Rabu, 02 Juli 2014

NYI GADUNG MELATI: BABAT DESA MALIRAN



Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedi Bebas, (http://id.wikipedia.org/wiki/Maliran,_Ponggok,_Blitar, diakses 01 Juli 2014)
Pendahuluan
Ada berbagai macam kisah tentang Nyi Gadung Melati. Di dusun Sekardangan, ada yang menceritakan bahwa cikal bakalnya bernama Nyi Gadung Melati (Nyi Sekardani atau Nyi Sekartaji). Menurut ahli silsilah Kejawen, Nyi Gadung Melati merupakan seorang tokoh yang paling banyak mbabat desa di daerah Blitar. Diantara kisah tersebut adalah Nyi Gadung Melati juga pernah mbabat desa Selokajang bersama Mbah Nyai Sampir, Mbah Kyai Abu Hanifah, Mbah Kyai Hasan, dan Mbah Kyai Ageng Selo.[1] Nyi Gadung Melati juga pernah mbabat desa Kademangan-Blitar, petilasannya berada dekat mushalla utara Kademangan. Nyi Gadung Melati juga mbabat daerah Rejotangan,[2] Bendelonje,[3] dan lain-lain.[4] Kisah lain menyatakan bahwa Nyi Gadung Melati berkaitan erat dengan Kyai Ageng Sukuh (pendiri candi Sukuh, Jawa Tengah; zaman Majapahit Akhir). Ada yang menceritakan Nyi Gadung Melati adalah istri Kyai Ageng Tunggul Wulung (seorang tokoh di jaman Majapahit dan pendiri dusun Dukuhan-Sendangagung-Minggir-Sleman). Tulisan ini mengungkap kisah Nyi Gadung Melati dalam membabat desa Maliran-Ponggok-Blitar. Disebutkan pula bahwa lurah pertama desa Maliran yang bernama Kyai Naya Manggala, diyakini oleh warga desa Maliran sebagai cucu Nyi Gadung Melati. Dengan demikian, tulisan ini untuk menambah “Khasanah Kisah” tentang Nyi Gadung Melati yang memang banyak versi tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkultuskan sebuah nama seseorang atau tokoh. Akan tetapi, tulisan ini dimaksudkan untuk menggugah hati kita agar tetap belajar dan terus belajar. Sehingga kita tak akan fanatik pada kisah tertentu yang dianggap paling benar. Dan yang penting adalah kisah ini untuk menggugah kita agar tetap menghormati “Tradisi Jawa” yang memang adiluhung.
Pembahasan
Perang Diponegoro
Penyebab Perang Pangeran Diponegoro adalah rasa tidak puas yang hampir merata di kalangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah Belanda, di wilayah Kesultanan Jogjakarta. Salah satu kebijakan pemerintah Belanda yang membuat Pangeran Diponegoro marah adalah pembangunan jalan raya yang menghubungkan Jogjakarta dan Magelang, di mana pembangunan itu melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Pangeran Diponegoro serta pasukannya mulai melakukan sebuah tindakan yang membuat pemerintah Belanda marah, yaitu dengan mengganti patok-patok pembuatan jalan dengan tombak. Meskipun demikian pemerintah Belanda tetap meneruskan pembuatan jalan tersebut. Pada akhirnya pasukan Diponegoro mulai menyerang pasukan belanda dengan bergerilya. Perang Pangeran Diponegoro berlangsung lima tahun, yaitu dari tahun 1825 sampai 1830. Sampai dengan tahun 1826, pasukan Pangeran Diponegoro berhasil memperoleh kemenangan dengan teknik perang gerilya. Untuk meredam perlawanan pasukan Diponegoro, pemerintah Belanda menerapkan Benteng stelsel (sistem perbentengan). Dengan demikian, daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro menjadi menyempit. Akhirnya pemerintah Belanda dapat menangkap Pangeran Diponegoro dengan tipu muslihat. Ia kemudian diasingkan ke Menado lalu dipindahkan di benteng Rotterdam di Makasar (Ujung Pandang). Diponegoro pun mati dalam pengasingannya pada tahun 1855, dengan demikian berakhirlah perang Diponegoro. Setelah perang berakhir para sisa prajurit Pangeran Diponegoro menyelamatkan diri dari pemerintah Belanda. Mereka bergerak dari daerah Jawa Tengah menuju berbagai daerah di Jawa Timur, mereka bersembunyi di hutan-hutan dan membuka lahan untuk dijadikan sebuah desa. Sebagian besar hutan-hutan yang dijadikan persembunyian para pasukan Pangeran Diponegoro terletak di daerah Kediri, Tulungagung, Blitar, dan daerah-daerah lain sekitarnya.
Terbentuknya Desa Maliran
Pada Tahun 1850, pasukan Pangeran Diponegoro datang di daerah hutan wilayah kota Blitar. Pasukan itu di bawah pimpinan Nyi Gadung Melati. Mereka memutuskan untuk menetap di sana dan mulai menebangi pohon yang ada di hutan untuk dijadikan sebuah pemukiman. Semakin lama pemukiman tersebut semakin meluas, banyak pendatang dari daerah lain yang tinggal di daerah itu. Pada suatu ketika, Nyi Gadung Melati melihat ada dua buah pohon jati yang kedua rantingnya saling bersinggungan dan mengakibatkan suara gesekan. Hal inilah yang membuat Nyi Gadung Melati memberikan nama daerah itu dengan sebutan “Jati Gerot”. Seiring berjalannya waktu, daerah Jati Gerot semakin meluas dan menjadi sebuah desa. Warga desa pun semakin menyebar ke berbagai daerah desa tersebut. Setelah 24 tahun, nama Jati Gerot semakin tidak dikenal dan bahkan sudah digantikan dengan nama baru. Pemberian nama baru atas daerah tersebut semata-mata diakibatkan oleh kegelisahan hati para pembuka desa, temasuk Nyi Gadung Melati. Daerah yang semula bernama “Jati Gerot” berubah nama mejadi Desa “Maliran” dengan lurah pertama Kyai Naya Menggala yang diduga merupakan generasi kedua keturunan Nyi Gadung Melati. Nama “Maliran” sendiri berasal dari keadaan alam daerah tersebut, yang selalu menghembuskan angin yang sejuk. Maka desa terebut diberi nama desa “Miliran” yang diambil dari kata “Sumilir”. Namun, memang dasar lidah orang Jawa, kata “Miliran” lambat laun luluh menjadi “Maliran”. Setelah Nyi Gadung Melati meninggal, warga setempat memakamkan jasadnya dan mengkramatkan kuburannya sebagai “Punden Nyi Gadung Melati”. Warga desa Maliran mempunyai jadwal dalam membersihkan Punden Nyi Gadhung Melati tersebut pada hari Jumat Legi.
Selanjutnya tentang tradisi pemilihan kepala desa Maliran pada umumnya adalah orang yang berasal dari dusun Maliran dan Glagah. Hal ini dikarenakan adanya tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh para pendahulunya dan karena orang dusun Maliran dan Glagah dianggap sebagai keturunan asli pendiri desa. Pada dasarnya tidak ada yang mengetahui secara pasti sejarah terbentuknya desa Maliran. Hal ini dikarenakan para sesepuh yang diyakini mengetahui sejarah desa Maliran secara pasti sudah meninggal. Namun masyarakat setempat menganggap ada beberapa orang yang mengetahui sedikit tentang sejarah desa Maliran. Berdasarkan berbagai keterangan tersebut dinyatakan bahwa, Nyi Gadung Melati adalah tokoh yang membuka lahan baru sebagai tempat pelarian dari pemerintahan Belanda. Adapun Nama-nama kepala desa Maliran yang pernah menjabat adalah: 1. Kyai Naya Menggala (1874-1879), diyakini warga desa Maliran  masih cucu Nyi Gadung Melati; 2. Mbah Rana Sentika (1880-1886); 3. Mbah Sokrama Tahun (1887- 1901); 4. Mbah Djoikrama (1902-1905); 5. Mbah Kasan Radji (1906-1908); 6. Mbah Djaya Marta (1909-1915); 7. Mbah Djaya Munawi (1916-1924); 8. Mbah Tani Medja (1925-1943); 9. Mbah Karta Miharja (1945-1949); 10. Mbah Amat Siyar (1950-1979); 11. Mbah Kusranan (1980-1999); 12. Bapak Darulin (1999-2007); 13. Bapak Sutoyo tahun : 2007-sekarang (2 periode).
Jangan pernah berhenti belajar!. Jangan pernah berhenti mencari ilmu!. Jangan pernah berhenti berusaha mewujudkan cita-cita! Ikutilah falsafah Jawa:
“Sopo Tekun, Mesti Tekan”
(Sebagaimana dikutip oleh: Mbah Mansyur Sekardiningrat)




[1] Selokajang-Srengat-Blitar.
[2] Tulungagung.
[3] Kendalrejo-Talun-Blitar.
[4] Ada yang menyatakan pernah mbabat di daerah Batu-Malang, ada yang menyatakan pernah mbabat di daerah utara Candi Penataran dan lain-lain.

3 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    BalasHapus
  2. saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m

    BalasHapus