah itu terangkum dalam dua kata singkat yaitu “Jas Merah” yang kepanjangannya adalah “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!”.[54] Mungkin berawal dari perkataan Bung Karno ini, akan menjadikan warga madrasah, baik kepala madrasah, dewan guru, pengurus maupun para siswa-siswi untuk tidak akan pernah melupakan sejarah perjuangan para pejuang pendidikan Islam di Sekardangan dari masa ke masa. Pejuang dari masa ke masa tersebut mulai dari pejuang pendidikan Islam yang berupa institusi Langgar, institusi Rumah Kyai, institusi Pesantren, institusi Masjid, hingga Institusi Madrasah Diniyah yang menjadi cikal bakal berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda 01 dan TK Al- Hidayah yang saat ini menjadi “tempat belajar dan mengajar” bersama. Dan yang terakhir kali, hal itu  juga merupakan sejarah panjang berdirinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD Insan Kamil)  yang didirikan oleh tokoh-tokoh Sekardangan pada abad 21 (sekarang ini) dengan kepala PAUD pertama yaitu, Indah Jumiyatin, S.Pd.[55]
Penutup
Kesimpulan
Akhir kata, dari paparan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa; [1]. Pada awalnya institusi pendidikan Islam di dusun Sekardangan ada beberapa macam antara lain; langgar, rumah kyai, masjid, pesantren dan madrasah diniyah [2]. Institusi pendidikan Islam formal pertama di dusun Sekardangan adalah MI Miftahul Huda 01 dan TK Al-Hidayah yang didirikan pada tanggal 05 Januari 1966 atas ide cemerlang Kyai Muhtar Fauzi dan kawan-kawannya sebagai tokoh pembaharu pendidikan Islam yang awalnya non formal menjadi formal [3]. Hendaknya para generasi penerus tidak melupakan sejarah para pejuang pendidikan Islam dari masa ke masa hingga terbentuknya pendidikan Islam formal pertama di dusun Sekardangan secara keseluruhan tanpa pandang bulu. [4]. Hendaknya para generasi penerus menjadikan sejarah tersebut, meminjam istilah Bung Karno sebagai “kaca benggala” (kaca cermin) untuk melakukan inovasi-inovasi (pembaharuan-pembaharuan) dalam pendidikan Islam di Sekardangan sebagaimana yang dilakukan para pendahulu sesuai dengan zamannya. Ada sebuah perkataan hikmah: “Anak-anakmu adalah anak-anak dizamannya, bukan anak-anak dizaman kalian”. Dari perkataan hikmah ini, sudah tentu inovasi-inovasi atau pembaharuan-pembaharuan harus terus diupayakan agar tidak tertinggal oleh derasnya arus perkembangan zaman.
Kritik dan Saran
Dalam pemaparan sejarah diatas pasti tidak lepas dari kesalahan yang dalam peribahasa disebutkan “Tiada gading yang tak retak”. Dalam hal ini penulis memang sengaja tidak  membahas tentang pendidikan formal di dusun Sekardangan yang lain. Hal ini dengan pertimbangan bahwa terbentuknya “Institusi Pendidikan Islam Formal Pertama” di dusun Sekardangan memang merupakan sejarah perjuangan yang sangat unik dari masa ke masa. Sedangkan lembaga formal yang lain tidak mempunyai sejarah panjang yang terkait dengan para tokoh pertama dusun Sekardangan. Kata-kata penulis “Formal Pertama”(di atas) sudah bisa ditebak bahwa institusi yang penulis paparkan merupakan Institusi Formal Tertua di dusun tersebut. Akhir kata, mudah-mudahan segala jasa-jasa kebaikan selalu terlimpahkan kepada pejuang pendidikan Islam di Sekardangan mulai awal hingga akhir. Baik yang tercatat dalam tulisan ini, maupun yang tidak tercatat didalamnya. Kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan tulisan ini selalu penulis harapkan.
Daftar Rujukan
Sumber Buku:
Al-Abrashi, (1969). Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa Falasifatuha, (Qahirah: Isa Al-Baby al-Halaby).
Kurniawan, Eka, (2006). Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, (Jakarta: PT.  Gramedia Pustaka Utama)
Langgulung, Hasan, (2003). Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru).
Masjid, Ta’mir, (1990). Masjid Baitul Makmur Sekardangan Kanigoro Kabupaten Blitar, (Blitar: Ta’mir Masjid Baitul Makmur)
Ramayulis, (2002). Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia)
Shalabi, (1954).  History of  Muslim Education, (Beirut: Dar Al-Kasyaf).
Sumber Internet:
www.erepublik.com/ea/article/jas-merah-2197408/1/20
Sumber Lain:
Wawancara para sesepuh dusun Sekardangan.


[1] Penulis adalah peneliti di The Post Institute Blitar dan pengajar di Lembaga Pendidikan Dakwah Masjid Agung Kota Blitar.
[2] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2003), hal. 17-18. Lihat pula dalam Shalabi, History of  Muslim Education, (Beirut: Dar Al-Kasyaf, 1954), hal. 41.
[3] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2003), hal. 18. Lihat pula dalam  Al-Abrashi, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa Falasifatuha, (Qahirah: Isa Al-Baby al-Halaby, 1969), hal. 65.
[4] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 216
[5] Ada sebagian sesepuh yang menyatakan bahwa Nyai Gadhung Melati sudah beragama Islam (Islam versi Sunan Kalijaga).  Ia hijrah di Sekardangan sekitar tahun 1582 masehi dan kembali ke tempat asalnya Sukoharjo, Jawa Tengah sekitar tahun 1621 masehi. Nyai Sekar Gadhung Melati merupakan janda dari Kyai Purwoto Siddiq Banyubiru (Ki Ageng Kebo Kanigoro/paman Jaka Tingkir), Sukoharjo, Jawa Tengah dan mempunyai putri yang bernama Raden Ayu Rara Tenggok. (Disarikan dari berbagai wawancara dengan sesepuh Sekardangan).
[6] Jaman dulu ada yang menyebutnya “Sanggar” atau “Langgar”. Di Sumatra dikenal dengan nama “Surau”. Seiring berjalannya waktu, nama tersebut berubah menjadi “Mushalla”, dengan bahasa Arab yang artinya “tempat shalat atau tempat sembahyang”.
[7] Tahun 1755 M merupakan tahun terakhir Jaman Mataram Islam, yang pada tanggal 17 Maret 1755  Kerajaan Mataram Islam dipecah belah menjadi tiga bagian oleh kompeni Belanda dalam Perjanjian Giyanti, hingga akhirnya orang-orang dari kerajaan tersebut banyak yang hijrah sampai ke Jawa bagian Timur. Menurut sesepuh, para tokoh dari Mataram yang hijrah dan menjadi cikal bakal dusun Sekardangan ada empat orang yaitu: [1]. Mbah Kyai Abu Yamin [2]. Mbah Kyai Abu Bakar [3]. Mbah Kyai Barnawi [4]. Mbah Kyai Raden Tirto Sentono beserta kawan- kawan seperjuangan keempat tokoh tersebut. Dari keempat tokoh inilah Sekardangan menjadi “Satu Keluarga” sebab, dari keturunan keempat tokoh ini banyak yang melakukan pernikahan antar keturunan. Sehingga para sesepuh dulu banyak yang menyatakan dalam bahasa Jawa: “Sak Sekardangan iki isih dulur kabeh, senajan sedulur kadang katut”(Satu dusun Sekardangan ini masih saudara semua, walau saudara yang karena mengikuti saudara yang menjadi saudara yang lain).
[8] Menurut penuturan para sesepuh, ditengah dusun Sekardangan jaman dulu ada “Sumber Air” yang sangat besar. Namun seiring berubahnya zaman, sumber air tersebut mati dan tidak berfungsi lagi hingga sekarang. Menurut penuturan sesepuh pula, konon didekat sumber air itu dulu ada makam (kuburan) seorang Belanda yang meninggal dunia dalam pertempuran. Penulis sewaktu kecil juga pernah diberi tahu tentang batu nisan  makam yang terbuat dari batu tak berbentuk dan pohon bunga puring yang berada di tempat itu. (Wawancara dengan Mbah Kyai Zainuddin)
[9] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 3
[10] Zikir bersama yang bersifat khusus bagi sesama penganut Thariqah an-Naqsyabandiyah.
[11] Wawancara dengan Mbah Kyai Zainuddin dan disarikan dari berbagai kisah dari para sesepuh.
[12] Menurut para sesepuh, sebelum dusun Sekardangan mempunyai pemakaman sendiri, maka pada zaman dulu banyak sekali warga dusun Sekardangan yang dimakamkan di Pemakaman desa Gaprang bagian Selatan, seperti; Mbah Kyai Abu Yamin, Mbah Kyai Imam Muchtar dan lain-lainnya.
[13] Jadi, langgar ini adalah sama dengan langgar Mbah Kyai Barnawi diatas.
[14] Makam Mbah Kyai Ghazali berada di area makam Mbah Kyai Abu Bakar (ayahnya) yang berada kurang lebih 70 meter sebelah Barat langgar yang didirikan Mbah Kyai Abu Bakar. Dulu jasadnya akan dimakamkan di sebelah Barat langgar yang ia dirikan sendiri (yang sekarang menjadi Masjid Al-Mubarok), tetapi tidak jadi karena berbagai pertimbangan. Makam Mbah Kyai Abu Bakar ini sering diziarahi para penempuh spiritual dari kota dan kabupaten Blitar pada bulan-bulan tertentu, begitu juga langgar yang ia dirikan.
[15] Mbah Kyai Ramli adalah seorang ulama yang terkenal sebagai ahli mengobati dengan besi panas yang dijilati dengan lidahnya sendiri dan mempunyai kesukaan ziarah ke makam-makam para wali dan ulama’. (Disarikan dari kisah para sesepuh Sekardangan).
[16] Masjid Al-Mubarok sampai saat ini tidak dipakai sebagai tempat shalat Jum’at warga. Namun pada hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, masjid ini dipakai shalat Ied untuk kaum wanita warga Sekardangan. Pada zaman KH. Maulan masjid ini akan dipakai sebagai shalat Jum’at bersama, tetapi karena berbagai pertimbangan, hal ini belum terlaksana hingga saat ini.
[17] Mbah Kyai Ahmad Dasuqi adalah menantu dari Mbah Kyai Zainuddin putra  Mbah Kyai Abu Yamin. Mbah Ahmad Shobiri (menantu Mbah Kyai Imam Fakih) sering berkunjung ke rumah Mbah Kyai Ahmad Dasuqi ini hanya sekedar diskusi ilmu-ilmu agama Islam sambil mengopi dan merokok klobot. (Kisah dari Mbah Kyai Zainuddin).
[18] Mbah Kyai Imam Fakih merupakan tokoh yang berasal dari Bagelenan, Jawa Tengah. Tertangkapnya Pengeran Diponegoro pada tahun 1830 M oleh pihak Kompeni Belanda menyebabkan para laskar Diponegoro hijrah ke berbagai tempat. Tersebutlah Mbah Kyai Imam Fakih yang hijrah kearah Timur hingga sampai di dusun Sekardangan dan menjadi seorang yang cikal bakal masjid dan pesantren pertama didusun tersebut. Tersebutlah Mbah Kyai Hasan Thohiran sebagai kawan perjuangan Mbah Kyai Imam Fakih dalam lika-liku mendirikan masjid dan pesantren tersebut.
[19] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 3
[20] Menurut sesepuh dusun Sekardangan, petilasan rumah pendiri (cikal bakal dusun Sekardangan) dulu ada dua: Pertama, berada didekat sumber air di tengah dusun Sekardangan yang saat ini sumber itu sudah mati dan tidak ada bekasnya. Kedua, berada di dekat sungai dusun Sekardangan bagian Selatan yang saat ini dibangun sebuah “monumen” yang berada kira-kira 200 meter sebelah Barat Masjid Baitul Makmur. (Disarikan dari berbagai wawancara dengan sesepuh Sekardangan)
[21] Istilah Jawa-nya “Manjing” atau “Nyambut Gawe” (bekerja pada orang lain dan diberi upah menurut adat masing-masing daerah tertentu)
[22] http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/kisah-tak-terperi-kuli-hindia-belanda
[23] Luas tanah wakaf masjid Baitul Makmur dari Mbah Kyai Imam Fakih seluruhnya tercatat 1837.275 M2 yang terproses pada tahun 1908 M. (Lihat, Ta’mir Masjid, 1990: 4)
[24] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 13
[25] Saking berhati-hatinya dengan ilmu fikih, bahkan beliau dulu juga mengharamkan rokok. (Cerita dari Mbah Kyai Zainuddin).
[26] Cerita dari para sesepuh Sekardangan, antara lain Mbah Umi Kulsum, Mbah Kyai Zainuddin, Mbah Tsabit, dll.
[27] Penulis juga pernah diobati oleh Mbah Kyai Abbas Fakih. Penulis juga pernah mendapatkan amalan Shalawat Nuri Dzati susunan Syaikh Abu Hasan As-Syadzili dari beliau serta sering dikasih uang jajan (uang saku).
[28] Saat Mbah Kyai Imam Mahdi sakit, penulis bertugas mencukur rambut beliau tiap sebulan sekali. Beliau juga pernah memberi ijazah Shalawat Munjiyat, Shalawat Ridha dan amaliyah lainnya kepada penulis.
[29] Mbah Kyai Muhaamad Hamzah juga sebagai pengajar di MAN Tlogo, Kanigoro, Blitar. Penulis juga sering diajak beliau saat ada undangan ceramah atau pengajian diberbagai tempat.
[30] Yakni ditambah kata “Ketrampilan” setelah kata “Pesantren”.
[31] Mbah Kyai Masjhudi juga sebagai pengajar di MAN Tlogo, MA Hasanuddin Gaprang, dan MI Miftahul Huda 01 Sekardangan.
[32] Kyai Drs. Muhammad Tasrifin, M.Pd.I., juga sebagai pengajar di MAN Tlogo dan MA Hasanuddin Gaprang.
[33] Penulis pernah mendapat saran dari Mbah Kyai Maulan agar tetap setia pada Kitab Ta’limul Muta’alim karya Syaikh Az-Zarnuji (seorang ulama abad pertengahan).
[34] Penulis pernah diberi ijazah amalan Shalat Hajat, Shalawat Ringkas (Shallallah ala Muhammad) dan amalan Doa Kanzul Arsy oleh Mbah Kyai Machrus Yunus.
[35] Mbah Kyai Nasruddin sering mengajak penulis mengikuti zikir Shalawat Wahidiyah di Kedonglo, Kediri. Mbah Kyai Nasruddin adalah kakak dari Mbah Kyai Muhammad Hamzah yang sangat alim dalam bidang tasawwuf.
[36] Penulis pernah diberi ijazah amalan Shalawat Dala’ilul Khairat, Hizib Nashar, Hizib Nawawi, Hizib Barqi, Hizib Bahri dan berbagai macam amalan lainnya oleh Mbah Kyai Muhtar Fauzi.
[37] Penulis sering diajak Mbah Kyai Zainuddin sowan-sowan kepada para ulama dan diajak istigotsah ke berbagai tempat. Penulis juga pernah diberi ijazah amalan Basmallah, Hizib Barqi, Shalawat Fatih, dan lainnya oleh beliau. Mbah Kyai Zainuddin yang dimaksud disini bukanlah Mbah Kyai Zainuddin yang dimaksud diatas. Mbah Kyai Zainuddin disini adalah cucu dari Mbah Kyai Zainuddin diatas. Untuk membedakan Mbah Kyai Zainuddin diatas, maka Mbah Kyai Zainuddin disini sering diberi gelar “Mbah Kyai Sakri”.
[38] Karena teramat banyaknya para kyai (ulama’), umaro’ (pemegang pemerintahan), dan lainnya yang mempunyai kontribusi dalam membangun peradaban Islam di Sekardangan sesuai dengan bidang masing-masing, maka penulis  tidak mungkin akan menyebutkan satu persatu dalam tulisan yang sangat terbatas ini.
[39] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 14-15
[40] Banyak nama kitab yang diajarkan di masjid dan pesantren tersebut sebagai target kurikulum yang tak perlu disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.
[41] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 17 (pada tahun 1985 M – 1987 M).
[42] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 5
[43] Diantara kawan-kawan seperjuangan Kyai Muhtar Fauzi diantaranya; H. Abdul Fattah, KH. Imam Mahdi, KH. Muhammad Hamzah, Bapak Husnan, Bapak Zaini, Bapak Abdul Hamid, Mbah Kyai Bakri (hijrah ke Pakel), Mbah Kyai Ustman (hijrah ke Buntu, Tlogo), Mbah Kyai Muhyiddin (hijrah ke Tanggung, Garum), Bapak H. Muhammad Damiri, KH. Maulan, Bapak Suroyo , Mbah Kyai Muhammad Irjaz, Bapak KH. Erfan, Bapak Syuhud, Bapak H. Masjkur dan tokoh lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Zaman ini juga telah ada lembaga diniyah di rumah Mbah Kyai Muhammad Irjaz sebagai tempat belajar dan mengajarkan ilmu pendidikan Islam.
[44] MI Miftahul Huda 01 dibawah naungan LP. Ma’arif NU dan Departemen Agama (sekarang Kementrian Agama). Sedangkan TK Al-Hidayah dibawah naungan  YPMNU dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kemendiknas). Dan perlu diketahuai pula bahwa MI Miftahul Huda Papungan 02 yang berada di dusun Duwet jaman dulu termasuk cabang dari MI Miftahul Huda 01 Sekardangan. Dengan berjalannya waktu ia memisahkan diri dari induknya.
[45] Lihat Ta’mir Masjid, 1990, hal. 14
[46] Data kepala madrasah ini terpampang pada dinding MI Miftahul Huda 01 Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Selain H. Mustadji dan H. Marjani berasal dari Sekardangan.
[47] H. Mustadji berasal dari dusun Sumberagung, desa Banggle, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar.
[48] H. Marjani berasal dari desa Tlogo, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar.
[49] Siti Djariah hijrah ke Sulawesi dan hingga sekarang ia masih hidup.
[50] Sebelum ini sebenarnya sudah ada TK (Taman Kanak-Kanak) yang dipimpin oleh Bapak Kasmuni dirumah beliau, lalu diserahkan kepada Siti Rubikah (hijrah ke Jember, istri pertama Bapak Kasri [buyut dari Mbah Kyai Abu Yamin]). Lalu dipindah ke tempat saat ini dijadikan satu dengan Masjid Baitul Makmur. (Kisah dari Ibu Siti Rofi’ah).
[51] Hj. Mastijah Machrus mendirikan SD Plus Sunan Pandanaran bersama suaminya Mbah Kyai Mahrus Yunus (alm).
[52] Data dari TK Al_Hidayah Papungan 01 Sekardangan.
[53] Eka Kurniawan, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, (Jakarta: PT.  Gramedia Pustaka Utama, 2006)
[54] www.erepublik.com/ea/article/jas-merah-2197408/1/20.
[55] Menantu dari Mbah Kyai Imam Mahdi (alm).