Jumat, 09 Desember 2016

MBAH KYAI MASYKUR MUHAMMAD SANG MURSYID THARIKAH MAHABBAH, TAWANGSARI, GARUM, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

“Tulislah apapun yang bisa anda tulis, siapa tahu bermanfaat”
(Anonim)

Pertama kali yang mengajak saya ke kediaman Mbah Kyai Masykur Muhammad adalah Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang, Sekardangan, Kanigoro, Blitar. Yakni, sekitar tahun 1993, saya diajak Mbah Kyai Muhammad Sholeh Sekardangan berguru “Shalawat Trebang” ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) di kediaman Mbah Kyai Masykur Muhammad, Tawangsari, Garum, Blitar. Saya ingat, pertama kali saya belajar “mbawak” muhud Tanaqolta, Wulidal Habib, dan lain sebagainya. Pengajaran shalawat trebang ISHARI di kediaman Mbah Kyai Masykur Muhammad tersebut dilakukan setiap malam Jum’at. Ada banyak kawan yang belajar dan mondok di tempat beliau, di antaranya: Cak Muhtadi, Cak Ghoffar, dan lain sebagainya yang saya juga sudah banyak yang lupa nama satu-persatu. Adapun tharikah Mahabbah yang dikembangkan oleh Mbah Kyai Masykur Muhammad berasal dari Mbah Kyai Abdurrahim yang merupakan kakek beliau. Berikut beberapa filosofi tharikah Mahabbah yang dilakukan ISHARI dari Para Masyayih Tharikah Mahabbah.

Tharikat Mahabbah Mbah Kyai Masykur Muhammad dan Masyayikh

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa metode dakwah yang digunakan ISHARI adalah melalui “thariqah mahabbaturrasul” (metode cinta Rasul). Di samping sebagai metode berdakwah, thariqah mahabbaturrasul juga dipakai sebagai jalan atau cara yang sistematis untuk menuju ke hadhirat Allah dan Rasul-Nya di lingkungan ISHARI. Thariqah mahabbah ini didasarkan pada syair ISHARI yang berjudul “Anta Hadhir”, yang di dalamnya terdapat ungkapan “al-mahabbah hiya diinii” (cinta Allah & Rasulullah adalah jalanku).[1] Dalam hal ini penulis pernah mendengar keterangan dari Mbah Kyai Masykur Muhammad (pemuka ISHARI Blitar) pada tahun 2006, ketika shalawatan hadrah(ISHARI) di masjid Baitul Makmur, Sekardangan, Kanigoro, Blitar, bahwa thariqah mahabbah ini sebenarnya sudah banyak dilaksanakan oleh para ahli tasawwuf seperti Rabi’ah al-Adawiyah, dan lain-lainnya.

Dalam pandangan tasawuf, mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaanhal, sama dengan taubat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqam, karena mahabbah pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal, kaum sufi menyebutnya sebagai “anugerah tertinggi”.[2]Rabi’ah al-Adawiyah dianggap sebagai seorang sufi yang meletakkan dasar cinta (al-mahabbah) sebagai jalan menuju Tuhannya. Adapun di antara syair Rabi’ah yang menunjukkan cinta kepada Allah adalah: “... bahwa saya menyembah-Nya karena rindu dan cinta kepada-Nya”.[3] Dalam hal ini, Hamka sebagaimana dikutip Toriquddin pernah mengatakan: “Cinta murni kepada Tuhan, inilah puncak tasawuf Rabi’ah. Pantun-pantun kecintaan pada Ilahi, yang kemudian banyak keluar dari ucapan sufi yang besar sebagaimana Fariduddin al-Athar, Ibnu Faridh, al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain, telah dimulai lebih dahulu oleh Rabi’ah.”[4]

Dakwah ISHARI melalui thariqah mahabbah(cinta Rasul) didasarkan pada hadist yang diriwayatkan Anas dari Rasulullah saw: “Ada tiga hal yang dengannya, seseorang akan merasakan manisnya iman, yaitu 1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selainnya; 2) hendaknya seseorang mencintai seseorang hanya karena Allah; 3) hendaknya seseorang benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana dia benci untuk dimasukkan ke dalam neraka.”[5]Thariqah mahabbah dalam ISHARI mengajarkan cinta kepada Allah dan Rasulullah saw melalui bacaan Kitab Maulid Syaraf al-Anam dan syair-syair shalawat yang ada di dalam Kitab Diwan Hadrah.

Dalam amaliyah “thariqah mahabbaturrasul” organisasi ISHARI, ada beberapa hal yang dilakukan para pengikutnya untuk mengekspresikan cintanya kepada Allah dan Rasulullah. Pertama, mengenai bacaan shalawat yang dilantunkan oleh organisasi ISHARI. Hal ini ada dua kitab sebagai pegangan yaitu; 1) Kitab Maulid Syaraf al-Anam sebagai sumber bacaan utama; 2) Kitab Diwan Hadrah sebagai sumber bacaan mengenai syair-syair yang digunakan untuk jawaban, sambil melakukan tarian raddat.[6]Sementara dalam Kitab Maulid Syaraf al-Anam berisi bacaan yang berupa “syair” dan “natsar”. Pemimpin bacaan “syair” disebut Hadi (Guru Hadi/Badal Hadi), sedangkan seorang yang membaca “natsar” disebut Rawi (pembaca riwayat Nabi Muhammad saw).

Kedua, mengenai irama bacaan syair dalam lingkungan ISHARI. Hal ini ada tiga jenis yaitu; 1) Irama Juz, dimana syair mengikuti irama dua kali, dua ketukan tangan dengan tempo agak lambat secara terus menerus sampai tuntas, “tak-dik, tak-tak”. Penamaan “Juz” berati bagian, yang maksudnya bahwa dua kali, dua ketukan ini mempunyai filosofi yang sangat unik. Yakni untuk mengingat dua kalimah syahadat yang mana tidak boleh pisah dari seorang yang beriman.[7] 2) Irama Yahum, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan tangan dengan tempo lebih cepat dari irama juz sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Yahum” mengandung filosofi yang indah. Ia diambil dari kata “Ya Huwa” yang artinya “Dialah Tuhanku”.[8] 3) Irama Tareem, dimana syair mengikuti irama tiga kali ketukan dengan tempo sangat cepat sampai tuntas, “tak-dik-tak”. Penyebutan “Tareem” diambil dari kata “Tareem” yang merupakan nama kota di Yaman. Irama Tareem ada tiga yaitu; a. Tareem Inat (tak-tak-dik); b. Tareem Rojaz (dik-tak-tak-tak); dan c. Tareem Biasa (tak-dik-tak).[9]

Ketiga, posisi penabuh rebana (ad-duff) dalam lingkungan ISHARI. Posisi ditengah adalah Guru Hadi, disamping kanan Guru Hadi ada tiga orang penabuh rebana, dan di sampinh kiri Guru Hadi juga ada tiga orang penabuh rebana. Hal ini dalam kalangan ISHARI mengandung filosofi yang unik pula. Tiga penabuh rebana disamping kanan Guru Hadi menunjukkan “tiga pokok ajaran Islam”, yaitu Iman-Islam-Ihsan. Sementara tiga penabuh rebana disamping kiri Guru Hadi menunjukkan “tiga pokok ilmu dalam Islam”, yaitu Ilmu Tauhid-Ilmu Fiqih-Ilmu Tasawwuf.[10]

Keempat, irama syair dalam lingkungan ISHARI. Irama pukulan/ketukan dalam ISHARI bukan hanya sekedar irama pukulan/ketukan biasa. Akan tetapi irama pukulan/ketukan dalam ISHARI mengandung makna filosofis yang berfungsi sebagai “thariqah mahabbah” (metode/jalan cinta Allah & Rasulullah). Sehingga dalam hal ini, untuk menguasainya harus melalui bimbingan Guru Hadi. Adapun penjelasan filosofi ketukan tersebut adalah: 1) Irama pukulan Juz: berbunyi “tak-dik-tak” selaras dengan notasi Hu-All-Loh atau lafadz Mu-Ham-Mad; 2) Irama pukulan Yahum: merupakan simbol “Lailahaillallah” dan “Muhammadur-Rasulullah”. Dalam irama Yahum ada tiga notasi yang dipadukan yaitu, a. krotokan (wedokan), terdiri lima hentakan “taktak-taktak-dik” yang berarti pengamalan lima rukun Islam, b. penyela (tengahan), terdiri dari empat hentakan “tak-tak-tak-dik” yang bermakna sumber hukum Islam ada lima yaitu al-Qur’an, al-Hadist, al-Ijma, al-Qiyas, c. pengonteng (lanangan), terdiri dari tiga hentakan “tak-dik-tak” yang bermakna pokok ajaran Islam yaitu Tauhid, Fiqih, dan Tasawwuf. 3) Irama pukulan Tareem: secara umum arti filosofisnya sama dengan Yahum.[11]

Kelima, roddat. Istilah “roddat” berasal dari Bahasa Arab kata kerja rodda-yaruddu-roddan, yang berarti mengembalikan, membalas, dan menolak.[12] Ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang yang sedang roddat, yaitu: 1) membalas lantunan shalawat yang dikumandangkan oleh Guru Hadi; 2) melakukakan “raqs” (gerakan tarian khusus ISHARI); 3) melakukan “tashfiq” (tepuk tangan khusus ISHARI); 4) Melakukan “suluk” dalam istilah ahli tasawwuf, kalau dalam bahasa Jawa “sambat maring Gusti Alloh”. 

Adapun maksud dan tujuan raddat adalah: 1) gerakan dan tarian dalam raddat merupakan tasbih dan zikir kepada Allah; 2) melahirkan rasa senang dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad saw; 3) pada saat tepuk tangan [tashfiq] dimaksudkan melahirkan rasa suka cita akan kehadiran Nabi Muhammad saw di muka bumi ini; 4) Suluk kecil (sambat; Bahasa Jawa) dimaksudkan untuk bermunajat dan mengadu kepada Allah serta memohon syafaat Rasulullah saw.[13] Sementara dalam raddat menggunakan gerakan badan dibagi dua macam, yaitu: 1) raddat badan dengan mengikutsertakan anggukan kepala diserasikan dengan notasi rebana, mengilustrasikan penulisan lafadz “Allah”; 2) raddat badan dengan tarian tangan, mengilustrasikan penulisan lafadz “Muhammad”.[14] Demikian sekilas tharikah Mahabbah ISHARI yang sedikit saya pelajari dari Mbah Kyai Masykur Muhammad. Wallahu A’lam Bisshawab.


A healthy sense lies in a healthy body
(Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

 
Makam Mbah Kyai Masykur Muhammad Tawangsari, Blitar (www.inilahblitar.blogspot.com)


Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” (karena seringnya berkunjung ke pesarean-pesarean untuk mengkaji sejarah tokoh yang dimakamkan) tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.


[1] Miftahul Munir Abdullah, Raudhah al-Jannah, (Jombang: Lintas Media), hal. 139.
[2] Moh. Toriquddin, Sekularitas Tasawuf: Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern, (Malang: UIN Press, 2008), hal. 88
[3] Ibid, hal. 182
[4] Ibid, hal. 185. Lihat pula M. Jamil, Cakrawala Tasawuf, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), hal. 92-96.
[5] HR. Bukhari
[6] Muhammad Nuruddin Al-Fasuruwani, Al-Iqdu Al-Durar ..., hal. 5
[7] Ibid, hal. 5-6
[8] Ibid, hal. 6
[9] Ibid, hal. 6
[10] Ibid, hal. 6
[11] Ibid, hal. 7-8
[12] Ibid, hal. 8
[13] Ibid, hal. 8-9
[14] Ibid, hal. 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar