Kamis, 13 Oktober 2016

KI KEBO KANIGORO, TANDA POHON JATI, DAN KETURUNANNYA (DARI KANIGORO-BLITAR HINGGA SUKOHARJO)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) merupakan saudara dari Ki Kebo Kenongo (Kiai Syihabuddin), Ki Kebo Amiluhur, Ki Kebo Sulastri dan merupakan putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh/ Prabu Sri Makurung Handayaningrat (+ Raden Ayu Pambayun binti Prabu Brawijaya V). Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) juga merupakan tokoh legendaris yang terkait dalam rentetan perpolitikan empat kerajaan, yakni: Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Ada banyak lika-liku hidup yang harus dilalui tokoh Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) mulai dari pengejaran dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap pribadinya, hingga perjalanan hidupnya yang sering berpindah-pindah tempat karena mencari keselamatan jiwa dan raga karena rentetan perpolitikan empat kerajaan di atas. Dalam perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah tersebut, Ki Kebo Kanigoro sering berganti nama samaran agar tidak diketahui identitas dirinya. Begitu pula, para keturunan dan keluarganya juga selalu berganti nama samaran untuk keselamatan mereka.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengkaji berbagai petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang biasanya atau rata-rata ditandai dengan “Pohon Jati” beserta sebagian keturunan lainnya. Telah disebutkan bahwa, pada zaman dahulu kala, sebuah pohon sering dijadikan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) untuk mereka yang memiliki latar belakang tertentu. Misalnya, tanda “Pohon Sawo” selalu digunakan oleh para keturunan Panembahan Sawo Ing Kajoran (yakni; semua para trah Kajoran hampir selalu menggunakan sandi/tanda Pohon Sawo bagi semua keturunannya). Dalam kirata basa orang Jawa, Pohon Sawo di-kiratabasa-kan dengan bahasa al-Qur’an sebagai “Sawwu Shufufakum...” (rapatkanlah barisan kalian/ rapatkanlah barisan saudara-saudara kalian/ rapatkanlah trah keturunan kalian...). Ini yang masyhur dan saya dapatkan dari kisah para sesepuh. 
Tanda Pohon Jati Ki Kebo Kanigoro
Sebagaimana telah disebutkan bahwa sebuah pohon merupakan salah satu “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) yang banyak digunakan oleh sesepuh atau tokoh masa lalu. Pohon Boddhi misalnya, selalu dipakai simbol atau tanda bagi umat agama Buddha dimanapun berada. Sebab pohon Boddhi tersebut memiliki nilai sejarah bagi umat Buddha. Konon Sang Buddha Gautama mendapat pencerahan sempurna saat melakukan semedi (meditasi) di bawah Pohon Boddhi. Oleh karena hal tersebut, maka para siswa dan pengikut Sang Buddha sampai saat ini mengistimewakan Pohon Boddhi tersebut. Makna “Pohon Boddhi” adalah pohon pencerahan. Dari sini, mungkin pula bahwa makna “Pohon Jati” dari tanda Ki Kebo Kanigoro adalah pohon ilmu sejati yang selalu beliau dalami dan ajarkan pada santrinya. Dan pada akhirnya, oleh orang Jawa, tempat singgah bertanda “Pohon Jati” tersebut dipakai sebagai tempat mengirim doa kepada tokoh yang bersangkutan.
Mengenai banyak petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang ditandai dengan Pohon Jati, saya kurang begitu banyak dapat info dari para sesepuh apa kirata basa “Pohon Jati” yang selalu digunakan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” dari Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru, dan keluarganya) yang terkenal sebagai murid Syaikh Siti Jenar dan berdekatan erat dengan Sunan Kalijaga, Sang Wali Tanah Jawa. Ada kemungkinan, makna atau kirata basa “Pohon Jati” yang rata-rata hampir ada dan melekat dengan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru dan keluarganya) dimaksudkan adalah beliau merupakan penganut “Ilmu Sejati” (Ilmu Kasunyatan) yang diajarkan Syaikh Siti Jenar. Dengan demikian, rata-rata petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) ditandai dengan Pohon Jati (artinya, pohon keilmuan Sejati). 
Pertama, Petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce/ Rara Sari Once/ Endang Widuri) yang berada di sebelah Timur bagian Utara Pom Bensin, di daerah kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar yang sejak zaman dahulu ditandai dengan Pohon Jati yang besar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Kurung”, sebab pohon Jati tersebut dulu dikurung pagar melingkar disekelilingnya. Hingga saat ini, Pohon Jati yang disebut “Petilasan Jatikurung” sebagai petilasan ketiga tokoh tersebut beserta para pengikutnya masih berdiri kokoh. Konon, di tempat inilah Ki Kebo Kanigoro  beserta keluarga dan para pengikutnya sempat membuat “Rumah Joglo” dan menjadi semacam pusat pemerintahan setingkat kadipaten atau kecamatan atau pemerintahan lebih kecil lainnya. Hingga akhirnya, beliaulah yang merupakan cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar.

Petilasan Ki Kebo Kanigoro, Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce di Petilasan Jatikurung kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Kedua, Petilasan Rara Sari Once (Rara Sekar Rinonce/ Endang Widuri/ Rara Tenggok) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru; salah satu tokoh yang cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar) dan sekaligus sebagai cikal bakal dusun Dogong, desa Gogodeso, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar dulu juga berupa tanda Pohon Jati yang besar. Namun Pohon Jati tersebut telah mati dan tinggal tonggaknya saja. Kemudian para warga dusun Dogong membuatkan monumen sederhana kepada tokoh cikal bakal tersebut. Ustadz Ahmad Kulli Syaiin menyatakan: “... ndisik pase cikal bakal dusun Dogong iku ono Wit Jatine mas...terus koyoke mati lan ditandani bangunan sai iki kae...” (dulu tepat di cikal bakal tersebut ada Pohon Jati-nya mas... Lalu mati dan ditandai bangunan/monumen tersebut). Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ustadz Kholik Mawardi bahwa dulu ada Pohon jati-nya. Petilasan ini berada dalam areal “Makam Umum” desa Gogodeso dan berdekatan dengan sumber/mbelik, yang berada di sebelah Timur-nya.
Ketiga, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), dan Rara Sekar Rinonce (Rara Sari Once/ Endang Widuri/ Rara Tenggok) yang berada di desa Maliran, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Gerot”, sebab dulu kala ada Pohon Jati yang bergerot-gerot ditiup angin. Bahkan, sebelum menjadi desa Maliran, konon desa tersebut dinamakan desa Jati Gerot. Petilasan tersebut dibangun seperti sebuah makam, padahal hal itu bukanlah makam, tetapi hanyalah sebuah petilasan. Pada tahun 2005, saya dengan Mbah Jawoko Jatimalang pernah meneliti tempat tersebut dan bertanya kepada salah seorang warga dari salah satu rumah yang dekat petilasan tersebut. Orang itu menyatakan bahwa tempat itu sebenarnya bukan makam, tapi paman orang tersebut yang membuat/ membangun petilasan menyerupai makam.
Keempat, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri/ Rara Sari Once) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang berada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut berada dekat sumber mata air. Konon, menurut Mbah Jawoko Jatimalang, petilasan yang ada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar tersebut dulu kala ada tanda beberapa pohon yang berada di dekat sumber air, serta bangunan berupa patung Singa dan Naga sebagaimana yang dibangun etnis Tionghoa. Namun tanda-tanda patung Singa dan Naga tersebut sudah tidak ada lagi hingga penelitian ini dilakukan.
Kelima, Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri/ Rara Sari Once) yang merupakan anggota keluarga Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang berada di Utara Sumber Kucur desa Selokajang, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut juga ditandai dengan “Pohon Jati” yang berusia cukup lama. Namun Pohon Jati tersebut telah tiada dan ditebang oleh pemilik pekarangan di tempat tersebut. Saat saya bersama Mbah Gatot ke tempat tersebut, hanya terdapat tonggak Pohon Jati dan bekas dibakari dupa wangi, terdapat pula cok bakal dari sebagian warga yang nyekar di tempat tersebut. Selain Nyai Gadhung Melati, ada pula yang cikal bakal di desa Selokajang lain, di antaranya: Mbah Kiai Abu Hanifah, Mbah Kasan Ali, Mbah Sampir, yang makamnya berada di “Puncak Gunung Tumpuk” di desa tersebut.
Keenam, Petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) di dukuh Kaligayam, desa Rejosari, kecamatan Semin. Petilasan ini juga ditandai dengan Pohon Jati pula. Pohon Jati yang berusia ratusan tahun tersebut telah roboh dimakan usia. Konon pohon jati tersebut dinamakan “Pohon Jati Bedug” di dukuh Kaligayam sebagai petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) ketika singgah dan melakukan kegiatan spiritual di tempat tersebut.

Pohon Jati Petilasan Kyai Purwoto Siddik Banyubiru/ Ki Kebo Kanigoro di Kaligayam Lor, Rejosari, Semin
Ketujuh, keturunan dari Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) yang bernama Ki Ageng Gribig juga menggunakan tanda pohon Jati untuk menyebut dusun yang ditempatinya, yakni Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Konon di Jatinom tersebut dahulu juga ditandai “Pohon Jati Enom” (pohon Jati yang masih muda). Tak dapat diketahui secara pasti di mana Pohon Jatinom (Pohon Jati Muda) tersebut berada. Namun, arti daerah bernama “Jatinom” tidak lepas dari keturunan Ki Kebo Kanigoro bernama Ki Ageng Gribig yang menandai daerah tersebut dengan Pohon Jati. Diceritakan salah satu sesepuh bahwa Ki Ageng Gribig inilah yang dilegendakan warga Rawapening-Ambarawa dengan Raden Baru Klinting yang mencari ayahnya dipuncak gunung.
Tentu saja tidak semua petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) semua ditandai atau ditanami dengan Pohon Jati. Sebab uasah pengejaran Ki Kebo Kanigoro dari rentetan perpolitikan panjang tiga masa kerajaan (yakni Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram) bisa jadi tidak menyempatkan beliau dan para cantriknya untuk memberi semua yang ditempatinya saat beliau singgah dengan Pohon Jati. Artinya, hanya tempat-tempat tertentu yang nyaman ditempatinya saja yang diberi “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” berupa Pohon Jati. Misalnya, di Kademangan-Blitar berada di Selatan Sungai Berantas bergandengan dengan langgar (mushalla) juga ada Petilasan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) yang merupakan istri dari Ki Kebo Kanigoro. Begitu pula, petilasan Ki Kebo Kanigoro yang berada di lereng Gunung Merapi, dan lain sebagainya. Tak jauh dari itu, dusun Sekardangan, desa Papungan, kecamatan Kanigoro konon merupakan tempat terakhir ketika Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) dan putrinya bernama Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Endang Widuri) untuk memutuskan kembali menyusul Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mbah Kiai Zainuddin Sekardangan mengatakan: “.... Embuh, ndisik critane Mbahe Wedok karo anake mbalik maneh ning Jawa Tengah...” (Nggak tahu, tapi ceritanya dulu Eyang Putri dan anak perempuannya kembali lagi ke Jawa Tengah). Namun sebelum kembali ke Jawa Tengah konon Nyai Gadhung Melati sempat berkunjung dulu ke rumah anaknya Ki Ageng Gribig I yang berada di Malang. Kata Mbah Kiai Zainuddin: "Sakdurunge mbalik ning Sukoharjo, Mbahe Wedok ndisik menyang Malang dhisik." Hal tersebut juga dibenarkan oleh Mbah Bayan Mayar yang mendapat cerita dari Mbah Markalam (kakeknya). 
Dari perjalanan dan persinggahan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) dan keluarganya yang cukup melelahkan karena rentetan perpolitikan kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram tersebut, kemudian mereka menetap terakhir di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) dimakamkan di tempat tersebut. Begitu pula, Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah), Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Rara Sari Once/ Endang Widuri) dimakamkan dalam areal “Makam Banyubiru” tersebut. Namun, SH. Mintardja berpendapat bahwa Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Rara Sari Oce/ Endang Widuri) dimakamkan di pinggir pagar keliling Makam Ki Ageng Pengging Sepuh di dukuh Pengging, desa Banyudono, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Keturunan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru)
Berdasarkan penelitian SH. Mintardja dijelaskan bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) memiliki anak perempuan tunggal bernama Endang Widuri. Menurutnya, Endang Widuri ini kemudian menikah dengan Arya Salaka (Ki Gede Banyubiru). Menurutnya, makam Endang Widuri putri dari Ke Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) berada di pinggir pagar keliling Makam Ki Ageng Pengging Sepuh di dukuh Pengging, desa Banyudono, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Maka berdasarkan ciri-ciri Endang Widuri yang disebutkan SH. Mintardja tersebut bahwa dia adalah wanita yang nakal. Nakal di sini bukan berarti tak tahu aturan, akan tetapi tegas (kenes; Bhs Jawa). Beberapa sesepuh dusun Sekardangan, seperti Mbah Bayan Mayar, Mbah Markalam mengatakan bahwa Rara Sekar Rinonce (Endang Widuri/ Rara Tenggok/ Rara Sari Once) itu wanita yang “kenes” (tegas dalam segala hal) bukan wanita nakal yang berupa kenegatifan lainnya.
Selanjutnya, berdasarkan “Ranji Sarkub” yang ditulis Raden Ayu Linawati Djojodiningrat bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) juga memiliki anak bernama Ki Ageng Gribig Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Konon, tokoh bernama Ki Ageng Gribig ini merupakan legenda Raden Baru Klinting yang mencari ayahnya di puncak gunung dalam peristiwa Rawa Pening di Ambarawa. Tokoh ini masa kecilnya dirahasiakan hingga menjadi sebuah “legenda” agar supaya keberadaannya selamat dari rentetan perpolitikan tiga kerajaan, yaitu: Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Dan silsilah kuno atau manuskrip-manuskrip data kuno yang menjelaskan bahwa Ki Ageng Gribig merupakan putra Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) masih tersimpan oleh Raden Ayu Linawati (Sang Srikandi Ranji-Ranji Kuno) tersebut.
Terakhir, menurut pendapat Panji Jayawardhana dalam mengomentari blog tentang “Petilasan Ki Kebo Kanigoro di Lereng Gunung Merapi” yang berada di dusun Pojok, desa Samiran, kecamatan Selo, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyebutkan: “..Ki Kebo Kanigoro tidak moksa, tapi hijrah ke Bali, lalu menetap di Lombok dan mendirikan kerajaan bernama ‘Kerajaan Pujut’ dan keturunannya sampai sekarang ada di mana-mana...” Dalam hal tersebut, saya sebagai peneliti belum mempelajari apakah Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) pernah hijrah ke Bali dan Lombok hingga sebagaimana yang dikisahkan di atas. Mungkin pula, era perpolitikan Majapahit dan Demak hal tersebut bisa terjadi dan bisa tidak. Sekali lagi, dalam hal ini saya sebagai peneliti belum begitu mendalaminya. Semoga demikian adanya. Semoga semua berjalan secara wajar.
Kesimpulan Sementara
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai kesimpulan sementara sebagaimana berikut: Pertama, Pohon Jati merupakan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” yang dipakai oleh Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru), istrinya, dan anaknya dalam berbagai persinggahan mereka. Akan tetapi, tidak semua tempatpun juga sempat ditandai dengan Pohon Jati karena situasi perpolitikan yang tidak menungkinkan; Kedua, disimpulkan pula bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyubiru) menikah dengan Nyai Gadhung Melati (Raden Ayu Kardinah) memiliki beberapa putra-putri, yaitu: (1) Endang Widuri/ Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok/ Rara Sari Once; dan (2) Ki Ageng Gribig I di Malang-Jawa Timur. Dan sementara Ki Ageng Gribig II, III, dan IV masih keturunan dari Ki Ageng Gribig I tersebut; Ketiga, selain itu, berdasarkan pernyataan Panji Jayawardana Ki Kebo Kanigoro juga memiliki keturunan di daerah Lombok. Namun dalam kesimpulan yang ketiga ini penulis belum tahu-menahu bagaimana kisahnya. Wallahu’alam.

 
Makam Ki Kebo Kanigoro/ Kyai Purwoto Siddik Banyubiru, Nyai Gadhung Melati, dan Rara Tenggok di dusun Sarehan desa Jatingarang, kecamatan Weru, Sukoharjo-Solo, Jawa Tengah.

Tentang Penulis
Arif Muzayin Shofwan adalah pria kelahiran Blitar, Jawa Timur. Pria tersebut merupakan peneliti sejarah, kisah-kisah, legenda lokal, petilasan dan makam kuno. Sejak kecil, pria tersebut sangat menyukai dongeng-dongeng, cerita-cerita, dan kisah-kisah dari para sesepuh dusun, desa, kecamatan, kabupaten, hingga lainnya. Dalam hidupnya, tak banyak yang diminta pria tersebut kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Walau mungkin orang lain menganggap banyak, tetapi tak sepadan dengan kekayaan Tuhan Yang Maha Kaya. Dia hanya minta cukup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Cukup segalanya. Pria tersebut beralamatkan sebagai berikut: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos. 66171. HP. 085649706399.

6 komentar:

  1. saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m

    BalasHapus
  2. Siapa mbah karyo spesial apa itu

    BalasHapus
  3. Ngarang lo....

    :ngakak

    BalasHapus
  4. eyang kakung kebo kanigoro alias Bathara kathong makamnya di ponorogo. kakaknya kebo kenongo ada di boyolali,saya cucu cicitnya mohon diperiksa kembali infonya melalu interaksi kebatinan spy tidak salah.terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eyang kenongo itu adiknya eyang kanigoro

      Hapus
    2. Ya beda jauh kemana2 mas, betara katong ma eyang kanigoro. Udh beda orang. Eyang kebo kanigoro moksa di lereng merapi... eyang jebo kenongo makam di sragen.

      Hapus