Kamis, 18 September 2014

SILSILAH KYAI AGENG PURWOTO SIDIK BANYUBIRU (KI KEBO KANIGORO) SUKOHARJO, JAWA TENGAH



Oleh: Arif Muzayin Shofwan
 
Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) yang merupakan suami Nyai Gadhung Melati dan ayah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) adalah paman sekaligus guru Raden Mas Karebet (Jaka Tingkir/Sultan Hadiwijaya) yang menjadi pendiri Kerajaan Pajang. Ayah Kyai Ageng Purwoto Sidik bernama Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara/Kyai Muhammad Kabungsuan/Ki Ageng Pengging Sepuh) putra Syaikh Jumadil Kubro, Troloyo, Mojokerto. Ibu Kyai Ageng Purwoto Sidik bernama Raden Ayu Retno Pambayun putri Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir). Adapun saudara kandung Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) diantaranya:
1.      Ki Ageng Kebo Kenongo (Kyai Ageng Sihabbuddin), ayah Jaka Jaka Tingkir.
2.      Ki Ageng Kebo Amiluhur
3.      R. Ayu Retno Pandang Kuning
4.      R. Ayu Retno Pandang Sari
5.      Raden Kebo Sulastri
Adapun silsilah Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) adalah sebagai berikut:
1.      Rasulullah Muhammad saw, berputra:
2.      Sayyidah Fathimah az-Zahra, berputra:
3.      Sayyidina Husain, berputra:
4.      Sayyid Ali Zainal Abidin, berputra:
5.      Sayyid Muhammad al-Baqir, berputra:
6.      Sayyid Ja’far Shadiq, berputra:
7.      Sayyid Ali al-Uraidhi, berputra:
8.      Sayyid Muhammad, berputra:
9.      Sayyid Isa bin Muhammad, berputra:
10.  Sayyid Ahmad al-Muhajir, berputra:
11.  Sayyid Ubaidillah, berputra:
12.  Sayyid Alwi, berputra:
13.  Sayyid Muhammad, berptra:
14.  Sayyid Alwi, berputra:
15.  Sayyid Ali Khali’ Qasam, berputra:
16.  Sayyid Muhammad Shahib Mirbath, berputra:
17.  Sayyid Alwi Ammil Faqih, berputra:
18.  Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, berputra:
19.  Sayyid Ahmad Jalaluddin, berputra:
20.  Sayyid Husain Jamaluddin, berputra:
21.  Sayyid Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berputra
22.  Sayyid Muhammad Kabungsuan/ Pangeran Handayaningrat/Jaka Sengara, berputra:
23.  Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kenongo/Kyai Ageng Banyubiru), suami Nyai Gadhung Melati dan ayah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce)
Adapun silsilah Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) dari pihak ibu adalah:
1.      Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir), berputra:
2.      Raden Ayu Retno Pambayun (suami Pangeran Handayaningrat), berputra:
3.      Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kenongo/Kyai Ageng Banyubiru), suami Nyai Gadhung Melati dan ayah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce)
Perlu diketahui bahwa Nyai Gadhung Melati (istri Kyai Ageng Purwoto Sidik/Ki Kebo Kanigoro) dan putrinya Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) merupakan pertapa yang menjadi cikal bakal dusun Sekardangan, kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Dalam berbagai pengembaraannya, Nyai Gadhung Melati dan putrinya Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) mempunyai beberapa petilasan diantaranya berada di:
1.      Sekardangan, Kanigoro, Blitar
2.      Maliran, Ponggok, Blitar
3.      Kanigoro, Blitar
4.      Bendelonje, Talun, Blitar
5.      Dayu, Nglegok, Blitar
6.      Kademangan, Blitar
7.      Selokajang, Srengat, Blitar
8.      Genjong, Wlingi, Blitar
9.      Batu, Malang
10.  Dan lain-lain
Tempat-tempat tersebut merupakan tempat singgah Nyai Gadhung Melati dan putrinya Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) dalam berbagai pengembaraannya. Setelah mengembara kesana kemari dan yang terakhir di dusun Sekardangan, kecamatan kanigoro, kabupaten Blitar, Nyai Gadhung Melati dan putrinya Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) lalu kembali ke tempat asalnya, yaitu daerah Banyubiru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan dimakamkan disana disamping Kyai Ageng Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) suaminya. Berikut adalah petilasan Nyai Gadhung Melati dan Roro Tenggok di dusun Sekardangan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar:

 
Monumen Petilasan Nyai Gadhung Melati Sekardangan

Pintu Petilasan Nyai Gadhung Melati Sekardangan

Denah Seputar Petilasan Nyai Gadhung Melati Sekardangan

Tanda Arah Makam Petilasan Nyai Gadhung Melati Sekardangan

Makam Kyai Ageng Purwoto Sidik, Nyai Gadhung Melati, Roro Tenggok di Banyubiru, Sukoharjo, Jawa Tengah







Rabu, 17 September 2014

SEJARAH KYAI AGENG BANYUBIRU BERISTRIKAN NYAI GADHUNG MELATI (DEMAK-PAJANG-MATARAM)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Tersebutlah pada zaman Kerajaan Islam Pajang-Mataram seorang kyai agung yang gemar laku tapa brata bernama Kyai Ageng Purwoto Sidik (yang lebih dikenal dengan julukan Kyai Ageng Banyubiru). Kyai Ageng Purwoto Sidik adalah guru spiritual dari Jaka Tingkir (Raden Mas Karebet) pendiri Kerajaan Islam Pajang yang menggantikan dinasti Kerajaan Demak Bintoro. Selain berguru kepada Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru), maka Jaka Tingkir (Raden Mas Karebet) juga berguru kepada Sunan Kalijaga (Wali Agung Tanah Jawa) dan Syaikh Siti Jenar (yang juga dikenal dengan Syaikh Ali Hasan atau Syaikh Lemah Abang). Dalam kehidupan spiritualnya, Kyai Ageng Purwoto Sidik sering mengembara dan berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah yang lain. Maka tak heran bila dalam pengembaraan tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik banyak meninggalkan “Petilasan-Petilasan” (untuk bertapa brata atau tempat bermukim yang beliau tinggalkan).
Setelah sekitar tujuh tahun Kyai Ageng Purwoto Sidik mengembara di Purwokerto, beliau kemudian hijrah ke Rejosari, Semin, Gunungkidul. Ditempat itu beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang. Setelah beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang cukup lama, lalu beliau meneruskan pengembaraan sampai di Jatingarang, Sukoharjo (dulu bernama hutan Wonogung). Ditempat baru ini  Kyai Ageng Purwoto Sidik melakukan “Tapa Kungkum” di sendang setempat. Konon karena pancaran dari energi spiritual Kyai Ageng Purwoto Sidik, maka air Sendang Wonogung mendadak berubah berwarna biru. Hingga, sendang itu pun seiring berjalannya waktu kemudian dinamakan “Sendang Banyubiru”. Berdasarkan peristiwa ini pula, Kyai Ageng Purwoto Sidik diberi julukan “Kyai Ageng Banyubiru”. Pada era selanjutnya, julukan “Kyai Ageng Banyubiru” digunakan pula oleh murid-murid dan orang-orang sesudah beliau yang memang cinta pada sosok ketokohan beliau.
Perlu diketahui bahwa dusun Banyubiru berada di Selatan kota Solo (Jawa Tengah), yang disebut-sebut sebagai tempat Jaka Tingkir (Sultan Kerajaan Pajang) berguru (menimba ilmu). Setelah Jaka Tingkir berguru kepada Kyai Ageng Banyubiru, beliau kemudian melakukan perjalanan ke Gunung Majasto, selanjutnya ke Pajang. Jalur gethek-nya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni: Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge. Selain Sendang Banyubiru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru), yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo. Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyubiru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid”.
Dalam kehidupannya, Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro) beristrikan Nyai Gadhung Melati dan mempunyai anak bernama Nyai Roro Tenggok (Sekar Rinonce). Tersebutlah di dusun Sekardangan (Kec. Kanigoro Kab. Blitar) seorang tokoh yang terkenal mendirikan dusun bernama Nyai Gadhung Melati. Karena perpolitikan jaman Demak-Pajang-Mataram, mereka sempat berpisah dan menjadi pengembara. Sehingga dari pengembaraannya, Nyai Gadhung Melati juga banyak meninggalkan beberapa petilasan diberbagai daerah seperti: di Sekardangan, Kademangan, Maliran, Kanigoro, Dayu dan lain-lain.  Wal khasil, di dusun Banyubiru tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik menetap hingga tutup usia. Beliau dimakamkan di utara Sendang Banyubiru ([Sarehan] Selatan kota Solo, Jawa Tengah), bersama istrinya yang bernama Nyai Gadhung Melati dan putri tercintanya yang bernama Roro Tenggok (Sekar Rinonce).
Bung Karno (Tokoh Nasionalis Proklamator Republik Indonesia dan Perumus Pancasila) pernah menyatakan: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!
(Dikeluarkan Oleh: PUSAT STUDI SEJARAH SEKARDANGAN (PUSKAR) Sekardangan)
Monumen Petilasan Nyi Ageng Sekardangan

Pintu Masuk Petilasan Nyi Ageng Sekardangan

Denah Seputar Petilasan Nyi Ageng Sekardangan

Tanda Arah Kolam Petilasan Nyi Ageng Sekardangan

Makam Kyai Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro), Nyai Gadhung Melati dan Roro Tenggok di Banyubiru Sukoharjo Jawa Tengah

SEKELUMIT TENTANG TOKOH SEKARDANGAN DARI MASA KE MASA (ABAD 15 M – 20 M)



 Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Pada abad 17 masehi, jauh sebelum berdirinya Masjid Baitul Makmur yang diprakarsai oleh Mbah Kyai Imam Fakih pada tahun 1900 masehi, Sekardangan merupakan sebuah dusun yang di babat oleh beberapa tokoh agung, diantaranya: Mbah Kyai Raden Tirto Sentono (makam istrinya di Gaprang), Mbah Kyai Abu Yamin (makam di Gaprang), Mbah Kyai Hasan Muhtar (makam di Gaprang), Mbah Kyai Abu Bakar, Mbah Kyai Barnawi, Mbah Kyai Sopuro (makam terlama di Barat Masjid Baitul Makmur), Mbah Menthel dan lain-lain. Lebih jauh dari masa ini pula (yakni, zaman peralihan Dinasti Kerajaan Islam Pajang-Mataram seputar tahun 1580 masehi), Sekardangan merupakan sebuah dusun yang didirikan oleh Nyai Gadhung Melati (Mbah Sekar) yang makamnya berada di dusun Sarehan (berada di sebelah Selatan Kota Solo, Jawa Tengah). Setelah Nyai Gadhung Melati mendirikan dusun Sekardangan (Kec. Kanigoro Kab. Blitar), lalu sekitar tahun 1621 masehi beliau kembali pulang ke daerah asalnya yaitu dusun Banyubiru (sekarang Sarehan) yang berada di Selatan Kota Solo, Jawa Tengah. Perlu diketahui bahwa Nyai Gadhung Melati adalah istri Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru) yang merupakan guru spiritual Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya (Pendiri Kerajaan Islam Pajang). Di dusun Sekardangan, maka ditempat pendirian “Monumen Petilasan” inilah, Nyai Gadhung Melati dulu mendirikan sebuah Sanggar/Langgar (Gasebo) dari kayu dan bambu.
Menurut sesepuh, seputar abad 17 masehi, seorang tokoh yang pertama kali mendirikan tempat ibadah di dusun Sekardangan adalah Mbah Kyai Barnawi. Tempat ibadah yang disebut “Langgar” ini dahulu berada ditengah-tengah dusun Sekardangan, yang di tempat itu dulu ada “Sumber Mata Air”-nya. Namun langgar itu hingga kini sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Tokoh kedua yang mendirikan sebuah “Langgar” adalah Mbah Kyai Abu Bakar (penerus langgar Mbah Kyai Hasan Muhtar). Langgar Mbah Kyai Abu Bakar ini, hingga kini masih berdiri sesuai dengan ciri khas “Langgar Zaman Mataraman”, yakni masih terlihat “Logo Mataraman” berada di tembok pengimaman langgar sebelah Barat. Langgar ini juga masih berhiaskan simbol-simbol bunga di atas setiap pintu ataupun jendela sebagai akulturasi budaya Jawa. Konon, langgar Mbah Kyai Abu Bakar ini dahulu dipakai sebagai sarana “Shalat Jum’at” warga dusun Sekardangan. Di era ini pula, menyusul berdirinya langgar yang diprakarsai  oleh Mbah Kyai Abdurrahman, Mbah Kyai Zainuddin, Mbah Kyai Murasyid dan beberapa langgar yang lain.
Pada era selanjutnya, seputar abad 18 masehi datanglah seorang dari Bagelenan, Jawa Tengah  yang bernama Mbah Kyai Imam Fakih, menantu dari Mbah Kyai Abu Mansyur Kuningan. Beliau membeli tanah yang luas tepat berada di pojok dusun Sekardangan bagian Selatan, paling Timur. Sebagian tanah itu pada tahun 1900 masehi dijual pada Kompeni Belanda untuk jalan trem kereta api pengangkut tebu. Dari hasil penjualan itulah, digunakan sebagai modal untuk mendirikan sebuah pesantren dan masjid yang sekarang diberi nama “Masjid Baitul Makmur”. Ide pendirian pesantren dan masjid tersebut disokong warga Sekardangan dengan berbagai bantuan yang berupa batu bata, pasir, kayu bangunan, tenaga, pikiran dan lain-lainnya. Tersebut pula pada seputar era ini diantaranya Mbah Kyai Hasan Thohiran (sahabat perjuangan Mbah Kyai Imam Fakih), Mbah Kyai Ahmad Dasuqi, Mbah Kyai Hasyim, Mbah Kyai Sadzali, Mbah Kyai Shobiri dan lain-lain. Era-era selanjutnya, seputar abad 19-20 masehi telah muncul beberapa tokoh kyai diantaranya; Mbah Kyai Romli, Mbah Kyai Abbas Fakih, Mbah Kyai Mahfudz (pejuang syahid), Mbah Kyai Imam Mahdi, Mbah Kyai Hamzah, Mbah Kyai Mahrus Yunus, Mbah Kyai Nasruddin, Mbah Kyai Zainuddin, Mbah Kyai Muhtar Fauzi, Mbah Kyai Maulan, dan seterusnya.
Bung Karno mengatakan: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!
(Dikeluarkan Oleh: PUSAT STUDI SEJARAH SEKARDANGAN (PUSKAR) Sekardangan)
Monumen Petilasan Nyi Ageng Sekardangan

Monumen Petilasan Nyi Ageng Sekardangan         
 
Denah Seputar Petilasan Nyi Ageng Sekardangan


Tanda Arah Menuju Kolam Petilasan Nyi Ageng Sekardangan
Makam Kyai Purwoto Sidik (Ki Kebo Kanigoro) dan istrinya Nyai Gadhung Melati dan anaknya Roro Tenggok