Sabtu, 20 Agustus 2016

MENELUSURI JEJAK KE PETILASAN NYAI GADHUNG MELATI: CIKAL BAKAL DESA BENDELONJE TALUN BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Cerita tentang Petilasan Nyai Gadhung Melathi
Suatu hari, saya dikasih informasi oleh Bapak Jawoko Jatimalang Blitar bahwa cikal bakal desa Bendelonje, Talun, Blitar juga bernama Nyai Gadhung Melati. Kata Bapak Jawoko: “Gus, petilasane Nyai Gadhung Melati kuwi akeh. Koyo’e dheweke ndisik cikal-bakal ning ngendi-ngendi panggonoan. Petilasane Nyai Gadhung Melati ono sing ning: (1) Maliran, Ponggok, Blitar; (2) Dayu, Ponggok, Blitar; (3) Kademangan-Blitar sandinge Kali Brantas, gandeng karo musholla; (4) Genjong, Wlingi, Blitar; (5) Kuningan, Kanigoro, Blitar; (6) Batu-Malang; (7) Penataran, Blitar; lan liya-liyane. Paling ndisik, wonge amen pindah-pindah.” Sementara itu, Gus Shohib Mahfudz juga menyatakan demikian. Tak jauh dari itu, para sesepuh juga menyatakan demikian pula.
Wah, mendengar cerita tersebut saya bingung juga. Saya bertanya-tanya dalam batin: “Siapakah tokoh Nyai Gadhung Melati. Pada masa kapan beliau hidup?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya buka-buka buku “Babad Sunan Tembayat’, di situ juga disebutkan nama Kyai Gadhung Melathi dan Nyai Gadhung Melati, begitu pula Kyai Malanggati serta lainnya merupakan murid Sunan Tembayat. Hah, cerita-cerita sana sini memang macam-macam. Konon pula, Kyai Gadhung Melathi dan Nyai Gadhung Melati hidup pada zaman Kerajaan Islam Pajang. Ada pula yang menyatakan bahwa “Gadhung Melathi” merupakan nama perguruan atau paguyuban ilmu kaweruh pada masa Kerajaan Islam Pajang hingga Mataram.
Ah, bingung?. Tak perlu dibuat bingung. Yang penting belajar dan terus belajar. Terus saja mencari tahu dan mencari tahu di samping mempelajari hal lain yang lebih penting untuk kehidupan masa kini. Ah, itu masa lampau?. Biarlah menjadi sejarah masa lampau. Ah, tidak!. Tak ada ruginya bila aku juga mempelajari hal tersebut. Baik hal itu hanya sebuah mitos maupun sejarah nyata atau sebutan lainnya. Ah, biarlah. Yang penting selalu berproses. Belajar dan terus belajar”, kata saya dalam hati. “Ya Tuhan, tambahkanlah saya ilmu pengetahuan, Rabbii zidnii ilma’’, dalam batin saya selalu berdoa. Semoga Tuhan mengabulkan doa saya. Amiin Yaa Rabbal Alamiin.
Menelusuri Petilasan Nyai Gadhung Melathi Bendelonje, Talun
Pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016, saya pergi ke rumah Kang Rofik, yakni kawan ngaji kitab di Pondok Pesantren Miftahul Huda Sekardangan-Blitar, yang bermukim di desa Centong, Sawentar, Blitar. Biasanya, kalau saya ke tempat Kang Rofik pasti membaca buku-buku di perpustakaan pribadinya. Namun, sesampai saya di kediaman Kang Rofik Centong, dia ternyata tidak ada. Lalu saya teruskan perjalanan ke desa Bendelonje, Talun, Blitar untuk melihat-lihat dan menelusuri jejak cikal bakal desa tersebut yang bernama Nyai Gadhung Melathi.
Wah, ternyata bangunan petilasan Nyai Gadhung Melati di desa Bendelonje, Talun, Blitar dibangun mirip sebuah pengimaman masjid. Tampak pula, pelatarannya juga kelihatan bersih. Walau ada sisa-sisa makanan yang dikerubung semut, namun tak seberapa. Kayaknya, warga dusun Bendelonje, Talun, Blitar, baru saja mengadakan bersih desa di tempat tersebut. Atau mungkin acara yang lainnya.
Sebenarnya, saya ingin bertanya-tanya kepada warga desa tersebut. Tapi, saya lihat ke kanan dan ke kiri, tak ada manusia sama sekali. Lebih jauh dari itu, saya sebenarnya ingin tahu lebih banyak kisah tokoh Nyai Gadhung Melathi tersebut. Akhirnya, saya cumak bisa memotret petilasan Nyai Gadhung Melati di desa Bendelonje, Talun, Blitar, kemudian langsung menuju rumah Bapak Bambang Tumpang, Talun, Blitar, untuk melihat-lihat siapa tahun Azzam ada di sana. Berikut petilasan Nyai Gadhung Melathi di desa Bendelonje, Talun, Blitar, yang berbentuk seperti pengimaman masjid atau mushalla:

Petilasan Nyai Gadhung Melathi (cikal bakal desa Bendelonje, Talun, Blitar) yang dibentuk mirip pengimaman masjid atau mushalla.

Akhirnya, mudah-mudahan catatan harian (cahar) ini menambah wawasan bagi saya pribadi dan lainnya. Mudah-mudahan pula, saya diberi tambahan ilmu-ilmu yang bermanfaat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan mudah semuanya. “Allohumma barik lanaa fi diininaa wa dunyanaa wa ukhronaa” (Ya Allah, berkahilah saya dalam agama saya, di dunia saya, dan di akhirat saya). Wassalam. Tulisan melepas lelah, oleh: Arif Muzayin Shofwan. Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos. 66171. HP. 085649706399.

Kamis, 18 Agustus 2016

KISAH KYAI IMAM HAMBALI ARIFIN: PENDIRI DZIKRUL FATIHIN (PAKISREJO, SRENGAT, BLITAR)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kyai Imam Hambali Arifin merupakan seorang ulama ahli tasawuf pendiri Majelis Dzikrul Fatihin yang bermukim di Pakisrejo, Srengat, Blitar. Beliau merupakan seorang ulama yang memiliki hobi berziarah ke makam-makam para ulama, auliya, dan semacamnya. Beliau merupakan murid Kyai Raden Abdul Fattah Pondok Pesantren Menara Al-Fattah, Mangunsari, Tulungagung, Jawa Timur.
Setelah Kyai Imam Hambali Arifin menyelesaikan studi di Pondok Pesantren Menara Al-Fattah dibawah bimbingan Kyai Raden Abdul Fattah Mangunsari-Tulungagung, beliau kemudian mengembara dan melakukan riyadhoh-riyadhoh di “Makam Auliya Batu Ampar”, Sampang-Madura selama 20 tahun. Konon yang banyak beliau makan selama 20 tahun di areal makam tersebut adalah buah Bentis (buah Pace) yang baunya sangat menusuk hidung.
Dikisahkan pula bahwa Kyai Imam Hambali Arifin pergi dari Srengat-Blitar ke “Makam Auliya Batu Ampar”, Sampang, Madura, hanya dengan berjalan kaki. Kemudian, setelah 20 tahun di Sampang-Madura, lalu beliau pulang ke Pakisrejo-Srengat-Blitar pun juga dengan berjalan kaki. Makanya, Kyai Imam Hambali Arifin selalu menganjurkan santri-santrinya apabila ke Batu Ampar (Sampang-Madura) hendaknya berjalan kaki dan diniati riyadloh atau tirakat.
Sesampai di Srengat-Blitar, Kyai Imam Hambali Arifin kemudian membuka sebuah pengajaran pendidikan Islam yang lebih ditekankan pada ilmu tasawuf kepada para santri dan warga sekitar. Selain itu, Kyai Imam Hambali Arifin juga mengembangkan bacaan-bacaan amalan “Dzikrul Fatihin” yang berisi lafadz-lafadz dzikir sebagai berikut:
1.    Surat Al-Fatihah 41x (empat puluh satu kali)
2.    Surat Al-Ihlas 11x (sebelas kali)
3.    Surat Al-Falaq 11x (sebelas kali)
4.    Surat An-Nass 11x (sebelas kali)
5.    Istighfar 100x (seratus kali)
6.    Shalawat Nabi 100x (seratus kali)
7.    Tasbih 100x (seratus kali)
8.    Tahmid 100x (seratus kali)
9.    Takbir 100x (seratus kali)
10. Tahlil 100x (seratus kali)
11. Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka Innii Kuntu Minad Dholimin 100x (seratus kali)
12. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah 100x (seratus kali)
13. Laailahaillallh Al-Malikul Haqqul Mubin, Muhammadur Rasulullah Shodiqul Wa’dil Amiin 100x (seratus kali)
14. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim 100x (seribu kali)
Biasanya, bacaan Dzikrul Fatihin tersebut dibaca bersama-sama jama’ah di kediaman tempat pengajaran agama Islam di musholla Kyai Imam Hambali Arifin sendiri. Namun terkadang bacaan-bacaan Dzikrul Fatihin di atas, dibaca bersama rombongan jamaah dalam areal makam-makam para ulama dan wali, di antaranya: di Makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purokerto, Srengat, Blitar; di areal Makam Mbah Abu Hanifah dan Mbah Hasan Ali, yakni berada di Puncak Gunung Tumpuk, Srengat, Blitar; di areal Makam Mbah Ahmad Cimande yang berada di Kunir, Wonodadi, Blitar; dan tempat-tempat lainnya.
Konon, ketika orang-orang di Blitar akan berziarah ke Batu Ampar (Sampang, Madura), maka Mbah Kyai Dimyati bin Hasbulloh (Baran, Selopuro, Blitar) selalu kirim salam kepada Kyai Imam Hambali Arifin. Kata Mbah Kyai Dimyati bin Hasbulloh Baran: “Salamku yo, ning wong sing biasane ngaji ning ngisore Al-Qur’an ning Batu Ampar ko Srengat-Blitar kae” (Salam saya ya, buat orang yang biasanya duduk mengaji dibawah rak Al-Qur’an yang ada di Batu Ampar dari Srengat-Blitar itu). Berikut foto “Makam Auliya Batu Ampar”, di mana Kyai Imam Hambali Arifin melakukan tirakat dan riyadhah selama 20 tahun.

Makam Auliya Batu Ampar Sampang Madura di mana Kyai Imam Hambali Arifin Pakisrejo-Srengat-Blitar bertirakat (melakukan zikir dan wirid) selama 20 tahun.

Saya pernah diajak Bapak Jawoko (Jatimalang-Blitar) sowan kepada Kyai Imam Hambali Arifin di Pakisrejo, Srengat, Blitar. Dari sowan tersebut, Kyai Imam Hambali Arifin berpesan: “Sing okeh lek moco sholawat” (Yang banyak kalau membaca shalawat), dan kata-kata tersebut selalu diulang-ulang. Adapun ciri khas Kyai Imam Hambali Arifin ketika menerima tamu adalah: beliau selalu saja mengucapkan “Alhamdulillah”, artinya segala puji hanya milik Allah semata. Berikut adalah foto Bapak Jawoko (Jatimalang-Blitar) ketika sowan kepada Kyai Imam Hambali Arifin (Pakisrejo-Srengat-Blitar).

Bapak Jawoko Jatimalang-Blitar ketika sowan kepada Kyai Imam Hambali Arifin Pakisrejo-Srengat-Blitar

Selain itu, ada banyak kitab-kitab bernafaskan agama Islam yang sempat saya potret di musholla kediaman Kyai Imam Hambali Arifin yang sering digunakan mengaji para santrinya dan warga sekitar. Ada kitab Sullam Taufik, Kitab Taqrib, Kitab Minhajul Abidin, Kitab Bidayatul Hidayah, Kitab Ihya’ Ulumuddin dan lain sebagainya. Konon ada beberapa kiai yang menjadi badal (pengganti) Kyai Imam Hambali Arifin dalam mengajarkan pelajaran agama, salah satunya adalah Kyai Haji Roihan Gempolkenceng, Srengat, Blitar. Berikut adalah sebagian kitab-kitab yang saya potret dari kediaman Kyai Imam Hambali Arifin.

Beberapa kitab yang digunakan ngaji oleh para santri Kyai Imam Hambali Arifin Pakisrejo-Srengat-Blitar

Demikian sekelumit kisah Kyai Imam Hambali Arifin yang bisa saya tuliskan dalam catatan harian (cahar) ini. Terima kasih kepada Bapak Jawoko yang mengajak saya sowan kepada Kyai Imam Hambali Arifin. Terima kasih kepada Bapak Jawoko yang telah mentraktir saya Rujak Petis dan Es Buah setelah sowan. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu membalas kebaikan Bapak Jawoko tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin-Amin-Amin Yaa Robbal Alamin. Penulis: Arif Muzayin Shofwan. Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Kode Pos. 66171. HP. 085649706399.

SEKELUMIT KISAH PETILASAN JATI KURUNG KANIGORO, MAKAM SENTONO BANGGLE, KUBUR DOWO TLOGO, HINGGA DUSUN SEKARDANGAN-BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Istilah “Makam Sentono” diartikan sebagai makam keluarga istana/kraton. Di daerah Blitar, terdapat beberapa makam yang disebut sebagai “Makam Sentono” atau makam keluarga istana/kraton. Biasanya, di mana ada makam yang disebut “Makam Sentana”, maka di tempat tersebut dulunya ada sebuah pemerintahan setingkat kabupaten (yang dipimpin oleh bupati) atau kadipaten (yang dipimpin oleh adipati). Misalnya, makam Sentono Boto Putih Surabaya, Makam Sentono Bathoro Kathong Ponorogo, Makam Sentono Gedong Kediri, Makam Sentono Pangeran Sumendi Jetis-Ponorogo, dan lain sebagainya. Adapun makam yang disebut sebagai “Makam Sentono” di kabupaten Blitar, di antaranya:
Pertama, Makam Sentono Lodoyo Blitar: merupakan tempat pemakaman para keluarga istana/kraton pada masa pemerintahan kadipaten Lodoyo, Blitar. Ada beberapa keluarga kraton/istana yang dimakamkan ditempat tersebut, di antaranya: (1) Habib Al-Kamal/ Ki Ageng Imam Sampurno yang merupakan penasehat kerajaan Surakarta; (2) Prabu Joko/ Pangeran Prabu yang merupakan putra Kraton Surokarto sekaligus pembawa Gong Kyai Pradah; (3) Ki Ageng Ronggo Lodoyo/ Kiai Muhammad Badri seorang wedono Lodoyo; (4) Raden Sutojoyo/ Ki Ageng Sutojoyo yang merupakan cikal bakal desa Sutojayan, Lodoyo; (5) Dzurriyah/putra wayah Sultan Abdul Hamid/Pangeran Diponegoro; (6) Keturunan Sunan Tembayat Klaten-Jawa Tengah, di antaranya; Kyai Ragil Siddiq, Mbah Boinem dan lain sebagainya.
Kedua, Makam Sentono Banggle, Kanigoro, Blitar. Makam Sentono Banggle ini diyakini sebagai peninggalan pada saat Kanigoro masih menjadi sebuah kadipaten yang dipimpin oleh Ki Kebo Kanigoro (Kyai Purwoto Siddiq Banyubiru/ Kyai Siddiq Urip). Adapun petilasan rumah (kadipaten Kanigoro masa lampau) yang dulu ditempati Ki Kebo Kanigoro, Nyai Kardinah (Nyi Gadhung Melati) istrinya, Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce/ Rara Sari Onche) hingga kini sering disebut “Petilasan Jati Kurung” Kanigoro. Disebut demikian, sebab dahulu ada Pohon Jati yang dulu dikurung pagar berada di sebelah Timur POM Bensin Kanigoro, jarak 150 meteran, bagian Utara jalan. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru atau Kiai Siddiq Urip) inilah yang menjadi peletak dasar berdirinya Kadipaten Kanigoro di era Kerajaan Islam Pajang-Mataram.
Dahulu, Pohon Jati itu ditanam ditempat tersebut berfungsi sebagai monumen peringatan bahwa di tempat tersebut pernah menjadi petilasan rumah Ki Kebo Kanigoro dan keluarganya. Tentu saja, pohon Jati itu ditanam oleh orang-orang generasi setelahnya yang berfungsi sebagai “tetenger” untuk mengenang tokoh yang cikal bakal pendiri Kadipaten Kanigoro yang kekuasaannya berhubungan erat dengan Kerajaan Islam Pajang. Karena Kerajaan Islam Pajang tak bertahan lama (yakni hanya satu raja yang berkuasa, adalah Joko Tingkir), maka kelanjutan sejarah kisahnya tidak bisa eksis seperti kadipaten-kadipaten lainnya era Zaman Kerajaan Mataram yang memang kekuasaannya bertahan cukup lama.
Selanjutnya, ada beberapa makam kuno/lama yang berada di “Makam Sentono” Banggle, Kanigoro, Blitar. Dari beberapa wawancara yang saya lakukan, di makam tersebut disemayamkan Raden Aryo Sentono, yakni seorang tokoh yang diyakini keturunan dari keluarga Kadipaten Kanigoro masa lampau. Ada lagi sebuah makam yang disebut “Makam Mbah Buddho”, yakni sebuah makam yang konon banyak digunakan sebagai ritual menarik jimat-jimat kuno, seperti: batu akik, cacing kanil, wesi kuning, semar mesem, dan semacamnya. Selanjutnya, ada pula beberapa makam kiai beserta keluarganya dan warga sekitar yang dimakamkan di areal makam Sentono tersebut. Bisa disebutkan salah satu kiai ahli zikir pecinta tasawuf Imam Al-Ghozali yang dimakamkan di areal Makam Sentono Banggle, yaitu: Kyai Muhyiddin As-Shoffari dan beberapa kerabat serta kyai-kyai lainnya.
Kembali lagi ke kisah Ki Kebo Kanigoro, sang peletak dasar berdirinya Kadipaten Kanigoro, Blitar. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Siddiq Banyubiru) merupakan saudara Ki Kebo Kenongo/ Ki Ageng Pengging II (ayah Joko Tingkir, sang pendiri Kerajaan Islam Pajang). Beliau merupakan cucu Raja Brawijaya V dari putrinya yang bernama Ratu Pambayun (istri Adipati Handayaningrat). Dalam beberapa literatur, saudara Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru) di antaranya: (1) Ki Kebo Kenongo;(2) Ki Kebo Amiluhur; (3) Ki Kebo Sulastri; (4) Raden Ayu Retno Pandang Kuning; dan (5) Raden Ayu Retno Pandang Sari. Apabila silsilah nasab Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru) dari pihak ibu masih bersambung dengan Raja Majapahit, maka dari pihak ayah masih bersambung dengan Nabi Muhammad SAW. Berikut silsilah Ki Kebo Kanigoro dari pihak ayah:
Nabi Muhammad SAW Sayyidah Fathimah Az-Zahra Al-Imam Sayyidina Hussain Al-Imam Ali Zainal Abidin Al-Imam Muhammad Al-Baqir Al-Imam Ja’far As-Sodiq Al-Imam Ali Uradhi . Al-Imam Muhammad An-Naqib . Al-Imam Isa Naqib Ar-Rumi Al-Imam Ahmad al-Muhajir Al-Imam Ubaidillah Al-Imam Alawi Awwal Al-Imam Muhammad Sohibus Saumi’ah Al-Imam Alawi Ats-Tsani Al-Imam Sayyid Ali Kholi’ Qosim Al-Imam Muhammad Sohib Mirbath Al-Imam Alawi Ammil Faqih Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan Sayyid Abdullah Azmatkhan As-Sayyid Ahmad Shah Jalal As-Sayyid Asy-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini Syarif Muhammad Kebungsuan (Adipati Handayaningrat/ Ki Ageng Pengging Sepuh)  Ki Kebo Kanigoro (Kiai Siddiq Urip/ Kiai Buyut Banyubiru).
Berdasarkan kedua silsilah nasab tersebut, dapat dipahami bahwa Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru/ Kyai Siddiq) memiliki darah Jawa-Arab atau Arab-Jawa. Darah Jawa, Ki Kebo Kanigoro mewarisi darah Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) melalui putrinya Ratu Ayu Pambayun. Sementara dari darah Arab, Ki Kebo Kanigoro mewarisi darah Sayyid Jumadil Kubro/ Syarif Muhammad Kabungsuan/ Adipati Handayaningrat.
Konon, Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru/ Kyai Siddiq) inilah yang dahulu mengarahkan Joko Tingkir untuk mendirikan sebuah kerajaan Islam Pajang. Selain itu, Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru) juga dianggap sebagai guru spiritual Joko Tingkir (Sayyid Abdurrahman).
Oleh karena runtuhnya Kerajaan Islam Pajang (akibat rentetan politik Kerajaan Demak, Pajang, hingga Mataram) menyebabkan Ki Kebo Kanigoro kembali ke dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo hingga wafat. Ada banyak petilasan Ki Kebo Kanigoro dalam pengembaraan tersebut. Konon dusun Sekardangan yang letaknya sekitar tiga kilometer dari Kadipaten Kanigoro merupakan tempat terakhir Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru/ Kyai Siddiq) ketika melakukan perjalanan kembali ke Sukoharjo-Jawa Tengah (para sesepuh Sekardangan sering menyebutnya “kembali ke Solo”).
Bahkan ketika Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru) kembali ke Sukoharjo, istri dan anaknya yakni: Nyai Kardinah (Nyi Gadhung Melati) dan Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce [sesepuh Sekardangan menyebutnya Rara Sari Onche]) masih tetap berada di dusun Sekardangan. Hingga dua tokoh ini akhirnya, melahirkan sejarah dusun yang disebut “Dusun Sekardangan”, yakni sebuah dusun yang sangat asri, sejuk, dan hening; dilingkupi/ dibatasi/ dilingkari oleh sungai-sungai yang jernih sehingga nyaman untuk semedi (meditasi; tafakkur; bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa); dan lain sebagainya.
Setelah menandai berdirinya dusun Sekardangan, akhirnya pada tahun 1621 kedua tokoh perempuan tersebut (yakni; Nyai Kardinah/ Nyi Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok) kembali menyusul Ki Kebo Kanigoro (Kyai Buyut Banyubiru) yang sudah lebih dulu kembali ke Sukoharjo-Jawa Tengah. Setelah kedua tokoh tersebut wafat, jasadnya dimakamkan di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo-Jawa Tengah. Yakni, tempat di mana jasad Kyai Buyut Banyubiru (Ki Kebo Kanigoro) dimakamkan.
Kata Kiai Zainuddin Dasuqi: “... mbahe wedok ndisik mulih ning Jawa Tengah karo anake wedok bar lungo soko Malang kono critane...Mbuh critane wong-wong ndisik ngono kuwi....” Kata Mbah Bayan Mayar: “...lek bapakku ndisik (Mbah Markalam; pen) lan wong tuwek-tuwek ndisik, kuwi critane mbahe wedok ndisik mbalik maneh karo anake wedok ning Solo... Yen critane wong-wong tuwek ndisik, anake mbah wedok sing jenenge Sari Once (Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok; pen) kuwi kereng lan disiplin....”. Kata Mbah Gunawan: “.... Kanigoro kuwi jenenge uwong.... ndisik critane Mbah Kanigoro (Ki Kebo kanigoro; pen) kuwi yo tau manggon ning petilasan Sekardangan kidul kono kae... Makane sing tau ning kono iku ora mung wong siji-loro thok...” Kata Mbah Gatot menguatkan: “.... Enenge Kecamatan Kanigoro kuwi yo didekne karo Adipati Ki Kebo Kanigoro Gus... Jaman kerajaan Pajang-Mataram... Joko Tingkir kae lho... Makame keluargane ndisik yo ning Makam Sentono Banggle kono kae Gus... Makam Sentono Banggle kae peninggalan jaman kerajaan Islam Demak-Pajang-Mataram... Ngono lho....” Begitulah sekelumit wawancara dari beberapa sesepuh.
Berdasarkan uraian di atas, maka tak heran bila banyak dusun di sekitar wilayah kecamatan Kanigoro-Blitar dan sekitarnya diresmikan oleh tiga tokoh tersebut, yakni Ki Kebo Kanigoro, Nyai Gadhung Melati (Nyai Kardinah), dan Rara Sekar Rinonce (Rara Sari Onche/ Rara Tenggok). Desa Gogodeso yang ada di kecamatan Kanigoro misalnya sering dinisbatkan bahwa yang cikal-bakal dusun tersebut adalah Mbok Rara Sari Onche (Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok). Desa Kuningan, selain cikal-bakalnya dinisbatkan pada Ki Ageng Kuning dan Mbok Rondo Kuning, juga dinisbatkan kepada Nyai Gadhung Melati (Nyai Kardinah) sebagai orang yang meresmikan desa tersebut. Desa Centong misalnya, selain Mbok Sri Penganti (yang makamnya berada di dalam areal makam umum desa Centong), maka Nyai Gadhung Melati oleh para sesepuh juga sering disebut-sebut tokoh yang meresmikan keberadaan desa tersebut.
Selain itu, ada banyak lagi tempat persinggahan Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok) dalam berbagai perjalanannya hingga oleh masyarakat tempat singgah tersebut diabadikan sebagai “Monumen Petilasan” yang kadang pula lazim dijadikan sebagai “Sadranan” warga desa. Di daerah Maliran-Ponggok-Blitar juga ada petilasan singgah Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce yang dibangun mirip makam. Di utara pasar Kademangan, juga terdapat petilasan Nyai Gadhung Melati dan Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce) yang berada dekat musholla. Di daerah Dayu-Ponggok-Blitar, juga terdapat perilasan Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce yang sudah menjadi perumahan warga desa. Di desa Delonje-Talun, juga terdapat petilasan Nyai Gadhung Melati yang berada di tengah persawahan penduduk. Di daerah Genjong-Wlingi juga terdapat petilasan Nyai Gadhung Melati dan Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce).
Di daerah Selokajang-Srengat-Blitar, juga ada petilasan Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok) tepat di utara Sumber Kucur-Selokajang. Di Selokajang-Srengat-Blitar ini, yang sering disebut cikal bakal desa ada empat orang, yaitu: (1) Nyai Gadhung Melati; (2) Mbah Sampir; (3) Mbah Kyai Abu Hanifah; (4) Mbah Kyai Hasan Ali yang konon kadang disebut Ki Ageng Selo. Begitu pula, di Batu-Malang juga ada petilasan Nyai Gadhung Melati dan Eyang Singo. Jadi, memang perlu kajian lagi yang lebih mendalam siapakah tokoh Nyai Gadhung Melati dan Rara Sekar Rinonce (Rara Tenggok/ Rara Sari Onche) yang sering disebut-sebut sebagai cikal-bakal desa dan dusun yang banyak tersebar di wilayah kecamatan Kanigoro hingga kabupaten Blitar.
Kembali ke kisah Makam Sentono Banggle. Konon pula, pada masa-masa Kerajaan Mataram (yakni setelah masa Kerajaan Islam Pajang berakhir pada tahun 1586 masehi), terlebih pada masa abad ke-17, sisa-sisa keturunan tokoh yang berada di “Makam Sentono Banggle” banyak yang berhubungan dekat dengan tokoh-tokoh yang dimakamkan dalam areal “Makam Kubur Dowo” Tlogo, Kanigoro, Blitar, yang kebanyakan berasal dari Mataram-Jawa Tengah. Konon, kubur dowo di Tlogo yang panjangnya kurang lebih lima meter tersebut bukan berisi jasad manusia. Akan tetapi berisi jimat-jimat pada masa Kerajaan Mataram yang dibawa tokoh-tokoh abad ke-17-an. Di antara yang ditanam/dikubur di dalam kubur dowo tersebut adalah: tombak, keris, cacing kanil, wesi kuning, dan berbagai macam azimat. Beberapa tokoh Islam yang dikubur dalam areal “Makam Kubur Dowo Tlogo”, di antaranya: Mbah Kyai Reso Wijoyo, Mbah Kyai Ponco Wijoyo, Mbah Kyai Haji Abu Bakar (ulama pertama desa Tlogo), Mbah Kyai Baghowi, Mbah Kyai Sibaweh (murid Kyai Muhammad Sholeh Kuningan), Mbah Kyai Mujab Masyhud (ahli azimat), Mbah Kyai Mahfud dan lain sebagainya.
          Semoga sekelumit kisah tutur tinular wawancara dari para sesepuh ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga tulisan ini bisa menyambung tali silaturrahim bagi kita semua. Amin. Akhirnya, saya patut berterima kasih kepada para sesepuh diantaranya; Mbah Kiai Zainuddin Dasuki, Mbah Bayan Mayar, Mbah Gatot, Mbah Malik, Mbah Sangidu, Mbah Jawoko, Mbah Jazuli, Mbah Gunawan, Mbah Agung, Mbah Tsabit, Mbah Yahdi dan beberapa tokoh lain yang bisa saya ajak bicara; yang bisa saya dapatkan informasinya mengenai petilasan-petilasan dan sejarah-sejarah seputar dusun Sekardangan hingga kecamatan Kanigoro dan kabupaten Blitar. Mohon maaf bila tulisan penelitian ini ada yang kurang tepat. Terima kasih. Penulis: Arif Muzayin Shofwan. Alamat: Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09, Papungan, Kanigoro, Blitar. Kode Pos 66171. HP. 085649706399.
Petilasan Jatikurung yang merupakan tanda petilasan Ki Kebo Kanigoro, Nyai Gadhung Melati (Nyai Kardinah), Rara Tenggok (Rara Sekar Rinonce/ Rara Sari Onche) di Kanigoro-Blitar.

 
Salah satu Situs "Makam Sentono Banggle" yang sering dianggap peninggalan Ki Kebo Kanigoro, Nyai Gadhung Melati, dan Rara Sekar Rinonce, berjarak 1,5 KM ke Utara dari Petilasan Jatikurung Kanigoro-Blitar.