Kamis, 30 Juli 2015

RIWAYAT MBAH KIAI HAJI AHMAD DASUQI SEKARDANGAN: SANTRI KINASIH MBAH KIAI HAJI MUHAMMAD SHOLEH KUNINGAN



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Biografi Singkat Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi
Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi merupakan ulama di Sekardangan, Kanigoro, Blitar yang berasal dari dusun Manukan, Pojok, Garum, Blitar. Beliau hidup sekitar tahun 1845 s/d 1970 masehi (mempunyai umur yang sangat panjang, yakni 125 tahun). Beliau merupakan putra Mbah Kiai Marto Sentono bin Kiai Imam Tobroni yang makamnya berada di areal Makam Patok, Pojok, Garum, Blitar. Mbah Kiai Zainuddin Sekardangan menceritakan bahwa Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya (kakek Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi) telah lama menikah tetapi tidak dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian Mbah Kiai Imam Tobroni “sowan” kepada gurunya yang menurut beberapa versi berada di Lodoyo, Blitar. Ada yang menyebutkan guru tersebut bukan dari Lodoya, tetapi dari Talok, Garum bernama Mbah Kiai Singo Menggolo yang masih keturunan Raden Sutro Menggolo (Syaikh Abu Naim Fathullah) Lodoya dan masih kakek Mbah Kiai Imam Tobroni [Mbok Martowati] sendiri. Seorang guru waskita Mbah Kiai Imam Tobroni, yang disebut Mbah Kiai Singo Menggolo tersebut memberi saran kepada Mbah Kiai Imam Tobroni dan [Mbok Martowati] istrinya, apabila beliau menginginkan seorang putra, maka beliau berdua harus melakukan ritual “diobong/dibakar” dalam kobaran api terlebih dahulu. Konon hanya inilah syarat yang harus dilakukan Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya menurut pandangan dari “kewaskitaan” Mbah Kiai Singo Menggolo Talok tersebut, bila Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya ingin memiliki seorang putra.
Mbah Kiai Zainuddin menyatakan bahwa berdasarkan syarat dari gurunya yang bernama Mbah Kiai Singo Menggolo Talok tersebut, maka Mbah Kiai Imam Tobroni dan [Mbok Martowati] istrinya berani diobong/dibakar dalam kobaran api yang menyala-nyala, karena sangat ingin sekali memiliki seorang anak. Maka dipersiapkanlah beberapa kubik bambu untuk membakar Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya tersebut. Setelah keduanya benar-benar matang untuk melakukan “ritual di kobaran api” tersebut, lalu Mbah Kiai Singo Menggolo Talok menyuruh Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya terjun kedalam kobaran api yang telah dinyalakan tersebut. Ternyata karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Mbah Kiai Imam Tobroni dan istrinya tidak terbakar sedikitpun. Yang aneh lagi, Nyai Imam Tobroni [Mbok Martowati] yang sudah berumur 60 tahun [pada saat dibakar bersama Mbah Kiai Imam Tobroni], saat itu pula bisa hamil dan sekaligus melahirkan seorang putra mungil dan merupakan satu-satunya putra dalam kehidupannya. Dalam kisah yang lain disebutkan bahwa Nyai Imam Tobroni tidak hamil, akan tetapi di dalam kobaran api tersebut telah muncul seorang bayi laki-laki mungil yang juga tidak ikut terbakar yang muncul dari dalam “bambu” [pring pethung; bambu berukuran paling besar istilah Jawa] yang masih terbakar.
Seorang putra mungil yang terlahir dari Nyai Imam Tobroni [dalam versi lain tidak lahir, tetapi tiba-tiba muncul dari “pring pethung” dalam kobaran api] tersebut, oleh Mbah Kiai Lodoya diberi nama “Marto Sentono”. Mbah Kiai Zainuddin menyatakan bahwa istilah “Marto” berarti “jalan”, ada yang menyatakan "Marto" berarti anak yang sabar, sedangkan “Sentono” adalah keluarga istana (Sentanan). Dari sini bisa diartikan bahwa nama “Marto Sentono” berarti “bayi mungil ‘Marto’ yang merupakan keluarga Sentono yang berada di Lodoya, Blitar Selatan”. Hal ini menurut pendapat yang menyatakan bahwa orang tua Marto Sentono merupakan keluarga dari Sentono di Lodoya, Blitar Selatan. Versi ini pernah diungkapkan keluarga besar Kiai Haji Ahmad Dasuqi yang berada di Jatilengger, Ponggok, Blitar dan lainnya.
 Sementara dalam versi lain disebutkan bahwa kata “Marto” diambil dari nama “Mbok Martowati” yang masih keturunan Sunan Tembayat. Dari nama “Mbok Martowati” inilah diambil istilah “Marto”-nya dan ditambah istilah “Sentono”, menjadi “Marto Sentono”. Hal ini bisa diartikan bahwa Marto Sentono merupakan anak dari Mbok Martowati. Di dalam versi ini dinyatakan bahwa Mbah Kiai Imam Tobroni masih bersambung saudara [atau masih memiliki hubungan kekerabatan bila diruntut silsilah nasabnya ke atas] dengan Mbah Kiai Buyut Abu Nangim Fathullah (Raden Sutro Menggolo) yang dimakamkan di daerah Lodoyo, Blitar yang merupakan saudara kandung Mbah Kiai Raden Ragil Siddiq (Eyang Siddiq) yang dimakamkan dalam areal “Makam Sentono”, Lodoyo, Blitar Selatan. Dalam versi ini bisa dijelaskan bahwa silsilah nasab Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan, Kanigoro, Blitar bila diruntut ke atas sebagai berikut:
1.      Sunan Tembayat, berputra:
2.      Panembahan Jiwo, berputra:
3.      Panembahan Minangkabo, berputra:
4.      Panembahan Masjid Wetan, berputra:
5.      Pangeran Wuragil, berputra:
6.      Raden Ragil Sedo Komuk, berputra:
7.      Raden Ragil Siddiq, berputra:
8.      Raden Donowijoyo, berputra:
9.      Mbok Martowati [+ Mbah Kiai Imam Tobroni], berputra:
10.  Mbah Kiai Marto Sentono, berputra:
11.  Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan.
(Disarikan dari Silsilah Sunan Tembayat dari Nyai Raden Lina Djojodiningrat Surakarta khusus "Silsilah Raden Donowijoyo" ke atas dan informasi-informasi lainnya. Adapun silsilah Mbah Kiai Ahmad Dasuqi bersambung sampai ke Raden Donowijoyo tersebut "TIDAK PERLU DIPAKAI PATOKAN" sebab DATA-DATA-nya masih SANGAT LEMAH . Bahkan Mbah Kyai Zainuddin yakni anak Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi menyatakan bahwa silsilah Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi ke atas sampai ke SAWUNGGALING. Penulis sendiri belum tahu bagaimana cerita ketokohan SAWUNGGALING).
Sementara dalam versi lain, Mbah Kiai Ahmad Dasuqi mempunyai pertalian nasab ke atas dengan Pangeran Sawunggaling atau Raden Sawunggaling. Tidak diketahui secara pasti, apakah penarikan silsilah tersebut dari nenek moyang Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi dari pihak perempuan atau laki-laki. Atau mungkin ada perpaduan silsilah nasab antara keturunan Raden Sawunggaling dengan keturunan Sunan Tembayat. Ini merupakan salah satu versi yang pernah diungkapkan oleh Mbah Kiai Zainuddin, Sekardangan, Kanigoro, Blitar yang diperoleh dari informasi-informasi leluhurnya ke atas. Perlu diketahui bahwa Mbah Kiai Zainuddin Sekardangan masih merupakan putra Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi. Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi mempunyai tiga istri dan dari ketiga istri tersebut memiliki 18 putra-putri, termasuk Mbah Kiai Zainuddin tersebut [yang juga merupakan menantu dari Mbah Kiai Haji Ridwan, pendiri Pondok Pesantren Karangsono, Kanigoro, Blitar).
Mbah Kiai Zainuddin juga pernah menceritakan tentang makam ayah Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan yang bernama Mbah Kiai Imam Tobroni berada di areal Makam Patok, Pojok, Garum, Blitar. Konon pada zaman Belanda, di atas makam Mbah Kiai Imam Tobroni pernah dilalui pesawat terbang milik kompeni Belanda, tiba-tiba saja ketika pesawat tersebut melintasi di atas makam Mbah Kiai Imam Tobroni sempat oleng ke kanan dan ke kiri hingga hampir jatuh. Begitu juga ketika ada burung yang lewat di atas makam Mbah Kiai Imam Tobroni tiba-tiba saja selalu oleng ke kanan dan ke kiri dan hampir jatuh ke tanah. Dalam hal ini, tidak diketahui secara pasti apakah kejadian tersebut karena “keramat” [kemuliaan] yang dimiliki Mbah Kiai Imam Tobroni atau mungkin proses alami yang disebabkan oleh suasana alam semesta. Atau mungkin kejadian-kejadian tersebut bisa dikaji secara ilmiah atau tidak, belum bisa dijawab secara pasti. Wallahua’lam.
Perjalanan Keilmuan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi
Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi pertama kali menempuh ilmu kepada ayah dan ibunya, yakni Mbah Kiai Marto Sentono dan Nyai Marto Sentono di Manukan, Garum, Blitar [petilasannya tepatnya adalah Masjid Manukan Kidul, Garum, Blitar utara jalan]. Kemudian setelah Ahmad Dasuqi menginjak remaja, dia “mondok” di Pesantren Kebonsari, Garum, Blitar yang diasuh oleh Mbah Kiai Haji Abdurrahman. Menurut cerita Mbah Kiai Zainuddin, tidak lama ketika Ahmad Dasuqi remaja “mondok” di Pesantren Kebonsari, Garum, Blitar tersebut, Mbah Kiai Abdurrahman meninggal dunia dan meninggalkan putra-putri yang masih kecil-kecil. Mbah Kiai Zainuddin menyatakan bahwa Ahmad Dasuqi remajalah yang pada saat itu “ngemong/merawat” putra-putri Mbah Kiai Haji Abdurrahman Kebonsari Garum tersebut. Di antara putra-putri Mbah Kiai Haji Abdurrahman Kebonsari yang pernah di “emong” atau diasuh oleh Ahmad Dasuqi waktu kecil antara lain:
1.      Mbah Kiai Haji Hadin Mahdi (Mursyid dan Muqaddam Thariqah Tijaniyah, Tulungsari, Garum, Blitar)
2.      Mbah Kiai Haji Malak (pernah mengijazahi “doa: subhanaka laa ilma lanaa illa maa allamtanaa.. ila akhir” kepada penulis. [Kebonsari, Garum, Blitar])
3.      Mbah Kiai Haji Ridwan (Kebonsari, Garum, Blitar).
4.      Mbah Kiai Busro (termasuk kiai yang “nyleneh/khariqul adat”), di Ploso, Pakel, Blitar dan lain-lain.
Setelah Ahmad Dasuqi merasa cukup berada di Pondok Pesantren Kebonsari, Garum, Blitar, dia kemudian melakukan perjalanan menuntut ilmu pengetahuan agama kepada Mbah Kiai Abu Darda’ pengasuh Pondok Pesantren Papungan, Kanigoro, Blitar [berada di dekat atau sebelah Utara Makam Desa Papungan dan Gaprang yang merupakan salah satu pesantren tertua di desa Papungan, Kanigoro, Blitar]. Di pondok tersebut Ahmad Dasuqi menimba ilmu pengetahuan agama Islam dan di sela-sela waktu dia juga menimba ilmu “Aqa’id Lima Puluh/Ilmu Tauhid” kepada seorang guru yang sampai akhir hayatnya selalu dia ikuti, yakni Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan, Kanigoro, Blitar yang merupakan putra Mbah Kiai Abu Mansyur Kuningan dan cucu Mbah Abu Hasan Kuningan. Untuk menghidupi dirinya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan “mondok”, maka pada siang hari Ahmad Dasuqi bekerja sebagai “pencari rumput” untuk sapi-sapi milik Mbah Kiai Haji Zainuddin bin Abu Yamin Sekardangan [Zainuddin ini merupakan kakek Zainuddin yang disebutkan diatas].
Oleh karena ketekunan dan kemumpunian Ahmad Dasuqi di bidang ilmu pengetahuan agama Islam dan disiplin ilmu-ilmu lain, akhirnya Mbah Kiai Zainuddin bin Abu Yamin tertarik hati untuk mengambil menantu Ahmad Dasuqi tersebut. Sejak Ahmad Dasuqi diambil menantu oleh Mbah Kiai Zainuddin bin Abu Yamin tersebut, maka dia mulai hidup di Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Diceritakan bahwa semenjak Ahmad Dasuqi berada di Sekardangan, maka rumah atau kediaman Ahmad Dasuqi yang saat itu masih terbuat dari “gedheg” (anyaman bambu) dan masih dengan atap “blarak” (daun pohon kelapa) sering menjadi “jujugan” Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan ketika mengadakan kajian-kajian ilmu “Aqa’id Lima Puluh/Ilmu Tauhid” di Sekardangan. Diceritakan pula oleh Mbah Kiai Zainuddin bahwa Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan merupakan pimpinan “Halaqah Pengajian Aqa’id Lima Puluh” di dusun Sekardangan, yang dibentuk oleh Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan dari beberapa halaqah lainnya.
Mbah Kiai Zainuddin menyatakan bahwa pernah suatu hari Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan ke rumah salah satu murid/santri kinasihnya, yakni Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan. Pada saat itu Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan ingin menjamu gurunya tersebut dengan hidangan yang terbaik. Namun apa yang bisa diandalkan, sebab pada saat itu yang ada dirumah hanya nasi putih saja dan tidak ada lauk-pauknya. Sementara untuk membeli lauk-pauk pun, Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi sama sekali tidak memiliki uang. Dalam keadaan seperti itu, Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi sangat gelisah sekali. Ketika Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan melihat muridnya tersebut merasa resah, lalu dia bertanya. Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi lalu menjawab apa yang ditanyakan Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh tersebut apa adanya. Setelah tahu akan hal tersebut, lalu Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh bergegas ke teras depan rumah dan meremas-remas atap yang terbuat dari “blarak” di teras. Tiba-tiba saja, “blarak” yang diremas-remas Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan tersebut berupah menjadi “srundeng” (semacam abon yang biasanya terbuat dari parutan buah kelapa dan digoreng beserta bumbu-bumbunya). Lalu “srundeng” tersebut diberikan kepada Mbah Kiai Haji Muhammad Dasuqi Sekardangan untuk makan bersama-sama. 
Rumah Kiai Haji Ahmad Dasuqi sebagai Tempat Diskusi
Diceritakan oleh Mbah Kiai Zainuddin bahwa zaman dahulu, rumah atau kediaman Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan, Kanigoro, Blitar menjadi “jujugan” sebagai tempat diskusi ilmu-ilmu agama Islam para ulama atau kiai. Di antara kiai-kiai yang merupakan guru atau kawan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi yang sering berkunjung ke rumah beliau antara lain:
1.      Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan: merupakan guru ilmu tauhid Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan yang kemanapun pergi selalu dia ikuti. Bahkan di rumah Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi inilah Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan pernah meramalkan bahwa ilmu tauhid beliau nantinya akan diteruskan oleh Mbah Kiai Haji Sibaweh Baqhowi (Pendiri Pondok Pesantren Al-Muslihuuun, Tlogo, Kanigoro, Blitar), kemudian akan berpindah ke Sekardangan [yakni kepada generasi Mbah Kiai Haji Imam Mahdi, yang merupakan cucu dari Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan]. Ternyata apa yang diramalkan Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh menjadi kenyataan bahwa ilmu tauhid yang dia ajarkan diteruskan oleh Mbah Kiai Haji Sibaweh Baghowi Tlogo, kemudian diteruskan oleh Mbah Kiai Haji Imam Mahdi Sekardangan, dan setelah itu tidak ada generasi yang meneruskan atau mungkin malah berhenti di Sekardangan hingga sekarang. Wallahua’lam.
2.      Mbah Kiai Haji Imam Fakih Sekardangan: Mbah Kiai Haji Imam Fakih merupakan ulama yang “cikal bakal” Pondok Pesantren Miftahul Huda [tahun 1900 masehi] dan Masjid Baitul Makmur [tahun 1903 masehi] di dusun Sekardangan. Beliau merupakan ulama yang alim ilmu fikih dan sering berdiskusi ilmu-ilmu tauhid dengan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi. Dan ketepatan rumah kedua ulama tersebut hanya berjarak kurang lebih 100 meter. Keduanya biasa saling tukar pikiran mengenai disiplin-disiplin ilmu yang mereka geluti masing-masing.
3.      Mbah Kiai Haji Shobiri Sekardangan: yakni ketika Mbah Kiai Haji Shobiri [yang berasal dari Pikatan, Wonodadi, Blitar] diambil menantu oleh Mbah Kiai Haji Imam Fakih Sekardangan, beliau seringkali diskusi dengan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi [yang lebih tua]. Perlu diketahui bahwa Mbah Kiai Haji Imam Fakih merupakan ulama ahli fikih yang sangat keras sekali. Bahkan dia memberi fatwa haram terhadap rokok. Namun Mbah Kiai Haji Shobiri yang merupakan menantu Mbah Kiai Haji Imam Fakih merupakan orang yang sangat suka sekali dengan rokok (istilah Jawa: “nyepur lek ngrokok”). Mbah Kiai Haji Shobiri sangat suka sekali diskusi dengan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuki [yang memang perokok berat hingga akhir hayatnya]. Di kediaman Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi inilah Shobiri muda sering menghabiskan rokok cerutu-nya sambil berdiskusi ilmu-ilmu tauhid.
4.      Mbah Kiai Haji Imam Mahdi Sekardangan: merupakan generasi penerus ilmu tauhid Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh yang sering berkunjung ke rumah Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi untuk berdiskusi masalah ilmu tauhid/aqa’id lima puluh. Mbah Kiai Haji Imam Mahdi muda murid Mbah Kiai Haji Sibaweh Baghowi Tlogo ini sering mengajak diskusi ilmu tauhid/ilmu aqa’id dengan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi [yang merupakan santri setia Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan hingga akhir hayatnya].
5.      Mbah Kiai Haji Muhammad Ma’roef Sukorejo, Blitar: Mbah Kiai Haji Muhammad Ma’roef, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatul Muballighin, Sukorejo, Blitar merupakan teman akrab Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan. Pada masa hidupnya, Mbah Kiai Haji Muhammad Ma’roef Sukorejo, Kota Blitar sering berkunjung kerumah Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan hanya untuk berdiskusi masalah ilmu tauhid/ilmu aqa’id lima puluh. Hal ini sering diceritakan oleh Mbah Kiai Zainuddin, Mbah Kiai Bakri Pakel, Mbah Kiai Oestman Buntu, Tlogo, dan Mbah Kiai Muhyiddin Tanggung, Garum yang kesemuanya merupakan putra dari Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan.
6.      Mbah Kiai Haji Ridwan Karangsono, Kanigoro, Blitar: Mbah Kiai Haji Ridwan pendiri Pondok Pesantren Karangsono, Kanigoro, Blitar ini disamping kawan akrab Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan juga merupakan “besan”-nya. Yakni ketika putri Mbah Kiai Haji Ridwan Karangsono yang bernama Nyai Siti Rohmah dinikahkan dengan Mbah Kiai Zainuddin putra Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan. Ada sebuah kisah menarik ketika Mbah Kiai Haji Ridwan ingin mengambil menantu Zainuddin muda. Pada saat itu Mbah Kiai Haji Ridwan sering dimarahi oleh Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi. Saat itu Mbah Kiai Haji Ridwan bertanya pada Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi mengenai hari baik untuk melangsungkan pernikahan Zainuddin muda dengan Siti Rohmah. Ketika itu Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi menyatakan bahwa semua hari adalah baik untuk melangsungkan pernikahan, pokok tidak memakai hari yang sudah lewat.
7.      Mbah Kiai Haji Nasruddin Sekardangan: Mbah Kiai Haji Nasruddin merupakan ulama ahli tasawwuf di Sekardangan yang mengikuti Tharikah Wahidiyyah dan Tharikah Jazuliyyah. Beliau merupakan kakak dari Mbah Kiai Haji Imam Mahdi Sekardangan.
8.      Mbah Kiai Haji Maulan Sekardangan: Mbah Kiai Haji Maulan Sekardangan merupakan ulama ahli ilmu hisab dan ilmu fikih madzhab empat yang juga sering melakukan diskusi keagamaan dengan Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi. Beliau merupakan keturunan Mbah Kiai Raden Tirto Sentono [salah satu dari kelima tokoh yang “mbabat” dusun Sekardangan, Kanigoro, Blitar.
9.      Dan lain-lainnya.
Demikian riwayat Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi Sekardangan, yang merupakan salah satu diantara murid kinasih Mbah Kiai Haji Muhammad Sholeh Kuningan, penulis kitab tauhid “Nata’ijul Afkar”. Mbah Kiai Haji Ahmad Dasuqi wafat dan dimakamkan di “Pesarean Umum Dusun Sekardangan”. Di pemakaman tersebut banyak para kiai atau ulama dan para tokoh yang dimakamkan disana antara lain:
1.      Mbah Kiai Haji Abdurrahman (salah satu putra Mbah Kiai Haji Abu Yamin [seorang yang “mbabat” dusun Sekardangan bagian Tengah, sebelah Barat]).
2.      Mbah Kiai Raden Tirto Sentono (salah satu tokoh yang “mbabat” dusun Sekardangan bagian Tengah, sebelah Timur).
3.      Mbah Kiai Haji Hasyim (salah satu cucu Mbah Kiai Haji Abu Yamin).
4.      Mbah Kiai Hasan Thohiran (salah satu teman perjuangan Mbah Kiai Haji Imam Fakih dalam mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Huda pada tahun 1900 masehi dan Masjid Baitul Makmur pada tahun 1903 masehi. Beliau merupakan keponakan Mbah Kiai Haji Imam Fakih, yang keduanya berasal dari Bagelenan, Jawa Tengah).
5.      Mbah Kiai Haji Mahrus Yunus (Pendiri Pesantren Sunan Pandanaran Sekardangan dan merupakan ulama yang cikal bakal amalan Shalawat Nariyah di dusun Sekardangan)
6.      Mbah Kiai Haji Maulan (ahli ilmu hisab dan fikih madzhab empat serta ulama yang terkenal dengan suara merdu ketika melantunkan Shalawat Hadrah ISHARI).
7.      Mbah Kiai Haji Zainuddin (putra Mbah Kiai Haji Abu Yamin [salah satu ulama yang “mbabat” dusun Sekardangan bagian Tengah, sebelah Barat]).
8.      Mbah Nyai Siti Maryam (istri dari Mbah Kiai Haji Barnawi [salah satu menantu Mbah Kiai Haji Abu Yamin dan yang “mbabat” dusun Sekardangan bagian Selatan]). Mbah Kiai Haji Barnawi merupakan ulama pertama yang mendirikan tempat ibadah berupa “langgar/musholla” di dusun Sekardangan bagian Selatan.
9.      Serta para kiai atau ulama lain pada generasi berikutnya antara lain: Mbah Kiai Imam Rokhani, Mbah Kiai Muhammad Irjaz, Mbah Kiai Zainuddin, Mbah Kiai Haji Ahmad Damiri, dan lain-lainnya.
Akhir kata, mudah-mudahan tulisan ini berguna bagi kita semua, di dunia dan akhirat. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya bagi semua makhluk. Amin, amin. Yaa Robbal Alamiin. Kirim bacaan Surat Al-Fatikah kepada semua yang disebutkan dalam riwayat di atas, serta kepada kaum muslimin dan muslimat. Semoga semuanya saja mendapat kenikmatan tak terhingga sisi-Nya. Amin, amin, Yaa Robbal Alamiin. Lahum Al-Fatikah...... 3X. Wassalam.
Tentang Penulis:
Arif Muzayin Shofwan
Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09
Papungan Kanigoro Blitar. Kode Pos 66171.
HP. 085649706399.

Senin, 06 Juli 2015

KIAI AGENG RM. DJOJOPOERNOMO TOJO TEMUGURUH SEMPU BANYUWANGI



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Masa-masa Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Blitar
Kiai Ageng Raden Mas Djojopoernomo mempunyai nama kecil “Arya Papak” atau “Raden Mas Papak Notoprojo”. Beliau adalah cucu dari Sultan Hamengku Buwono II dari putranya bernama Pangeran Kusumawijaya yang menikah dengan Raden Ageng Kustinah/Raden Ayu Mangkudiningrat [putri dari Nyi Ageng Serang, seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia]. Diberi nama “papak” sebab jari-jari tangan beliau sejak lahir papak (sama rata). Setelah Arya Papak usia senja, dia sering disebut masayarakat dengan sebutan “Mbah Wali Papak”. Dianggap sebagai “wali” karena beliau banyak menerima titipan karamah dari Allah swt.
Pada jaman kolonial Hindia Belanda, Arya Papak bersama neneknya Nyi Ageng Serang [Raden Ajeng Kustinah Wulaningsih Retnoedi] berjuang melawan penjajah Belanda dengan pasukan yang diberi nama “Panji-Panji Gula Kelapa”. Panji-panji tersebut mempunyai arti bahwa “Gula Jawa” mewakili warna merah dan “Kelapa” mewakili warna putih. Sehingga hal tersebut merupakan simbol “merah-putih” bendera Republik Indonesia yang pada masa lalu digunakan pula oleh Kerajaan Nusantara.
Di masa remaja, Arya Papak sudah berjuang bersama neneknya yang bernama Nyi Ageng Serang melawan kolonial Belanda. Ketika para pasukan “Panji-Panji Gula Kelapa” banyak yang kocar-kacir diberondong peluru kolonial Belanda, maka Arya Papak merupakan salah satu target yang selalu dicari-cari Belanda. Oleh karenanya, Arya Papak selalu pindah ke berbagai tempat agar jejaknya tidak diketahui oleh Belanda. Sewaktu berpindah-pindah tempat dia selalu berganti nama agar jejaknya juga tidak diketahui. Ketika di Surabaya dia pernah berganti nama Kiai Korek. Ketika di Trenggalek dia berganti nama Pangeran Presil Kopodilem. Begitu juga ditempat-tempat lain kadang dia disebut Raden Gimbal, Raden Joko dan lain sebagainya.
Dalam perjalanan berpindah-pindah tersebut, Arya Papak pernah singgah di dusun Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Di tempat tersebut Arya Papak pernah menjadi putra angkat Sayyid Bukhori Mukmin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Ageng Ponco Suwiryo. Di Mbrebesmili Santren [Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar] tersebut, Arya Papak sempat hidup lama bersama ayah angkatnya tersebut serta delapan saudara-saudara yang lain. Semenjak hidup di Mbrebesmili, Sayyid Bukhori Mukmin telah melihat bakat-bakat spiritual Arya Papak yang sangat hebat. Maka dari itu, Sayyid Bukhori Mukmin sangat menghormati Arya Papak, putra angkatnya tersebut. Begitu pula delapan saudara angkat yang lain, juga sangat menghormati Arya Papak.
Dalam perjalanan spiritual tersebut, Arya Papak sempat berguru pula kepada Kiai Ageng Muhammad Sufiyah yang berada di Gunung Kawi, Malang. Beliau juga sempat berguru kepada Kiai Kasan Munojo, Kesamben, Blitar. Dan masih banyak guru-guru spiritual lainnya. Tahap demi tahap, oleh karena perjalanan spiritual Arya Papak yang sudah semakin mantab, maka banyak dari murid-murid beliau yang meminta kepadanya agar menuliskan sebuah buku pedoman untuk sarana spiritual. Awalnya Arya Papak enggan untuk menuliskan hal tersebut. Namun karena banyak murid-murid beliau yang membutuhkan suatu pedoman, maka beliau melayani untuk membuatkan sebuah buku pedoman.
Arya Papak menuliskan sebuah buku pedoman yang diberi nama “Anggaran Dasar Pranataning Kamanungsan” Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama [PAMU]. Sejak saat inilah beliau memiliki nama Kiai Ageng RM. Djojopoernomo. Sementara komunitas untuk sarasehan [diskusi-diskusi] buku pedoman tersebut beliau namakan PAMU [Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama]. Hingga saat ini PAMU ini menyebar luas ke berbagai belahan daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lain sebagainnya.
Dalam silsilah nasabnya, Kiai Ageng RM. Djojopoernomo tersebut merupakan keturunan Sunan Kalijaga ke-12. Berikut silsilah nasab Kiai Ageng RM. Djojopoernomo atau yang bernama asli Arya Papak sebagaimana yang tercantum dalam buku berjudul “Dunia Nyi Ageng Serang” karya Mashoed Haka yang diterbitkan oleh PT. Kinta dan tersimpan di Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat:
1.      Sunan Kalijaga menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, berputra:
2.      Sunan Hadi Kusuma, berputra:
3.      Panembahan Semarang, berputra:
4.      Panembahan Pinatih, berputra:
5.      Panembahan Rangga Seda Sepuh, berputra:
6.      Panembahan Natapraja, berputra:
7.      Panembahan Rangga Natapraja, berputra:
8.      Panembahan Wijil, berputra:
9.      Panembahan Rangga Natapraja, berputra:
10.  Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retna Edi [Nyi Ageng Serang, pahlawan Nasional RI] menikah dengan Pangeran Kusumawijaya, berputra:
11.  Raden Ajeng Kustinah [Raden Ayu Mangkudiningrat] menikah dengan Pangeran Mangkudiningrat [putra Sultan Hamengku Buwono II], berputra:
12.  Arya Papak [Pangeran Papak Natapraja/Mbah Wali Papak/Kiai Ageng RM. Djojopoernomo] pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama [PAMU].
Adapun silsilah ayah angkat Kiai Ageng RM. Djojopoernaomo yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin (Kiai Ageng Ponco Suwiryo) dan dimakamkan di areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar sebagaimana yang tercantum dalam buku berjudul “Silsilah Sunan Tembayat Hingga Syaikh Muhammad Sya’ban al-Husaini” karya Abu Naufal bin Taman at-Thahir dan diterbitkan oleh Mbrebesmili Center Blitar pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:
1.      Kiai Jamas Mashuri [Kiai Tunggul Wulung/Kiai Ageng Kebo Dhungkul] menikah dengan Rara Ayu Surti Kanti, berputra:
2.      Kiai Nur Hidayatullah, berputra:
3.      Kiai Haryo Sumo Nur Hidayatullah, berputra:
4.      Kiai Mujang Nur Hidayatullah, berputra:
5.      Kiai Ageng Ronggo [Kiai Ageng Jimat], berputra:
6.      Kiai Ageng Atmo Wulung, berputra:
7.      Kiai Ageng Mojo, berputra:
8.      Kiai Ageng Tojo Diningrat, berputra:
9.      Kiai Ageng Jayeng Katon [Kiai Kendil Wesi], berputra:
10.  Kiai Ageng Niti Rejo, berputra:
11.  Sayyid Bukhori Mukmin [Kiai Ageng Ponco Suwiryo/Kiai Ageng Suwiryo Hadi Kesumo], ayah angkat Kiai Ageng RM. Djojopoernomo.
Di areal “Makam Auliya Mbrebesmili Santren” tersebut juga terdapat makam para waliyullah keturunan Sunan Tembayat (Syaikh Hasan Nawawi) Klaten, Jawa Tengah. Keturunan Sunan Tembayat yang dimakamkan ditempat tersebut antara lain:
1.      Kiai Ageng Muhammad Asrori [Pendiri Masjid Al-Asrar Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar]
2.      Kiai Ageng Muhammad Sya’ban [merupakan ayah dari Kiai Ageng Muhammad Asrori].
3.      Kiai Ageng Hasan Mujahid [suami Nyai Marfuatun binti Kiai Muhammad Sya’ban, merupakan pendiri Masjid Baitul Hasanah, Mbrebesmili, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar].
4.      Kiai Ageng Kembang Arum [seorang waliyullah yang makamnya selalu harum, dahulu makamnya berada di ujung pojok paling Utara dalam Makam Auliya Mbrebesmili Santren].
5.      Sayyid Abdullah [makamnya sudah tidak ada bekasnya lagi, merupakan seorang wali yang biasa di hadiah fatihahi oleh Kiai Muhammad Hambali Arifin (santri Kiai Raden Abdul Fattah, Mangunsari, Tulungagung) serta pendiri Majelis Dzikrul Fatihin, Srengat, Blitar]. Dalam dunia spiritualnya, Kiai Muhammad Hambali Arifin sering ditemui Sayyid Abdullah tersebut.
6.      Dan makam para auliya’ lainnya.
Kiai Ageng RM. Djojopoernomo Hijrah ke Banyuwangi
Setelah Kiai Ageng RM. Djojopoernomo hidup lama bersama ayah angkat beliau yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin, Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar, maka beliau lalu memutuskan untuk hijrah menuju arah Timur, tepatnya di daerah Tojo Kidul, desa Temuguruh, kecamatan Sempu, Banyuwangi. Di tempat inilah Kiai Ageng RM. Djojopoernomo mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 09 Februari 1956 dan dimakamkan di desa tersebut. Setiap bulan Muharram (Asyura/Suro) makam tersebut selalu ramai dengan para penziarah baik dari pengikut Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) yang banyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan lain sebagainya.
Dalam areal Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu Banyuwangi tersebut banyak terdapat tulisan falsafah-falsafah Jawa yang sangat dalam sekali maknanya. Salah satunya adalah terdapat pada pintu gerbang sebelum masuk di areal pemakaman terdapat tulisan berikut: “Kena Lumebu Jen Wes Weruh Djerone”[Boleh Masuk Kalau Sudah Mengetahui Dalamnya]. Selain tulisan tersebut, ada lagi ungkapan falsafah Jawa yang penuh makna lain juga ditemukan di kawasan seluas kurang-lebih setengah hektare tersebut. Terdapat di dinding bagian atas gedung pemakaman, terdapat tulisan berikut: “Sri Naga Radja, Paring Wangsit Bedja Kang Bisa Nampa”.
Selain ungkapan di atas, ada pula ungkapan falsafah Jawa yang berbunyi:“Kena Munggah Jen Wis Weruh Duwure, Teka Ora Mara, Musna Ora Lunga, dan Imbuh Ora Wawuh, Suda Ora Kalung” [Boleh naik ke atas kalau sudah mengetahui atasnya, datang tidak hadir, hilang tidak pergi, dan tambah tidak bertambah, berkurang tidak berkurang].  Begitulah beberapa kalimat yang terpampang di kawasan pemakaman Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi.
Di areal pemakaman Kiai Ageng RM. Djojopoernomo yang berlokasi sekitar 300 meter dari jalan desa tersebut, juga terdapat sejumlah tempat untuk pertemuan. Misalnya da aula. Aula itu berada di Timur makam Kiai Ageng RM. Djojopernomo tersebut. Selain itu, di areal makam juga terdapat kolam renang dan mushala (langgar kecil) di tempat tersebut. Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo berdampingan dengan Raden AJ. Soeprapti yang tercatat wafat pada tahun 17 Maret 1965. Telah diceritakan bahwa Raden AJ. Soeprapti merupakan abdi dalem Kiai Ageng RM. Djojopernomo yang sangat setia dan berbakti.
Semoga Kiai Ageng RM. Djojopoernomo selalu mendapatkan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan pula ayah angkat beliau yang bernama Sayyid Bukhori Mukmin yang dimakamkan dalam areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili Santren” Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar juga selalu mendapat limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu pula para Auliya yang dimakamkan di areal “Makam Auliya’ Mbrebesmili” juga selalu mendapat limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin. Di bagian bawah penulis sertakan foto-foto di areal makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo yang saya dapatkan dari Setia Heri. Terima kasih.
Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan
Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09
Papungan Kanigoro Blitar. Kode Pos 66171.
HP. 085649706399.

Gapura Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo
Areal Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo
Tjandi Soja Ruri "Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo"


Papan Nama "Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo"