Rabu, 30 November 2016

SEKELUMIT KISAH TENTANG KIAI AGENG PONCO SUWIRYO DAN SEPUTAR MAKAM AULIYA “MBREBESMILI SANTREN” BEDALI, PURWOKERTO, SRENGAT, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

"Menulislah kawan!. Apapun juga bisa dapat kalian tulis. Tulis dan tulis!. Mudah-mudahan bermanfaat kini dan mendatang"
(Anonim) 

Kiai Ageng Ponco Suwiryo yang sering disebut “Mbah Ponco” memiliki beberapa nama lain, di antaranya: Sayyid Bukhori Mukmin atau Kiai Suwiryo Hadi Kesumo. Beliau merupakan teman seperjuangan Kiai Kasan Mujahid, seorang ulama pendiri Masjid Baitul Hasanah yang berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. 

Dikisahkan bahwa Kiai Ageng Ponco Suwiryo atau Sayyid Bukhori Mukmin dalam kehidupannya memiliki tiga istri dan sembilan putra  yang semuanya menjadi seorang ulama pada zamannya. Dari sembilan putra tersebut, Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo merupakan putra angkat yang sangat dihormati oleh Kiai Ageng Ponco Suwiryo. Adapun sembilan putra Kiai Ageng Ponco Suwiryo, seorang kiai agung yang makamnya dalam areal “Pemakaman Auliya Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar, di antaranya:

1.    Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo (Pangeran Papak Nata Praja cucu Nyi Ageng Serang, seorang Pahlawan Nasional). Beliau merupakan pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU). Makam beliau berada di Tojo, Temuguruh, Banyuwangi.
2.    Kiai Siddiq. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
3.    Kiai Tabri. Beliau ini juga berada di Banyuwangi hingga akhir hayatnya.
4.    Kiai Baurejo. Beliau berada di Karangkates, Malang hingga akhir hayatnya.
5.    Kiai Joyodiguno. Beliau berada di Sumberpucung, Malang hingga akhir hayatnya.
6.    Kiai Mardi Utomo (Mbah Jayus). Beliau berada di Sumberpucung hingga akhir hayatnya.
7.    Kiai Kandar. Beliau berada di Kediri hingga akhir hayatnya.
8.    Kiai Wiryontono. Beliau merupakan salah satu ulama yang mbabat masjid pertama di desa Plosorejo, Kademangan, Blitar.
9.    Sayyid Abdullah Sulaiman. Beliau berada di Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar hingga akhir hayatnya. Dan dimakamkan dalam areal Makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.

Adapun silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) ke atas bersambung pada Kiai Ageng Tunggul Wulung + Roro Ayu Surti Kanti. Berikut silsilah nasab Kiai Ageng Ponco Suwiryo:

1.    Kiai Jamas Mashuri/Kiai Tunggul Wulung/Ki Ageng Kebo Dhungkul menikah dengan Roro Ayu Surti Kanti memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Nur Hidayatullah; (2) Nyai Ageng Genter Nur Aini.
2.    Kiai Nur Hidayatullah memiliki satu putra bernama Kiai Haryo Sumo Nur Hidayatullah.
3.    Kiai Sumo Nur Hidayatullah memiliki tiga putra, yaitu: (1) Kiai Sambi Nur Hidayatullah; (2) Kiai Mujang Nur Hidayatullah; dan (3) Kiai Puspo Nur Hidayatullah.
4.    Kiai Puspo Nur Hidayatullah memiliki satu anak bernama Ki Ageng Ronggo/ Kiai Jimat.
5.    Ki Ageng Ronggo/Kiai Jimat memiliki dua putra yaitu: (1) Ki Ageng Atmo Wulung; dan (2) Ki Ageng Guno Suwiryo.
6.    Ki Ageng Atmo Wulung memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Mojo; dan (2) Kiai Majasto.
7.    Kiai Mojo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Tojo Diningrat; dan (2) Kiai Kunto Diningrat.
8.    Kiai Tojo Diningrat memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi; dan (2) Kiai Hadi Kesumo/Kiai Cokro Wesi.
9.    Kiai Jayeng Katon/Kiai Kendil Wesi memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Niti Rejo; dan (2) Nyai Ageng Sumiyati.
10. Kiai Niti Rejo memiliki dua putra yaitu: (1) Kiai Ageng Ponco Suwiryo/ Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo/ Sayyid Bukhori Mukmin. Beliau wafat dan dimakamkan di areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren”, Bedali, Purwokerto, Srengat,Blitar; dan (2) Kiai Suryo Hadi Kesumo/ Kiai Senari Wadad/ Sayyid Marzuqi/ Sayyid Marsuki yang dimakamkan di Banyakan, Kediri, Jawa Timur dan biasa digunakan sebagai kirab ritual pusaka oleh warga setempat.

Adapun beberapa tokoh yang dimakamkan dalam areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar lainnya adalah:

1.    Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Ageng Syakban Tumbu (merupakan putra Kiai Ageng Raden Muhammad Qosim [Eyang Kasiman/Mbah Kasiman] dari istri pertama, yang yayasannya berada di Utara Masjid Agung Kota Blitar. Adapun istri Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang berasal dari Kalangbret, Tulungagung, dan masih keturunan Kiai Ageng Mangun Witono (Syaikh Hasan Ghozali) pendiri Masjid Tiban Al-Istimrar, Kalangbret, Tulungagung.
2.    Nyai Marfuatun dan Kiai Ageng Kasan Mujahid (menantu Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang/ Kiai Syakban Tumbu)
3.    Kiai Ageng Muhammad Asrori (seorang ulama Pendiri Masjid Al-Asror, Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar dan putra Kiai Ageng Syakban Gembrang Serang).
4.    Kiai Kembang Arum (Konon makamnya dahulu kala selalu berbau harum wangi)
5.    Kiai Imam Kastawi dan istrinya
6.    Kiai Imam Nawawi dan istrinya
7.    Kiai Munasir dan istrinya
8.    Mbah Banjir (Konon disebut “Mbah Banjir” sebab dahulu kala dia mengamalkan sebuah ilmu kadigdayaan hingga kebanjiran ilmu tersebut yang akhirnya menjadikannya seperti orang yang tidak waras)
9.    Sayyid Abdullah Sulaiman.
10. Dan beberapa tokoh masa lalu lainnya.

Demikian sekelumit kisah ini saya akhiri. Mudah-mudahan membantu para generasi penerus yang ingin “ngumpulne balung pisah” yang telah perpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun telah hilang dan terpisah-pisah. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Kuasa senantiasa memberi pertolongan kepada semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Allah melestarikan pirukunan/patembayatan kepada semua makhluk yang dikehendaki-Nya. Tentang Penulis: Arif Muzayin Shofwan, yang beralamtkan di: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos: 66171. HP. 085649706399.



Makam Mbah Kyai Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) ayah angakat Kyai Ageng R.M. Djojopoernomo pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) di areal Makam Auliya "Mbrebesmili Santren" Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar, Jawa Timur.
Makam Mbah Kyai Muhammad Asrori putra dari Mbah Kyai Muhammad Sya'ban (Kyai Sya'ban Tumbu/ Kyai Sya'ban Gembrang Serang). Beliau merupakan salah satu pendiri Masjid dan Pesantren Al-Asror, Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar, Jawa Timur.
Mas Muhammad Lu'luil Maknun (litbang Kemenag Semarang), saya ambil fotonya di rumah Mbah Mujio (Mbah Hasan Syuhadak) Demangan, Dermojayan, Srengat, Blitar, Jawa Timur pada saat melakukan sebuah penelitian tentang Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU)
 
Makam Mbah Kyai Ageng Raden Muhammad Syakban (Kyai Sya'ban Tumbu atau Kyai Sya'ban Gembrang Serang) putra dari Mbah Kyai Ageng Raden Muhammad Qosim (Mbah Kasiman) dan merupakan menantu dari Mbah Kyai Ali Muntoha (seorang yang cikal-bakal desa Jarakan, Gondang, Tulungagung dan keturunan Mbah Kyai Ageng Hasan Witono, Masjid Tiban Istimrar, Kalangbret, Kauman, Tulungagung). Tepat di samping makam beliau (yakni yang tidak di kijing), merupakan menantu Mbah Kyai Sya'ban yang bernama Mbah Kyai Kasan Mujahid (istri Nyai Marfu'atun binti Kyai Sya'ban Tumbu yakni pendiri masjid Baitul Hasanah, Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.

MENELUSURI SOSOK MBAH KYAI HAJI ABU BAKAR SEORANG ULAMA PERTAMA DI DESA TLOGO, KANIGORO, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Kali ini, saya menelusuri tokoh yang bernama Mbah Kyai Haji Abu Bakar yang makamnya berada dalam areal “Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar. Saya bertanya kepada Mbah Tobroni yang merupakan keturunan Mbah Kyai Haji Abu Bakar Tlogo, Kanigoro, Blitar. Mbah Tobroni yang rumahnya berada di timur bagian Utara Mbah Kyai Haji Hafidz Syafii Tlogo menyatakan bahwa Mbah Kyai Haji Abu Bakar merupakan ulama pertama desa Tlogo. Sedangkan Mbah Kyai Reso Wijoyo merupakan umara (pemegang pemerintahan) pertama desa Tlogo, lalu dilanjutkan putranya yakni Mbah Kyai Ponco Wijoyo yang menjadi kepala desa (lurah) pertama desa Tlogo. Lanjut Mbah Tobroni yang menyatakan bahwa Mbah Kyai Haji Abu Bakar memiliki tiga istri. Dia tak menyebutkan berapa jumlah anak beliau yang hingga saat ini berkembangbiak menurunkan cucu, cicit, canggah, wareng, gantung siwur, debog bosok, dan lain sebagainya.

Mbah Tobroni juga menjelaskan bahwa pohon yang ditanam oleh Mbah Kyai Haji Abu Bakar dulu berupa pohon Sawo. Konon sandi atau tanda atau tetenger berupa pohon Sawo merupakan trah dari Panembahan Sawo Ing Kajoran. Hal ini banyak dijelaskan oleh Raden Ayu Linawati Djojodiningrat, sang srikandi Ranji Sunan Tembayat, Wangsa Kajoran, dan lain sebagainya. Lanjut Mbah Tobroni bahwa Mbah Kyai Haji Abu Bakar nantinya juga besanan dengan Mbah Reso Wijoyo kemudian tradisi besanan itu juga diteruskan keturunan-keturunan berikutnya, seperti Mbah Kyai Ponco Wijoyo dan lain sebagainya. Dari sinilah, maka bisa dikatakan bahwa satu desa Tlogo itu sebenarnya masih berhubungan sanak famili atau kekerabatan. Bahkan bani (anak keturunan) dari Mbah Kyai Haji Abu Bakar hampir memenuhi sebagian wilayah desa Tlogo.

Selanjutnya, apabila saya sinkronkan dengan beberapa tokoh seperti Mbah Kyai Raden Setro Atmo dan Mbah Kyai Raden Tirto Sentono (Sekardangan), Mbah Kyai Raden Muhammad Qasim dan Raden Ndoro Tedjo (puncak Gunung Pegat), Mbah Raden Ngabehi Wirogati (Jatimalang),  maka Mbah Kyai Haji Abu Bakar hidup sezaman dengan beberapa tokoh yang saya sebutkan tersebut. Hal tersebut saya pelajari dari beberapa generasi yang berikutnya, yakni rata-rata tokoh yang saya sebutkan itu memiliki keturunan generasi ke-6, 7, 8, dan 9-an. Dengan demikian mereka hidup pada saat setelah atau pas terjadinya rentetan perpolitikan Kerajaan Mataram Islam ketika dipimpin oleh Amangkurat I. Adapun bukti bahwa generasi keturunan Mbah Kyai Haji Abu Bakar menempati urutan generasi yang telah saya sebutkan di atas dapat dipersembahkan sampel sebagai berikut. Yakni, sampel silsilah Mbah Kyai Haji Abu Bakar yang makamnya berada di areal “Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar, ke bawah adalah sebagai berikut:

1.    Mbah Kyai Hasan Benawi (makam berada di Bagelenan, Jawa Tengah), berputra:
2.    Mbah Kyai Haji Abu Bakar (makam berada dalam areal “Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar), berputra:
3.    Mbah Nyai Nasibah (istri Mbah Haji Ali dan makamnya berada di barat makam Mbah Kyai Hafidz Syafii, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Hidayah Tlogo, Kanigoro, Blitar), berputra:
4.    Mbah Nyai Artinah (istri dari Mbah Haji Abdul Karim, Tlogo, Kanigoro, Blitar), berputra:
5.    Mbah Nyai Rosyidah (istri dari Mbah Kyai Hambali, Tumpang, Talun, Blitar), berputra:
6.    Mbah Nyai Ruhannah (istri dari Mbah Abdul Karim, Tumpang, Talun, Blitar), berputra:
7.    Siti Badriyah (istri dari Bapak Komaruddin, Tumpang, Talun, Blitar), berputra:
8.    Ervina Agustin (istri dari Muhammad Jalaluddin bin Tamam bin Thahir bin Munawwar dari Sakardangan. Yakni, salah satu putra dari Mbah Tamam Thahir yang pernah mondok di Pesantren Al-Falah Trenceng, Sumbergempol, Tulungagung), berputra:
9.   Muhammad Naufal Az-Zamzami

Berdasarkan hal di atas, generasi Mbah Kyai Haji Abu Bakar hingga sekarang menempati generasi ke-8, bahkan menempati urutan generasi ke-9 dalam sampel yang lainnya. Selanjutnya, di areal makam “Kubur Dowo” tersebut juga dimakamkan beberapa tokoh ulama (ahli ilmu agama Islam) dan umara (ahli pemegang pemerintahan desa Tlogo) yang dikuburkan, di antaranya:

1.    Mbah Kyai Rangga Rusik (merupakan makam terkuno di dalam areal “Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar.
2.    Makam Kyai Kubur Dowo (merupakan makam panjang sekitar 6 meter untuk menguburkan berbagai pusaka dari Kerajaan Mataram Islam yang dibawa oleh tokoh-tokoh kala itu).
3.    Mbah Kyai Imam Baghowi (ayah dari Mbah Kyai Sibaweh pendiri Pondok Pesantren Al-Muslihuun, Tlogo, Kanigoro, Blitar)
4.    Mbah Kyai Sibaweh (anak dari Mbah Kyai Imam Baghowi dan murupakan santri dari Mbah Kyai Muhammad Kholil Bangkalan serta murid dari Mbah Kyai Muhammad Sholeh, Kuningan, Kanigoro, Blitar).
5.    Kyai Mahfudz (beliau merupakan guru saya di bidang ilmu fikih dan semacamnya. Yakni, pada saat saya menimba ilmu di bangku Madrasah Aliyah Negeri Tlogo).
6.    Kyai Mujib Masyhud (beliau merupakan guru saya saat menimba ilmu di Madrasah Aliyah Negeri Tlogo). Istri beliau Ibu Istianah merupakan teman ibu saya mengajar di MI Miftahul Huda Papungan 01 Sekardangan).
7.    Kyai Mujab Masyhud Al-Buntuwi (beliau merupakan salah satu ulama yang ahli membuat azimat dan rajah. Beliau juga yang menulis kitab ringkasan tauhid Mbah Kyai Sibaweh. Sampai akhir hayatnya, beliau tidak menikah. Saya pernah diajak Kang Syafiuna ke tempat beliau ini di dusun Buntu, desa Tlogo, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Beliau ini merupakan saudara kandung dari Kyai Mujib Masyhud di atas.
8.    Kyai Purnomo (Kyai Sangidu), merupakan salah satu ulama imam mushalla Al-Munawwir Sekardangan yang juga dimakamkan dalam areal “Kubur Dowo” Tlogo. Beliau juga masih keturunan Mbah Kyai Haji Abu Bakar tersebut.

Demikianlah penelusuran dan napak tilas saya di makam “Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar. Khususnya penelusuran tokoh Mbah Kyai Haji Abu Bakar yang konon merupakan ulama pertama desa Tlogo, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Akhir kata, saya berterima kasih kepada Mbah Tobroni yang telah memberikan berbagai informasi tentang tokoh Mbah Kyai Haji Abu Bakar serta informasi-informasi lain yang saya butuhkan. Mudah-mudahan Tuhan memberikan kebahagiaan bagi semua orang dan tokoh yang dimakamkan dalam areal “Kubur Dowo” Tlogo. Mudah-mudahan Tuhan memberikan berkah kepada semua kawan-kawan saya. Mudah-mudahan Tuhan memberi keselamatan lahir dan batin bagi semuanya. Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin.

“Today’s egg is better that the chicken of tomorrow”
(Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Areal "Makam Kubur Dowo" Tlogo, Kanigoro, Blitar. Di tempat tersebut dimakamkan Mbah Kyai Abu Bakar, Mbah Kyai Baghowi, Mbah Kyai Sibaweh, dan lain-lainnya.

 
Arif Muzayin Shofwan dan Arif Agus Setiawan

 
Arif Muzayin Shofwan
 

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Rabu, 23 November 2016

PENGEMBANGAN KEDAULATAN DESA SEBAGAI LUMBUNG PANGAN MELALUI PENGEMBANGAN ORGANIK INTEGRATED FARMING SYSTEM DAN RANTAI PASOK SOLIDARITAS



Bertempat di Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang, 24 Juli 2016

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Hari Minggu, 24 Juli 2016 saya mengikuti acara temu bahas penggerak dan penggiat kedaulatan desa di Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Kepanjen, Malang. Dalam undangan acara tersebut tertulis dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Saya sampai di UNIRA pukul 07.45 WIB supaya tidak terlambat. Ternyata di tempat tersebut sudah ada beberapa peserta yang sudah datang duluan. Lalu saya berkenalan dan ngobrol-ngobrol sama mereka. Sampai sekarang pun walau saya sudah berkenangan, mungkin kalau ketemu juga sudah lupa wajahnya. Ya, menurut saya hal yang wajar. Sebab hanya satu kali saja saya bertemu dan hingga tulisan ini di tulis, saya juga tak pernah bertemu dan tak pula berkontak HP atau WA. Namun walau demikian, semoga pertemuan dengan kawan-kawan peserta acara di tempat tersebut membawa berkah di kehidupan kini dan mendatang.

Seperti biasa, saya ingin menuliskan secara “acak aduk” tentang apa saja yang saya dapatkan dari acara tersebut. Oya, dalam acara tersebut memang tak disediakan alat tulis dan booknote untuk para peserta. Namun, semua materi yang disampaikan akan dikirimkan melalui email peserta masing-masing. Dan dua minggu usai acara tersebut, saya melihat alamat email saya ternyata memang sudah dikirimkan beberapa materi yang disampaikan dalam acara tersebut plus sertifikat bagi para peserta. Salah satu materi tersebut berjudul “Membangun Industri Gizi Lokal Berbasis Masyarakat dalam Kerangka Rantai Pasok Solidaritas” karya Benito Lapulalan (ASEC Indonesia) berbentuk powerpoint. Dalam powerpoint tersebut disebutkan bahwa upaya membangun industri lokal berbasis masyarakat dalam kerangaka rantai pasok solidaritas, dapat berbagi tugas sebagai berikut:

1.    Pemerintah: memperhitungkan komposisi konten lokal desa sebagai indikator ekonomi yang penting di tingkat desa.
2.    Institusi/Bisnis: pemetaan sumberdaya lokal: alam, manusia, terutama benih dan spesies local.
3.    Universitas: memperhatikan eksistensi sistem  pengetahuan adati – biologi, ekologi, organisasi, teknologi.
4.    OMS: mengembangkan siklus  industri  pangan berbasiskan rantai pasok industri masyarakat  lokal di tingkat  lokal, nasional dan internasional.

Kemudian dalam powerpoint tersebut diakhiri dengan kata Sang Penyair Chairil Anwar yang berbunyi: “Berjagalah terus di garis batas kenyataan dan impian” dan dilanjutkan ucapan terima kasih. Ah, saya renungkan terus apa ya arti dari pernyataan Chairil Anwar tersebut?. Saya renungkan terus dan saya hanya menerka-nerka arti dan maksudnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang saya rasakan. Mungkin dalam dunia realitas (kenyataan) dan dunia ide (impian) harus seimbang. Kenyataan belum tentu sesuai dengan dunia impian dan impian belum tentu sesuai dengan kenyataan. Ya, inilah yang saya rasakan dalam perenungan atas ungkapan Chairil Anwar tersebut. 

Kata saya:
“Saya merupakan salah satu orang yang sangat percaya pada mimpi. Saya sangat yakin bahwa mimpi itu pasti menjadi kenyataan. Walau kenyataannya itu hanya dalam mimpi. Saya juga percaya pada dongeng-dongeng yang tak masuk akal. Saya sangat yakin bahwa dongeng-dongeng itu pasti nyata. Walau nyatanya itu hanya dalam dongeng.”
(Arif Muzayin Shofwan)

Ah, mungkin ini saja catatan harian saya kali ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan keberkahan kepada saya, saudara-saudara, kerabat, dan siapapun yang berhubungan karma dengan saya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi saya di kehidupan kini dan mendatang. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu memberi pengampunan atas dosa-dosa yang saya lakukan di masa lalu, kini, dan mendatang. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Penerima Taubat selalu menerima taubat saya setiap saat, di kala saya lupa dan ingat, di kala saya sadar dan tidak sadar, dan lain sebagainya. Mudah-mudahan hidup ini berjalan secara wajar. Semoga demikian adanya. Semoga semua makhluk mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga. Amin.

“Even if because of science human is like animals”
(Kalau bukan karena ilmu, niscaya manusia seperti binatang)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
Pas akan berangkat mengikuti acara di UNIRA Malang
 
Sebelum acara di mulai saya foto dulu


Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang memiliki hobi perpetualang dalam samudra dan benua ilmu pengetahuan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang kesehariannya belajar, mengajar, diskusi, mengaji, meneliti, menulis, membaca, menyadari, mengamati, mewaspadai, dan berbagai pekerjaan lain yang tak bisa dijelaskan tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.