Senin, 06 Juli 2015

KIAI AGENG RM. DJOJOPOERNOMO TOJO TEMUGURUH SEMPU BANYUWANGI



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Masa-masa Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Blitar
Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo mempunyai nama kecil “Arya Papak” atau “Raden Mas Papak Notoprojo”. Beliau adalah cucu dari Sultan Hamengku Buwono II dari putranya bernama Pangeran Kusumawijaya yang menikah dengan Raden Ageng Kustinah/Raden Ayu Mangkudiningrat [putri dari Nyi Ageng Serang, seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia]. Diberi nama “papak” sebab jari-jari tangan beliau sejak lahir papak (sama rata). Setelah Arya Papak usia senja, dia sering disebut masayarakat dengan sebutan “Mbah Wali Papak”. Dianggap sebagai “wali” karena beliau banyak menerima titipan karamah dari Allah swt.
Pada jaman kolonial Hindia Belanda, Arya Papak bersama neneknya Nyi Ageng Serang [Raden Ajeng Kustinah Wulaningsih Retnoedi] berjuang melawan penjajah Belanda dengan pasukan yang diberi nama “Panji-Panji Gula Kelapa”. Panji-panji tersebut mempunyai arti bahwa “Gula Jawa” mewakili warna merah dan “Kelapa” mewakili warna putih. Sehingga hal tersebut merupakan simbol “merah-putih” bendera Republik Indonesia yang pada masa lalu digunakan pula oleh Kerajaan Nusantara.
Di masa remaja, Arya Papak sudah berjuang bersama neneknya yang bernama Nyi Ageng Serang melawan kolonial Belanda. Ketika para pasukan “Panji-Panji Gula Kelapa” banyak yang kocar-kacir diberondong peluru kolonial Belanda, maka Arya Papak merupakan salah satu target yang selalu dicari-cari Belanda. Oleh karenanya, Arya Papak selalu pindah ke berbagai tempat agar jejaknya tidak diketahui oleh Belanda. Sewaktu berpindah-pindah tempat dia selalu berganti nama agar jejaknya juga tidak diketahui. Ketika di Surabaya dia pernah berganti nama Kiai Korek. Ketika di Trenggalek dia berganti nama Pangeran Presil Kopodilem. Begitu juga ditempat-tempat lain kadang dia disebut Raden Gimbal, Raden Joko dan lain sebagainya.
Dalam perjalanan berpindah-pindah tersebut, Arya Papak pernah singgah di dusun Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Di tempat tersebut Arya Papak pernah menjadi putra angkat Sayyid Bukhori Mukmin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Ageng Ponco Suwiryo. Di Mbrebesmili Santren [Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar] tersebut, Arya Papak sempat hidup lama bersama ayah angkatnya tersebut serta delapan saudara-saudara yang lain. Semenjak hidup di Mbrebesmili, Sayyid Bukhori Mukmin telah melihat bakat-bakat spiritual Arya Papak yang sangat hebat. Maka dari itu, Sayyid Bukhori Mukmin sangat menghormati Arya Papak, putra angkatnya tersebut. Begitu pula delapan saudara angkat yang lain, juga sangat menghormati Arya Papak.
Dalam perjalanan spiritual tersebut, Arya Papak sempat berguru pula kepada Kiai Ageng Muhammad Sufiyah yang berada di Gunung Kawi, Malang. Beliau juga sempat berguru kepada Kiai Kasan Munojo, Kesamben, Blitar. Dan masih banyak guru-guru spiritual lainnya. Tahap demi tahap, oleh karena perjalanan spiritual Arya Papak yang sudah semakin mantab, maka banyak dari murid-murid beliau yang meminta kepadanya agar menuliskan sebuah buku pedoman untuk sarana spiritual. Awalnya Arya Papak enggan untuk menuliskan hal tersebut. Namun karena banyak murid-murid beliau yang membutuhkan suatu pedoman, maka beliau melayani untuk membuatkan sebuah buku pedoman.
Arya Papak menuliskan sebuah buku pedoman yang diberi nama “Anggaran Dasar Pranataning Kamanungsan” Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama [PAMU]. Sejak saat inilah beliau memiliki nama Kiai Ageng RM. Djojopoernomo. Sementara komunitas untuk sarasehan [diskusi-diskusi] buku pedoman tersebut beliau namakan PAMU [Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama]. Hingga saat ini PAMU ini menyebar luas ke berbagai belahan daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lain sebagainnya.
Dalam silsilah nasabnya, Kiai Ageng RM. Djojopoernomo tersebut merupakan keturunan Sunan Kalijaga ke-12. Berikut silsilah nasab Kiai Ageng RM. Djojopoernomo atau yang bernama asli Arya Papak sebagaimana yang tercantum dalam buku berjudul “Dunia Nyi Ageng Serang” karya Mashoed Haka yang diterbitkan oleh PT. Kinta dan tersimpan di Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat:
1.      Sunan Kalijaga menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, berputra:
2.      Sunan Hadi Kusuma, berputra:
3.      Panembahan Semarang, berputra:
4.      Panembahan Pinatih, berputra:
5.      Panembahan Rangga Seda Sepuh, berputra:
6.      Panembahan Natapraja, berputra:
7.      Panembahan Rangga Natapraja, berputra:
8.      Panembahan Wijil, berputra:
9.      Panembahan Rangga Natapraja, berputra:
10.  Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retna Edi [Nyi Ageng Serang, pahlawan Nasional RI] menikah dengan Pangeran Kusumawijaya, berputra:
11.  Raden Ajeng Kustinah [Raden Ayu Mangkudiningrat] menikah dengan Pangeran Mangkudiningrat [putra Sultan Hamengku Buwono II], berputra:
12.  Arya Papak [Pangeran Papak Natapraja/Mbah Wali Papak/Kiai Ageng RM. Djojopoernomo] pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama [PAMU].
Adapun silsilah ayah angkat Kiai Ageng RM. Djojopoernaomo yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin (Kiai Ageng Ponco Suwiryo) dan dimakamkan di areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar sebagaimana yang tercantum dalam buku berjudul “Silsilah Sunan Tembayat Hingga Syaikh Muhammad Sya’ban al-Husaini” karya Abu Naufal bin Taman at-Thahir dan diterbitkan oleh Mbrebesmili Center Blitar pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:
1.      Kiai Jamas Mashuri [Kiai Tunggul Wulung/Kiai Ageng Kebo Dhungkul] menikah dengan Rara Ayu Surti Kanti, berputra:
2.      Kiai Nur Hidayatullah, berputra:
3.      Kiai Haryo Sumo Nur Hidayatullah, berputra:
4.      Kiai Mujang Nur Hidayatullah, berputra:
5.      Kiai Ageng Ronggo [Kiai Ageng Jimat], berputra:
6.      Kiai Ageng Atmo Wulung, berputra:
7.      Kiai Ageng Mojo, berputra:
8.      Kiai Ageng Tojo Diningrat, berputra:
9.      Kiai Ageng Jayeng Katon [Kiai Kendil Wesi], berputra:
10.  Kiai Ageng Niti Rejo, berputra:
11.  Sayyid Bukhori Mukmin [Kiai Ageng Ponco Suwiryo/Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo], ayah angkat Kiai Ageng RM. Djojopoernomo.
Di areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren” tersebut juga terdapat makam para waliyullah keturunan Sunan Tembayat (Syaikh Hasan Nawawi) Klaten, Jawa Tengah. Keturunan Sunan Tembayat yang dimakamkan ditempat tersebut antara lain:
1.      Kiai Ageng Muhammad Asrori [Pendiri Masjid Al-Asrar Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar]
2.      Kiai Ageng Muhammad Sya’ban [merupakan ayah dari Kiai Ageng Muhammad Asrori].
3.      Kiai Ageng Hasan Mujahid [suami Nyai Marfuatun binti Kiai Muhammad Sya’ban, merupakan pendiri Masjid Baitul Hasanah, Mbrebesmili, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar].
4.      Kiai Ageng Kembang Arum [seorang waliyullah yang makamnya selalu harum, dahulu makamnya berada di ujung pojok paling Utara dalam Makam Auliya Mbrebesmili Santren].
5.      Sayyid Abdullah [makamnya sudah tidak ada bekasnya lagi, merupakan seorang wali yang biasa di hadiah fatihahi oleh Kiai Muhammad Hambali Arifin (santri Kiai Raden Abdul Fattah, Mangunsari, Tulungagung) serta pendiri Majelis Dzikrul Fatihin, Srengat, Blitar]. Dalam dunia spiritualnya, Kiai Muhammad Hambali Arifin sering ditemui Sayyid Abdullah tersebut.
6.      Dan makam para auliya’ lainnya.
Kiai Ageng RM. Djojopoernomo Hijrah ke Banyuwangi
Setelah Kiai Ageng RM. Djojopoernomo hidup lama bersama ayah angkat beliau yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin, Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar, maka beliau lalu memutuskan untuk hijrah menuju arah Timur, tepatnya di daerah Tojo Kidul, desa Temuguruh, kecamatan Sempu, Banyuwangi. Di tempat inilah Kiai Ageng RM. Djojopoernomo mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 09 Februari 1956 dan dimakamkan di desa tersebut. Setiap bulan Muharram (Asyura/Suro) makam tersebut selalu ramai dengan para penziarah baik dari pengikut Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) yang banyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan lain sebagainya.
Dalam areal Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu Banyuwangi tersebut banyak terdapat tulisan falsafah-falsafah Jawa yang sangat dalam sekali maknanya. Salah satunya adalah terdapat pada pintu gerbang sebelum masuk di areal pemakaman terdapat tulisan berikut: “Kena Lumebu Jen Wes Weruh Djerone”[Boleh Masuk Kalau Sudah Mengetahui Dalamnya]. Selain tulisan tersebut, ada lagi ungkapan falsafah Jawa yang penuh makna lain juga ditemukan di kawasan seluas kurang-lebih setengah hektare tersebut. Terdapat di dinding bagian atas gedung pemakaman, terdapat tulisan berikut: “Sri Naga Radja, Paring Wangsit Bedja Kang Bisa Nampa”.
Selain ungkapan di atas, ada pula ungkapan falsafah Jawa yang berbunyi:“Kena Munggah Jen Wis Weruh Duwure, Teka Ora Mara, Musna Ora Lunga, dan Imbuh Ora Wawuh, Suda Ora Kalung” [Boleh naik ke atas kalau sudah mengetahui atasnya, datang tidak hadir, hilang tidak pergi, dan tambah tidak bertambah, berkurang tidak berkurang].  Begitulah beberapa kalimat yang terpampang di kawasan pemakaman Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi.
Di areal pemakaman Kiai Ageng RM. Djojopoernomo yang berlokasi sekitar 300 meter dari jalan desa tersebut, juga terdapat sejumlah tempat untuk pertemuan. Misalnya da aula. Aula itu berada di Timur makam Kiai Ageng RM. Djojopernomo tersebut. Selain itu, di areal makam juga terdapat kolam renang dan mushala (langgar kecil) di tempat tersebut. Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo berdampingan dengan Raden AJ. Soeprapti yang tercatat wafat pada tahun 17 Maret 1965. Telah diceritakan bahwa Raden AJ. Soeprapti merupakan abdi dalem Kiai Ageng RM. Djojopernomo yang sangat setia dan berbakti.
Semoga Kiai Ageng RM. Djojopoernomo selalu mendapatkan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan pula ayah angkat beliau yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin yang dimakamkan dalam areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar juga selalu mendapat limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu pula para Auliya yang dimakamkan di areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili” juga selalu mendapat limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin. Di bagian bawah penulis sertakan foto-foto di areal makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo yang saya dapatkan dari Setia Heri. Terima kasih.
Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan
Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09
Papungan Kanigoro Blitar. Kode Pos 66171.
HP. 085649706399.

Gapura Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo
Areal Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo
Tjandi Soja Ruri "Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo"


Papan Nama "Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo"

29 komentar:

  1. saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m

    BalasHapus
  2. kok malah ngiklan di tulisan kakek canggah saya sampean diatas itu,dukun ya sampean berdua

    BalasHapus
  3. Kalau emang bisa kaya..gara2 no pasti gak bakalan ngasih tau yg lain....modus semua itu ..

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kurang ajar monyet2 diatas itu ngiklan nomer,saya cucunya raden mas rendra hadi kurniawan dari temuguruh,jangan diikuti dukun2 diatas yg ngiklan

    BalasHapus
  6. Injih leres..... Kyai Ageng Raden Mas Djojopoernomo seorang yang mengajarkan kasampurnan hidup, bukan terkait dengan nomer togel dan semacamnya.

    BalasHapus
  7. Meskipun sejarahnya mlintir ya gpp..yg penting demi kepentingan umat.hanya SISWA PAMU yg paham asal usul bliau...RAHAYU

    BalasHapus
  8. Rahayu.,..salam seduluran saking warga pamu sby..

    BalasHapus
  9. Semoga Sy bisa Silaturahmi Ke Makam Cangga Wali Papak Temuguruh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada yg bilang masih canggah nya RM Djoyo Purnomo berarti tahu siapa saja anak beliau...

      Hapus
  10. Apa benar bahwa dalam perjalanannya Raden Mas Bagus Gimbal pernah melewati desa Dersono pacitan dan menikah dengan wanita penduduk setempat,

    BalasHapus
  11. Terima kasih, telah mempublikasikan silsilah eyang

    BalasHapus
  12. Salam rahayu, menawi wonten kadang PAMU wilayah kediri dan sekitar mbok menawi kulo saget nyuwun alamatipun kagem silaturahmi nambah seduluran, suwun

    BalasHapus
  13. Silsilah mbah ke bawah gk ada ya

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum
    Kanthong bolong numpang tanya
    Ada nasab..raden gimbal ponorogo
    Ayah lahir solo .kakek kauman ponorogo,& ktny ke
    Atasnya yg nmu ilmu warok
    Siapa raden gimbal/RM.gimbal yg di maksud?solo/ponorogo ada yg berjulukan sama..
    Mngingat eyang uti nasab sunan giri
    Jlr rmaa.samingoen sosroningrat

    BalasHapus
  15. Raden gimbal nasab k mana sih? fam/marga alawinya apa sih?
    Ke Batara kathong?,/ke raden fatah?arya papak?
    Ga penting sih
    Cuma bulik ra.kartini yg pnting
    S.kalijogo?

    BalasHapus
  16. Benar, hanya kadang PAMU yg paham.. Salam Rahayu dari kami di Bandung, Jawa Barat

    BalasHapus
  17. Assalamualaikum
    RSMIW numpang tanya
    Sayyid syarif arif muzayin sofwan fam nya apa
    Apa anda tahu rmp.sosrokartono tidak putus silsilahnya atas bawah?sepupu jauh ku di kudus pun tahu eyangnya kakak kartini.bukan jalur kartono anak ra.kartini juga bukan jalur adik sambung kartini
    Apa anda pnya silsilah dari rmaa.samingoen sosroningrat hingga sri sadono binti dharmo soegondo
    Rodovid blm ada
    Joko pring
    Sak joko joko NE Pring
    AkEh ...?
    Rebunng E
    Salam kelungsu kelungsu mandor kelungsu jalur kudus

    BalasHapus
  18. Assalamualaikum,pernah diceritakan dari murid beliau mbah wali papak,katanya mb papak masih hidup digunung daerah jogja.

    BalasHapus
  19. Mohon izin admin. Bila ada yang iklan di hapus saja, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Salam RAHAYU

    BalasHapus
  20. Salam RAHAYU,masih kalian udh meliput makam eyang saya juga maksih udh berkujung ke makam eyang saya.

    BalasHapus
  21. Mbah papak kebawah, pangeran podang kebawah

    BalasHapus
  22. Rahayu
    Matur nuwun sampun paring informasi.

    BalasHapus
  23. salam rahayu3x sy dari ponorogo hadir

    BalasHapus