Rabu, 04 Januari 2017

BERZIARAH KE MAKAM-MAKAM WALIYULLAH JAWA TIMUR DAN WISATA BAHARI LAMONGAN (WBL)



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Kata guru saya:
“Menulislah! Sesederhana apapun tulisan itu.”
(Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.)

Setiap tahun, MI Miftahul Huda Papungan 01, Kanigoro, Blitar mengadakan ziarah Waliyullah Jawa Timur dan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Kali ini saya ingin menuliskan kegiatan yang diadakan tiap tahun oleh madrasah tersebut. Sebagai acara tahunan buat kelas 6 yang akan meninggalkan sekolah, tempat rekreasi yang menjadi tujuan selalu urut sebagai berikut; (1) Makam Sayyid Sulaiman Mojoagung, Jombang; (2) Makam Sayyid Jumadil Kubro Troloyo; (3) Makam Syaikhuna Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan, Madura; (4) Makam Sunan Ampel atau Raden Rahmatullah Surabaya; (5) Makam Sunan Giri atau Sultan Abdul Fakih Gresik; (7) Makam Sunan Gresik atau Syaikh Maulana Malik Ibrahim; (8) Makam Sunan Drajat atau Raden Qosim Lamongan; (9) Wisata Bahari Lamongan atau WBL; (10) Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim; dan (11) KH. Abdurrahaman Wahid atau Gus Dur “Sang Tokoh Pluralis dan Multikulturalis” yang hebat.

Sekali waktu ketika berziarah ke makam-makam tersebut saya tidak hanya mengikuti tradisi yang hanya melakukan “Ritual Tahlil dan Doa-doa” saja. Akan tetapi, lebih dari itu, yang sangat menarik bagi saya adalah “Studi Para Tokoh Waliyullah” yang banyak diziarahi tersebut. Sewaktu ziarah, seringkali saya mencuri waktu untuk mengamati makam-makam kuno lain yang berada di areal makam para tokoh waliyullah. Sesekali waktu saya juga harus bertanya-tanya kepada Sang Juru Kunci Makam mengenai riwayat para tokoh waliyullah ini dan itu. Bagi saya, Situs Makam Waliyullah bukanlah tempat bertakhayul, khurafat, dan bid’ah. Namun Situs Makam Waliyullah dapat digunakan sebagai studi sejarah, mempelajari kisah kesuksesan para tokoh dan kemudian mengambil yang baik-baik dari cerita atau kisah mereka.

Sewaktu saya memposting salah satu foto saya saat berada di Makam Sayyid Jumadil Kubro, Troloyo, Mojokerto, ada seorang teman yang mengingatkan pada saya:”Wahai kawan jadilah ahli bait Allah, bukan ahli bait kuburan. Mereka orang yang sudah meninggal bisa kita jadikan suri tauladan untuk menjadi ahli bait Allah. Menjadi ahli bait Allah (ahli rumah Allah), tentu saja hatinya digunakan untuk berdiam diri di dalam rumah Allah. Bukan berdiam diri di dalam kuburan-kuburan. Jadi kita boleh ke kuburan-kuburan para Waliyullah tetapi harus dengan niat mengkaji dan mempelajari yang mereka teladankan, bukan menyembah dan apalagi meminta agar dikabulkan doa pada mereka dan mengkultusakan mereka. Jadilah ahli bait Allah kawan, bukan ahli kuburan.” Hehehe, saya pikir juga ada benarnya apa yang dikatakan kawan di group tersebut.

Saya ingat, bahwa ahli bait Allah (ahli rumah Allah) akan selalu nyaman dan tenteram di dalam rumah-Nya, bukan di kuburan-kuburan. Dengan demikian, mungkin kita harus bisa memposisikan diri sebagai “ahli bait Allah” dan “ahli kuburan” manakala mempelajari kesuksesan para tokoh Waliyullah yang dimakamkan.  Jadi dalam hal ini saya harus bisa memposisikan menjadi dua hal berikut, yaitu: 

1.    Menjadi Ahli Bait Allah, yakni berusaha terus agar selalu nyaman dan tenteram berada di dalam rumah Allah. Ada ungkapan ahli tasawuf “Qolbul Mukmin Baitullah” artinya hati orang beriman adalah rumah Allah.

2.    Menjadi Ahli Kuburan, yakni ketika di kuburan tidak berbuat takhayul, khurafat, dan bid’ah. Akan tetapi pada saat di kuburan juga digunakan untuk studi kisah dan sejarah para Waliyullah atau tokoh yang dimakamkan.

Entah apa yang saya katakan di atas benar atau salah. Mudah-mudahan ada orang yang mengingatkan saya kalau hal di atas ternyata salah. Mudah-mudahan ada orang yang mengikuti jejak saya bila hal di atas ternyata benar. Bagi saya, yang terpenting adalah belajar dan terus belajar. Sebab ada ungkapan “Belajar itu dimulai dari ayunan hingga ke liang lahat.” Jadi, selama saya masih belum berada di liang lahat (dikubur seperti para Waliyullah yang saya ziarahi di atas), tentu saja saya harus tetap belajar dan terus belajar. Kalau mungkin saya sudah dikubur seperti para Waliyullah di atas, mungkin saya sudah harus berhenti belajar dan merdeka dari tuntutan belajar. Hehehe. Mengapa?. Ya saya renungkan aja terus. Ah, mungkin cukup sekian cahar saya kali ini. Ya Tuhan, berkahilah hamba-Mu ini. Perbaikilah akhlak hamba-Mu ini. Amin, amin, Ya Rabbal Alamin.

“If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)
 
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sayyid Sulaiman Jombang (Foto diambil oleh Ilma Nurul Fajri)
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sayyid Jumadil Kubro (Foto diambil Ilma Nurul Fajri)
 
Arif Muzayin Shofwan berada di Makam Sunan Ampel Surabaya (Foto diambil oleh Dimas)

Arif Muzayin Shofwan berada di depan Museum Sunan Drajat Lamongan
 

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang berbau kuburan, kijing, maesan, kembang boreh, kembang kanthil, kembang kenongo dan segala macam bau-bauan ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria yang yang sering dipanggil oleh Kyai Muhammad AP dengan sebutan “Ki Gadhung Melathi” atau “Mbah Pasarean” (karena seringnya berkunjung ke pesarean-pesarean untuk mengkaji sejarah tokoh yang dimakamkan) tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar